SERIAL III: Tiwu Bala, Ketika Air Menjadi Ujian

Redaksi - Sabtu, 24 Oktober 2026 23:13
SERIAL III: Tiwu Bala, Ketika Air Menjadi Ujian   PT PLN (Persero) merencanakan pengambilan air Sungai Tiwu Bala untuk proses pengeboran sumur MT 3-MT-6. Warga yang berkeberatan berdoa di Sungai Tiwu Bala, Golewa Selatan (sumber: Betahita)

Pada  8–13 Oktober 2026 EnbeIndonesia.com, Floresku.com, dan Katolikku.com, berkolaborasi malakukan reportase ke wilayah eksplorasi geothermal di Mataloko, Kecamatan Golewa, Kabupaten Ngada. Berikut tulisan terakhir dari tiga serial hasil peliputan tersebut.  

GEOTHERMAL MATALOKO: AIR, API DAN KEPERCAYAAN

Salah satu fasilitas pengembangan energi panas bumi Mataloko, (Foto PLN)

Di balik rencana pengembangan energi panas bumi Mataloko, Sungai Tiwu Bala menyimpan persoalan yang paling dekat dengan kehidupan petani: apakah kebutuhan pengeboran dapat dipenuhi tanpa mengganggu air untuk sawah?

MATALOKO, NGADA (Floresku.com)  — Jauh sebelum geothermal menjadi perdebatan di Flores, air Sungai Tiwu Bala telah menghidupi sawah-sawah masyarakat Golewa Selatan.

Dari aliran sungai itulah petani memperoleh air untuk menanam padi. Saluran-saluran irigasi membawa air melewati perkampungan dan hamparan persawahan yang selama beberapa generasi menjadi sumber kehidupan warga.

Bagi masyarakat di kawasan Saga Meo dan Za'a, air bukan sekadar kebutuhan sehari-hari. Ia adalah penentu musim tanam, hasil panen, dan keberlanjutan kehidupan keluarga.

Karena itu, ketika PT PLN (Persero) merencanakan pengambilan air Sungai Tiwu Bala untuk mendukung pengeboran PLTP Mataloko, kekhawatiran pun muncul.

Warga mempertanyakan apakah air sungai akan tetap mencukupi kebutuhan pertanian, terutama ketika musim kemarau tiba.

Di sisi lain, PLN menyatakan pengambilan air telah direncanakan melalui kajian teknis dan hanya diperlukan selama kegiatan pengeboran.

Dua kepentingan itu kini bertemu di satu sungai. Di satu sisi terdapat kebutuhan pengembangan energi panas bumi yang diharapkan memperkuat pasokan listrik Flores. Di sisi lain, ada petani yang ingin memastikan sawahnya tetap memperoleh air.

Persoalan Tiwu Bala kemudian berkembang menjadi perdebatan mengenai keselamatan lingkungan, keterbukaan informasi, serta kepercayaan masyarakat terhadap proyek geothermal.

Air yang Diwariskan Para Misionaris

John Belly, tokoh masyarakat sekaligus Wakil Forum Peduli Keutuhan Lingkungan, mengingatkan bahwa Tiwu Bala memiliki arti penting dalam sejarah pertanian masyarakat Laja.

Menurut John, jaringan pengairan yang dibangun sejak masa para misionaris membantu mengubah sejumlah kawasan yang sebelumnya kering menjadi persawahan produktif.

Air dialirkan melalui sistem bendungan dan saluran irigasi menuju lahan pertanian dari kawasan Mawo hingga Boraba, kemudian dimanfaatkan kembali untuk persawahan di Za'a.

Sistem tersebut telah menopang kehidupan masyarakat selama beberapa generasi. Namun, pada musim kemarau, keterbatasan air menjadi persoalan yang sangat terasa.

"Kalau musim panas seperti sekarang dan debit air berkurang, wilayah Za'a bisa tidak mendapatkan air. Itu yang menjadi fokus perjuangan kami," ujar John.

