E-BOOK

Serial Novel Historis Realis: Api dan Darah di Langit Embo (3)

Redaksi - Sabtu, 15 Agustus 2026 14:05
Serial Novel Historis Realis: Api dan Darah di Langit Embo (3)Ilustrasi: Salib di bibir pantai Ma'u Embo (sumber: Gambar AI)

Bab 2 – Di Bawah Salib Ma’u Embo (Abad ke-16 M)

LAUT Sawu pada musim barat selalu tampak lebih kelam. Angin datang dari barat-daya membawa kabut asin, dan ombak memukul karang Ma’u Embo seperti genderang perang. Namun, pada suatu pagi tahun 1562, laut itu membawa sesuatu yang tidak pernah dilihat oleh penduduk Tonggo-Embo sebelumnya—kapal asing dengan layar putih bergambar salib merah, meluncur perlahan dari balik kabut.

Anak-anak yang sedang menyelam gurita di tanjung Ma’u Embo sontak kaget. Mereka buru-buru berenang menuju daratan sembari berteriak-teriak memanggil: “Ema.. ema... ema.. ila dau ke..sapa mere ngata,  ngadhu peka. Bhide emba ke kita”. (Ibu, ibu, ibu.. lihat itu ada perahu sangat besar sudah muncul dari tengah laut. Bagaimana nasib kita?). Ujar anajk-anak itu terengah-engah sambil menunjuk ke aras kapal besar yang datang merapat ke teluk Ma’u Embo yang tenang.  

Kapal itu tampak seperti rumah besar terapung, dengan tiang setinggi pohon lontar. Tiba-tiba terdengar  suara gemuruh rantai besi yang menjatuhkan jangkar. Orang-orang berdiri di pantai, setengah takut, setengah takjub. Di antara teriakan burung camar, mereka mendengar suara dari atas kapal: “Em nome de Deus!”

Pada lambung kapal ada tulisan, ‘Nossa Senhora Santa Maria, (Santa Maria, Bunda Kami). Di atas geladaknya berdiri sekelompok orang berbadan tegap dengan kulit terang kemerahan. 

Dua di antaranya mengenakan tunika putih panjang dengan skapulir putih yang jatuh hingga mendekati kaki.  Di atas bahunya tersampir mantel hitam panjang. Sebuah tali sederhana mengikat pinggangnya, sementara rosario tergantung di sisi tubuhnya. Begitulah penampilan dua Padre Dominikan, Pengkotbah ulung dari negeri Portugal.

Menurut catatan sejarah, orang-orang asing  itu datang dari  Goa, India. Mereka sempat singgah di Malaka lalu menyusuri laut sepanjang pesisir utara Pulau Jawa, terus ke arah timur: pantai utara Bali, Lombok dan Sumbawa. Dari selat Sape mereka berbelok ke kanan, menyusuri pantai selatan Flores, hingga singgah  di Tonggo.  Mereka menempuh jalur selatan, rute perdagangan Cendana global yang bersumber di Solor dan Pula Timor. 

Dua padre Portugis itu adalah Padre Domingos de Sousa, OP dan Padre Hironimo Mascarenhas, OP. Mereka berperan sebagai pendamping rohani bagi para saudagar Portugis. Namun, mereka juga diutus oleh  superior Dominikan di Pusat Misi Goa, India  untuk mencari tempat baru guna menyebarkan iman Katolik di wilayah selatan dari pulau asing yang baru diberi nama ‘Cabo de Flores’ pada ekspedisi awal tahun 1512. 

Saat kapal berlabuh, lonceng kecil di dek berdentang. Dua padre itu, dibantu oleh seorang yang kemudian dikenal sebagai asisten dan penerjemah bernama Gazpar menurunkan sebuah salib kayu besar yang diikat dengan tali rami. 

Selaku pemimpin rombongan,  Padre Domingos membungkuk memberi salam dan hormat kepada warga Tonggo-Embo yang datang berkerumun di pesisir pantai. Ia kemudian mengangkat tangannya,  menunjuk ke langit, lalu ke laut. 

Setelah itu ia membuat gerakan aneh pada tubuhnya sendiri. Ia menyentuh dahi, lalu dada, bahu kiri dan kanannya sendiri. Kemudian ia mengayunkan tangannya membuat tanda serupa sambil mengucapkan kata-kata yang kelak diingat orang Tonggo-Embo selama berabad-abad kemudian: “Deus.” 

Dengan lantang ia berucap : “Que a paz e as bênçãos de Deus estejam com todos vós. Pax et benedictiones Dei vobis omnibus sint. (Salam damai dan Berkat Tuhan bagimu semua).

Penduduk Tonggo-Embo menatapnya dalam diam tapi mendengarnya dengan penuh antusias. 

Dalam adat orang Tonggo-Embo, tamu asing harus disambut dengan hati terbuka. Oleh karena itu, tetua kampung, Nuwa Mere, memerintah para wanita untuk menyiapkan sirih pinang dan rokok koli yang sudah dilinting. 

Nuwa Mere kemudian mengambil  sepotong sirih dan pinang,  mengunyanhnya hingga ludahnya menjadi merah seperti darah. Ia lalu mengucapkan doa dengan suara yang tak terdengar. 

