Sekitar 1 Juta Anak Perempuan Afghanistan Kehilangan Akses Pendidikan Sejak 2021

Redaksi - Selasa, 28 April 2026 18:34
Sekitar 1 Juta Anak Perempuan Afghanistan Kehilangan Akses Pendidikan Sejak 2021Suasana di sebuah sekolah perempuan di Afghanistan. (sumber: ANSA-Vaticannews.va)

NEW YORK CITY (Floresku.com) — Krisis pendidikan global kembali mendapat sorotan tajam. Lembaga anak Perserikatan Bangsa-Bangsa, UNICEF, melaporkan bahwa lebih dari satu juta anak perempuan di Afghanistan telah kehilangan akses terhadap pendidikan menengah sejak larangan diberlakukan pada 2021.

Dalam laporan terbarunya bertajuk The Cost of Inaction on Girls’ Education and Women’s Labour Force Participation in Afghanistan, UNICEF mengungkapkan bahwa pembatasan tersebut tidak hanya berdampak pada hak dasar anak perempuan untuk belajar, tetapi juga mengancam masa depan sosial dan ekonomi negara tersebut. Jika kebijakan ini terus berlanjut, jumlah anak perempuan yang terdampak diperkirakan akan melampaui dua juta pada tahun 2030.

Direktur Eksekutif UNICEF, Catherine Russell, mendesak otoritas de facto Afghanistan untuk segera mencabut larangan tersebut. Ia juga menyerukan komunitas internasional agar tetap berkomitmen mendukung hak pendidikan bagi anak perempuan.

Baca juga:

“Melarang anak perempuan Afghanistan mengakses pendidikan menengah sama dengan merampas potensi seluruh bangsa,” tegas Russell.

Laporan tersebut juga memperingatkan dampak serius terhadap sektor tenaga kerja, khususnya di bidang pendidikan dan kesehatan. UNICEF memperkirakan, pembatasan ini dapat menyebabkan hilangnya lebih dari 25.000 tenaga profesional perempuan—termasuk guru dan tenaga kesehatan—pada tahun 2030.

Selain itu, representasi perempuan dalam layanan sipil tercatat menurun dari 21 persen menjadi 17,7 persen dalam kurun 2023 hingga 2025. 

Penurunan ini dikhawatirkan akan memperburuk kualitas layanan pendidikan dan kesehatan, terutama bagi perempuan dan anak-anak yang secara kultural lebih membutuhkan tenaga profesional perempuan.

Dalam sektor kesehatan, berkurangnya tenaga medis perempuan berpotensi menghambat layanan bagi ibu, bayi, dan anak. 

Dalam banyak kasus di Afghanistan, perempuan tidak dapat mengakses layanan kesehatan dari tenaga medis laki-laki, sehingga keberadaan tenaga kesehatan perempuan menjadi sangat vital.

UNICEF juga menyoroti ancaman hilangnya satu generasi profesional terdidik. Ketika tenaga perempuan yang ada pensiun atau meninggalkan pekerjaan, tidak ada generasi baru yang dapat menggantikan mereka karena akses pendidikan telah dibatasi.

Meski menghadapi tantangan besar, UNICEF tetap berkomitmen mendukung pendidikan di Afghanistan. Pada tahun 2025, lebih dari 3,7 juta anak menerima bantuan pendidikan darurat. 

Selain itu, sekitar 442.000 anak—66 persen di antaranya perempuan—mengikuti program pembelajaran berbasis komunitas, serta 232 sekolah berhasil dibangun atau direhabilitasi.

UNICEF menegaskan bahwa investasi dalam pendidikan, khususnya bagi anak perempuan, merupakan kunci untuk memutus rantai kemiskinan, meningkatkan kualitas kesehatan, dan mendorong pertumbuhan ekonomi berkelanjutan di Afghanistan. (Sandra-Sumber Vaticanneews.va). ***

RELATED NEWS