Bagi John, kekhawatiran masyarakat bukan hanya mengenai jumlah air yang akan diambil PLN.

Warga juga menyimpan ingatan tentang perselisihan pembagian air pada masa lalu. Ketika pasokan berkurang, hubungan antarkelompok masyarakat dapat ikut terganggu. Sungai itu juga menjadi bagian dari sumber pangan keluarga.

John menyebut keberadaan udang sungai yang dikenal masyarakat sebagai anabo, serta ikan kecil bernama ipu yang ditangkap warga pada musim tertentu.

Karena itu, perubahan kualitas maupun jumlah air dikhawatirkan tidak hanya memengaruhi sawah, tetapi juga kehidupan di sepanjang aliran sungai.

"Bagi orang lain mungkin persoalan ini terlihat sederhana. Namun, masyarakat di sini sudah hidup bergantung pada air dan sungai secara turun-temurun. Kalau persawahan tercemar atau airnya tidak lagi mencukupi, masyarakat mau mengelola apa lagi?" katanya.

Ketika Kekhawatiran Menjadi Penolakan

John mengatakan sebagian masyarakat Laja dan wilayah Golewa Selatan menolak rencana pengambilan air Tiwu Bala.

Keberatan mereka terutama berkaitan dengan dua hal: kemungkinan berkurangnya debit sungai dan risiko pencemaran.

Sejumlah warga mempertanyakan jaringan pipa yang dipasang untuk mendukung kegiatan pengeboran.

Di tengah masyarakat bahkan sempat beredar dugaan bahwa salah satu pipa akan digunakan untuk mengalirkan limbah pengeboran kembali ke sungai.

John mengakui informasi tersebut masih berupa dugaan yang belum memperoleh kepastian.

Pihak PLN membantah adanya rencana pembuangan limbah pengeboran melalui jaringan pipa menuju Tiwu Bala.

Perbedaan informasi seperti ini menunjukkan pentingnya membuka rencana teknis kepada masyarakat.

Gambar jaringan pipa, sistem penampungan, dan tata cara pengelolaan air perlu dijelaskan dengan bahasa yang mudah dipahami.

Tanpa informasi yang sama, kekhawatiran dapat berkembang menjadi dugaan yang semakin sulit dijernihkan.

Romo Paroki Laja, RD Tarsis Wewa, juga menyampaikan perhatian terhadap persoalan tersebut. Menurutnya, pembangunan energi tidak boleh mengabaikan kebutuhan air masyarakat.

Ia mengingatkan bahwa warga bergantung pada aliran sungai untuk pengairan sawah dan kebutuhan kehidupan sehari-hari.

Romo Tarsis juga mempertanyakan kecukupan sosialisasi kepada masyarakat yang memanfaatkan air di wilayah hilir. Bagi sebagian warga, sosialisasi yang dilakukan belum sepenuhnya menjawab pertanyaan mengenai keselamatan sumber air.

Keberatan itu kemudian disampaikan melalui surat, dialog dengan pemerintah, hingga aksi penyampaian aspirasi.

Sebagian masyarakat juga menggelar doa bersama dan ritual adat Leba Manu sebagai ungkapan keinginan menjaga sumber kehidupan mereka.

Gerakan tersebut memperlihatkan bahwa persoalan Tiwu Bala telah melampaui perdebatan mengenai kebutuhan teknis pengeboran.

Air menjadi bagian dari ingatan, tradisi, dan hubungan masyarakat dengan tanah tempat mereka hidup.

Namun, keberadaan kelompok yang menolak pengambilan air di Laja tidak serta-merta menunjukkan bahwa seluruh masyarakat Mataloko atau Kabupaten Ngada menolak pengembangan geothermal.

Reportase di sejumlah desa lainnya justru menemukan masyarakat yang menerima proyek, meskipun tetap menghendaki perlindungan lingkungan.

PLN: Pengeboran Belum Dimulai

Di tengah kekhawatiran masyarakat, PLN memberikan penjelasan mengenai tahapan proyek yang sedang berlangsung.

