Sebelum Dimakamkan, Ray Sahetapy Disalatkan di Masjid Istiqlal, Mengapa?
redaksi - Sabtu, 05 April 2025 11:40
JAKARTA (Floresku.com) - Aktor senior Ray Sahetapy meninggal dunia pada 1 April 2025. Sebelum dimakamkan, jenazahnya terlebih dahulu disalatkan di Masjid Istiqlal, Sawah Besar, Jakarta Pusat.
Keputusan untuk menyelenggarakan salat jenazah di Istiqlal bukan sekadar pilihan, tetapi memiliki makna mendalam dalam perjalanan hidup sang aktor.
Ray Sahetapy pertama kali mengenal Islam secara mendalam pada tahun 1982, saat ia memutuskan untuk menjadi mualaf.
Prosesi masuk Islam tersebut dilakukan di Masjid Istiqlal, yang merupakan masjid terbesar di Asia Tenggara.
Anaknya, Raya Sahetapy, mengungkapkan bahwa keislaman sang ayah berawal dari peristiwa di Istiqlal sebelum menikahi ibunya, aktris Dewi Yull.
"Sebenarnya baru dapat info dari ibu (Dewi Yull), bahwa ayah itu mualaf pada 1982 sebelum nikah sama ibu. Dan kebetulan banget dimualafkan di Istiqlal,” ujar Raya di rumah duka RSPAD Gatot Subroto, Kamis 3 April 2025.
- Inspirasi Desa BRILiaN yang Layak Dicontoh, Desa Wunut Berhasil Bagikan THR Hingga Sediakan Jaminan Sosial
- Pesan Inspiratif: Silang Pendapat tentang Identitas Yesus
“Ya alhamdulillah, bisa di Istiqlal dan masuk Islam di Istiqlal kemudian ditutup juga di Istiqlal, alhamdulillah," tambahnya.
Keputusan keluarga untuk menggelar salat jenazah Ray di Istiqlal merupakan simbol penutupan perjalanan spiritualnya di tempat yang sama di mana ia memulai langkah barunya dalam Islam.
Masjid Istiqlal bukan sekadar tempat ibadah, tetapi juga memiliki sejarah panjang sebagai simbol kebebasan dan persatuan. Istiqlal, yang berarti “kemerdekaan” dalam bahasa Arab, didirikan untuk merayakan kemerdekaan Indonesia dan menjadi lambang toleransi beragama di tanah air.
Bagi Ray Sahetapy, masjid ini menjadi bagian penting dalam perjalanan hidupnya.
Setelah menjadi mualaf, ia menjalani kehidupan sebagai seorang muslim dengan penuh keyakinan, meskipun tetap dikenal sebagai sosok yang toleran terhadap perbedaan.
Ray Sahetapy tidak hanya dikenal sebagai aktor berbakat, tetapi juga sebagai pribadi yang mendalami ajaran Islam secara perlahan.
Ia selalu menjaga hubungan baik dengan semua orang, tanpa memandang latar belakang agama atau kepercayaan mereka.
Dalam beberapa wawancara, Ray kerap menyinggung pentingnya keimanan dan bagaimana agama membentuk karakter seseorang.
Keputusan keluarga untuk menyolatkannya di Istiqlal seakan menjadi bentuk penghormatan terakhir atas perjalanan spiritualnya.
Jenazah Ray Sahetapy disalatkan di Masjid Istiqlal sebelum akhirnya dimakamkan di TPU Tanah Kusir.
Namun, sesuai wasiatnya, keluarga berencana memindahkan jenazahnya ke Palu, Sulawesi Tengah, di makam keluarga dalam satu atau dua tahun mendatang.
Kepergian Ray Sahetapy tidak hanya meninggalkan duka bagi keluarga dan penggemarnya, tetapi juga menyisakan kisah perjalanan spiritual yang penuh makna.
Dari Istiqlal ia memulai, dan di Istiqlal pula ia disemayamkan sebelum peristirahatan terakhirnya. (*)