Perwakilan PLN, Gredy, mengatakan bahwa infrastruktur utama pembangunan PLTP Mataloko telah selesai pada saat wawancara dilakukan.

Namun, kegiatan pengeboran lanjutan belum dimulai. Persiapan kebutuhan air masih menjadi salah satu pekerjaan yang harus diselesaikan.

Keterangan ini penting karena membedakan antara dampak yang telah terjadi dan risiko yang masih dikhawatirkan masyarakat.

Apabila pengambilan air untuk pengeboran belum berlangsung, penurunan debit sungai yang terjadi sebelumnya tentu tidak dapat langsung dinyatakan sebagai akibat kegiatan pemompaan tersebut.

Meski demikian, belum terjadinya dampak bukan berarti seluruh kekhawatiran dapat diabaikan. Justru sebelum kegiatan dimulai, rencana pengambilan air masih dapat diperiksa dan disesuaikan untuk mencegah kerugian.

Kepala Teknik Panas Bumi Mataloko, Adrys Silaban, menjelaskan bahwa PLN merencanakan kebutuhan pengambilan air sebesar 40 liter per detik.

Menurut dia, air tersebut diperlukan untuk mendukung kegiatan pengeboran dan penggunaannya bersifat sementara.

Setelah pekerjaan selesai, jaringan pipa direncanakan dibongkar. Adrys juga menjelaskan bahwa air sungai tidak akan langsung dialirkan ke lubang pengeboran.

Air terlebih dahulu ditampung dalam kolam penampungan di area pengeboran atau well pad.

Kapasitas kolam tersebut disebut mencapai sekitar 4.000 hingga 5.000 meter kubik.

Selama proses pengeboran, air diupayakan dapat digunakan kembali melalui sistem sirkulasi.

PLN juga memanfaatkan air hujan sebagai salah satu sumber pengisian kolam.

Dengan mekanisme tersebut, menurut perusahaan, pengambilan air dari sungai tidak direncanakan berlangsung terus-menerus sepanjang hari. Namun, keterangan mengenai durasi pemanfaatannya masih memerlukan penjelasan lebih terperinci.

Gredy menyebut perkiraan penggunaan selama tiga hingga enam bulan. Sementara Adrys menjelaskan bahwa kebutuhan air setiap sumur diperkirakan berlangsung sekitar satu setengah bulan, sedangkan keseluruhan program pengeboran dapat berjalan sekitar satu setengah tahun, bergantung pada pelaksanaannya.

Perbedaan keterangan itu mungkin berkaitan dengan cakupan pekerjaan yang tidak sama. Namun, masyarakat membutuhkan kepastian mengenai kapan pompa beroperasi, berapa lama pengambilan berlangsung, serta berapa volume air yang benar-benar akan digunakan.

Selain akan menyedot air dari Sungai Tiwu Bala, PLN telah menyediakan Kolam penampungan di area pengeboran atau well pad dengan  kapasitas kolam mencapai sekitar 4.000 hingga 5.000 meter kubik. (Foto :PLN)

Menguji Angka 40 Liter per Detik

Dalam bahan kajian hidrologi PLN yang menjadi bagian dari materi liputan, pengukuran debit Sungai Tiwu Bala selama 24 September hingga 24 Desember 2024 menunjukkan angka rata-rata sekitar 0,77 meter kubik per detik.

Debit minimum pada periode tersebut tercatat sekitar 0,38 meter kubik per detik, sedangkan debit maksimum mencapai 1,85 meter kubik per detik.

Sementara itu, kebutuhan pengambilan air untuk pengeboran diperkirakan sebesar 0,04 meter kubik per detik atau 40 liter per detik.

Jika dibandingkan dengan debit rata-rata tersebut, kebutuhan pengeboran terlihat relatif kecil.

Namun, angka rata-rata tidak selalu menggambarkan keadaan sungai ketika musim kemarau mencapai puncaknya.

Dalam materi sosialisasi lainnya, debit andalan Q90 Tiwu Bala disebut sekitar 0,247 meter kubik per detik.

Setelah memperhitungkan sejumlah kebutuhan air, sisa aliran bebas diperkirakan sekitar 0,099 meter kubik per detik.

Angka tersebut menunjukkan perlunya membaca kondisi sungai secara lebih terperinci. Bagi petani, yang paling penting bukan seberapa besar air mengalir ketika musim hujan.

Yang menentukan adalah berapa banyak air yang tersisa pada saat sawah membutuhkan pengairan dan debit sungai berada pada kondisi terendah.

Karena itu, perhitungan kebutuhan pengeboran perlu dibandingkan dengan kebutuhan irigasi, penggunaan masyarakat, serta air yang harus tetap mengalir untuk menjaga ekosistem sungai.

Periode dan metode pengukuran juga penting untuk diketahui.

Data yang tersedia menjadi titik awal untuk menilai kelayakan rencana pengambilan air, bukan jaminan otomatis bahwa seluruh risiko telah teratasi.

Menghentikan Pompa Ketika Air Menurun

PLN menyatakan telah merancang langkah mitigasi untuk mengantisipasi kemungkinan berkurangnya debit sungai.

Adrys menjelaskan bahwa perusahaan berencana memasang alat pemantau ketinggian air sebelum dan sesudah titik pengambilan.

Perangkat tersebut dirancang untuk membantu mengawasi kondisi sungai ketika pompa beroperasi.

Jika permukaan air mencapai batas minimum yang ditentukan, kegiatan pemompaan akan dihentikan.

Rencana tersebut dapat menjadi salah satu langkah penting untuk melindungi kebutuhan masyarakat.

Namun, efektivitasnya bergantung pada bagaimana sistem itu benar-benar dijalankan.

Masyarakat perlu mengetahui batas minimum air yang ditetapkan, lokasi alat pemantau, serta mekanisme penghentian pompa.

Yang tidak kalah penting, hasil pengukuran sebaiknya dapat diakses oleh pemerintah daerah, pengelola irigasi, dan perwakilan masyarakat pengguna air.

Dengan demikian, pengawasan tidak hanya bergantung pada keterangan perusahaan. Jika debit sungai menurun, seluruh pihak dapat memeriksa kondisi berdasarkan data yang sama.

Di sinilah kepercayaan dapat mulai dibangun. Bukan melalui jaminan lisan semata, melainkan melalui mekanisme yang dapat diperiksa bersama.

Aksi demi tola geothermal akibat sosialissi yang belum optimal (Foto; Istimewa)

Sosialisasi yang Belum Menjawab Semua Pertanyaan

Dalam dokumentasi yang disampaikan PLN, kegiatan konsultasi mengenai penggunaan air Tiwu Bala telah berlangsung sejak November 2025 hingga Maret 2026.

Pertemuan dilakukan di sejumlah wilayah yang berkaitan dengan sistem irigasi Saga Meo dan Za'a.

Materi yang disampaikan mencakup potensi dampak pengambilan air, langkah mitigasi, mekanisme pengaduan, pemantauan partisipatif, serta rencana program berbagi manfaat.

Dokumentasi tersebut menunjukkan adanya upaya PLN menyampaikan rencana kepada masyarakat. Namun, John Belly dan sejumlah warga Laja masih merasa bahwa pertanyaan mereka belum sepenuhnya memperoleh jawaban.

Perbedaan penilaian itu memperlihatkan adanya jarak antara terlaksananya kegiatan sosialisasi dan tercapainya pemahaman bersama.

Bagi perusahaan, pertemuan dapat menjadi bukti bahwa penjelasan telah diberikan. Tetapi, bagi masyarakat, konsultasi dianggap bermakna apabila pertanyaan dijawab, keberatan dipertimbangkan, dan kepentingan mereka dapat memengaruhi keputusan.

Karena itu, persoalan Tiwu Bala tidak cukup diselesaikan dengan memperbanyak pertemuan. Yang dibutuhkan adalah kejelasan mengenai bagaimana hasil konsultasi digunakan untuk menentukan cara pengambilan air.

Mencari Titik Temu

Perdebatan mengenai Tiwu Bala sebenarnya memiliki ruang penyelesaian yang lebih konkret dibandingkan sejumlah persoalan eksplorasi masa lalu.

Debit sungai dapat diukur. Kebutuhan irigasi dapat dihitung. Kualitas air dapat diuji. Volume pemompaan dapat dicatat.

Artinya, terdapat sejumlah ukuran yang memungkinkan pihak-pihak yang berbeda pandangan memeriksa persoalan berdasarkan fakta yang sama.

PLN dapat membuka hasil kajian hidrologi, jadwal penggunaan air, perizinan, serta rancangan pengawasan.

Pemerintah daerah dan instansi pengelola sumber daya air dapat memastikan kebutuhan masyarakat di wilayah hilir terlindungi. Petani dan kelompok pengguna irigasi dapat dilibatkan dalam pemantauan.

Sementara ahli independen dapat membantu menilai apakah rencana pengambilan air memenuhi persyaratan keselamatan lingkungan.

Jika debit sungai turun di bawah batas yang diperlukan untuk melindungi irigasi dan lingkungan, pengambilan air harus dapat dikurangi atau dihentikan sesuai ketentuan.

Langkah-langkah tersebut tidak otomatis menghapus perbedaan pandangan.

Namun, setidaknya seluruh pihak memiliki dasar yang lebih jelas untuk menentukan keputusan.

Mantan Sekda Ngada, Johny Watu Ngebu, sejak awal mendorong dialog antara pemerintah dan Gereja sebagai salah satu jalan keluar dari polemik geothermal Mataloko.

Menurutnya, persoalan pembangunan dan lingkungan tidak cukup diselesaikan melalui pernyataan yang saling berhadapan.

Diperlukan pembicaraan langsung mengenai tanggung jawab negara, kepentingan masyarakat, dan langkah penyelesaian yang dapat dilaksanakan.

Pandangan tersebut relevan bagi persoalan Tiwu Bala. Gereja memiliki tanggung jawab moral untuk menyuarakan kepentingan masyarakat dan kelestarian lingkungan.

Pemerintah berkewajiban memastikan pembangunan dilaksanakan sesuai ketentuan dan tidak mengabaikan hak warga.

PLN harus mampu membuktikan bahwa rencana teknisnya aman serta dapat diawasi. Sementara masyarakat memiliki hak untuk memperoleh informasi dan menyampaikan keberatan terhadap kegiatan yang dapat memengaruhi sumber penghidupannya.

Kepentingan-kepentingan tersebut tidak harus selalu berakhir dalam pertentangan dan polemic yang berkepanjangan..

Flores Membutuhkan Energi, Petani Membutuhkan Air

Di balik polemik Mataloko, terdapat persoalan yang lebih luas mengenai masa depan energi Flores.

Dalam paparan PLN yang dihimpun tim reportase, sistem kelistrikan Flores pada September 2026 memiliki daya mampu netto sebesar 136,56 megawatt, dengan beban puncak sekitar 105,10 megawatt.

Artinya, dalam kondisi yang dilaporkan, pasokan listrik masih mampu memenuhi kebutuhan sistem. Namun, kebutuhan listrik diperkirakan akan terus tumbuh seiring perkembangan kegiatan ekonomi, pariwisata, investasi, dan kebutuhan rumah tangga.

Dengan asumsi pertumbuhan beban sebesar lima persen per tahun, kebutuhan listrik Flores dalam lima tahun diperkirakan mendekati 134 megawatt.

Angka itu sudah mendekati daya mampu pembangkit yang tersedia pada September 2026.

Dalam rencana pengembangan kelistrikan 2025–2034, PLN menyiapkan tambahan kapasitas pembangkit dari sejumlah sumber energi, termasuk panas bumi, gas, surya, air, dan arus laut.

Panas bumi menjadi salah satu sumber energi yang diharapkan memperkuat pasokan sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap bahan bakar fosil.

PLTP Mataloko direncanakan memberikan tambahan kapasitas sebesar 20 megawatt. Namun, kebutuhan energi yang terus meningkat tidak dapat dijadikan alasan untuk mengabaikan perlindungan sumber air masyarakat.

Sebaliknya, kekhawatiran terhadap risiko lingkungan juga perlu ditempatkan dalam pemeriksaan yang objektif agar keputusan tidak semata-mata didasarkan pada dugaan.

Di sinilah persoalan Tiwu Bala menjadi penting.

Jika rencana pengambilan air dapat dibuktikan aman dan dilaksanakan melalui pengawasan yang terbuka, Mataloko memiliki peluang menunjukkan bahwa pengembangan energi dapat berjalan berdampingan dengan kepentingan pertanian.

Namun, apabila kekhawatiran masyarakat dibiarkan tanpa jawaban yang memadai, pembangunan akan terus menghadapi persoalan kepercayaan.

Di Antara Air, Api, dan Kepercayaan

Di sepanjang Tiwu Bala, air terus mengalir melewati sawah dan perkampungan masyarakat Golewa Selatan. Di kawasan Mataloko, panas bumi tetap tersimpan jauh di bawah permukaan tanah Flores.

Keduanya merupakan kekayaan alam yang memiliki arti penting bagi kehidupan masyarakat. Panas bumi menawarkan peluang menghadirkan energi listrik dari sumber daya lokal.

Sementara air menjaga keberlanjutan pertanian yang telah menghidupi keluarga-keluarga selama beberapa generasi. Pertanyaannya bukan semata-mata apakah geothermal harus dilanjutkan atau dihentikan.

Yang lebih mendasar adalah bagaimana pengembangan energi dilakukan tanpa mengorbankan keselamatan lingkungan dan sumber penghidupan masyarakat.

Pengalaman Daratei mengingatkan pentingnya menyelesaikan persoalan masa lalu secara jujur. Pengalaman Wogo memperlihatkan bahwa pembangunan dapat membuka peluang ekonomi ketika masyarakat dilibatkan dan manfaatnya benar-benar dirasakan.

Sementara Tiwu Bala menjadi pengingat bahwa setiap rencana pembangunan harus diuji berdasarkan kondisi nyata kehidupan masyarakat.

Tidak semua tuduhan kerusakan dapat diterima tanpa pembuktian. Namun, tidak semua kekhawatiran dapat disingkirkan hanya karena sebuah proyek dinyatakan telah memenuhi perhitungan teknis.

Bagi masyarakat Mataloko, kepercayaan tidak dibangun melalui janji bahwa pembangunan pasti membawa kesejahteraan.

Kepercayaan tumbuh ketika persoalan lama diselesaikan, keberatan didengarkan, data dibuka, dan setiap pihak bersedia bertanggung jawab atas keputusannya.

Pada akhirnya, masa depan geothermal Flores bukan hanya mengenai kemampuan menghasilkan listrik. Ia juga mengenai kemampuan menjaga kehidupan yang telah ada sebelum pembangkit dibangun.

Sebab, Flores tidak cukup hanya menjadi pulau yang semakin terang oleh listrik. Sawahnya harus tetap memperoleh air. Lingkungannya harus tetap terlindungi. 

Dan masyarakatnya harus memiliki keyakinan bahwa pembangunan yang berlangsung di tanah mereka benar-benar menghadirkan masa depan yang lebih baik. Semoga api, air dan kepercayaan dari berbagai pihak yang terlibat dalam pembangunan dapat  menjadi tiang penopang peradaban.  (Tim Redaksi, berdasarkan reportase Hans, Paul dan Silvia). ***

 

 

Editor: Redaksi
Tags ritualBagikan
‌‌
‌‌

RELATED NEWS