Kemudian ia melangkah mendekati bibir pantai, membungkuk kepada orang asing yang kakinya masih berendam di deburan putih ombak laut setinggi betis. Tiada kata terucap, cuma senyum tulus yang merekah. Nuwa Mere segera menyerahkan sirih pinang dan rokok koli itu sambil memberi isyarat agar para tamu itu memasukkannya ke dalam mulut. 

Para tamu itu memahami bahasa isyarat itu. Mereka menerima sirih-pinang dan rokok koli itu dengan senyuman, dan tanpa ragu memasukkannya ke mulut mereka. 

Meniru Nuwa Mere, mereka pun mengunya sirih pinang hingga menghasilkan bibir mereka tampak merah bagai darah. Rokok koli pun disulut. Mereka menghisapnya dalam-dalam lalu menghembsukan kepulan asap halus yang membubung naik secara bergelombang.

Setelah ritual penyambutan adat itu, beberapa lelaki secara spontan mengambil alat musik gong gendang lalu menabuhnya dengan irama yang riang. Beberapa wanita secara spontan mengambil selendang tenunan adat, melilitkannya ke leher para tamu, dan menari gemulai mengiring para tamu itu, menuntun mereka menuju Sa’o Mere, rumah kediaman tetua kampung, Nuwa Mere.

Bahasa Baru di Bibir Ombak

Hari-hari pertama berlalu penuh kebingungan. Orang Tonggo-Embo tak mengerti bahasa Latin maupun Portugis, sementara kedua Padre Dominikan itu hanya mengenal beberapa kata Melayu. Untung saja, ada Gazpar, pria Meztizo (campuran Portugis-Melayu kelahiran Malaka) yang berperan sebagai penerjemah beberapa kata-kata kunci sekaligus penafsir bahasa isyarat.

Komukinasi sering terputus karena bahasa baru yang diganggu oleh suara gemuruh deburan ombak. Bibir manusia seakan bersaing keras dengan bibir ombak.

Selang beberapa bulan berikutnya Padre Domingos, Padre Hironimo dan Gaspar mulai dapat berkomunikasi  dengan warga setempat. Sementara Gaspar berusaha menerjemahkan doa Latin ke dalam bahasa Melayu-Keo. 

Selain itu mereka juga sepakat mendirikan sebuah pondok di dekat pantai dan menancapkan salib kayu di depannya. Pondok itu tidak terlalu lebar, sekitar lima meter, tetapi lumayan panjang. Tiangnya kokoh, dibuat dari batang kayu Kesambi, sekitar 12,5 meter. Dindingnya dari bambu yang dicincang dan atapnya dari alang-alang. Pondok itu disekat dua, sebagiannya, sekitar 2,5 x 5 meter dipakai sebagai ruang tidur dan  sisanya, 10 x5 m dipakai sebagai ruang doa dan tempat belajar atau bermusyawarah. Di situlah gereja, atau lebih tepat Kapela pertama Tonggo lahir.

Kapel itu berhadapan langsung dengan Laut Sawu, jaraknya sangat dekat, kurang lebuh 20 meter dari bibir pantai. Namun, karena letaknya yang agak tinggi dan merapat dengan dinding tebing, air pasang tak pernah dapat menjangkaunya.

Di samping kapel, berdiri sebuah  Salib, kira-kira tiga kali orang dewasa berdiri. Salib itu dipancangkan di atas gundukan batu cadas yang berada persis di sisi kiri Kapel. 

Setiap sore menjelang malam, Gazpar menyalakang lilin itu, dan membiarkannya bernyala hingga menjelang subuh. Di waktu malam, cahaya kecil itu terlihat oleh para nelayan yang mengais rejeki di laut. Ketika hendak kembali ke darat menjelang subuh, menjadikannya sebagai tanda. Dengan begitu, cahaya lilin Kapela Tonggo menjadi ‘mercu suar’ sederhana. 

Karena itu orang  Tonggo-Embo memberi nama pondok itu: Watu Ja”. Aartinya “batu yang terang benderang”, karena setiap sore Pastor Domingos  menyalakan ‘lilin’ yang terbuat dari madu lebah atau getah pohon kenari.

Berdasarkan cerita lisan yang diwariskan secara turun-temurun,  kaum tua-tua di Tonggo-Embo, menggambarkan bahwa Padre Domingos adalah pria tinggi, berjanggut putih, dengan mata lembut yang selalu menatap laut sebelum berdoa. Ia sering berdiri lama di tepi pantai, mendengarkan ombak, seolah berbicara dengan Tuhan yang bersemayam di air asin. 

Padre Hironimo juga berkulit terang,  cuma agak lebih pendek.  Tetapi ia lebih berotot dan lincah. Setelah bersama-sama di Tonggo sekitar 2 tahun, Padre Hieronimo dipercayakan untuk membuka stasi di wilayah pedalaman Keo, tepatnya di Lena. Kemudian, datang lagi dua pastor dari Larantuka. Mereka adalah Padre Alfonso dan Germano. Padre Alfonso melayani Stasi Mari, sedangkan  Padre Alfonso melayani Stasi Kewa. 

Pertemuan Dua Budaya

Waktu terus berlalu. Padre Domingos semakin akrab dengan warga Tonggo-Embo. Hubungan mereka sangat dekat layaknya anggota sebuah keluarga. 

Meski demikian, kehadiran para Pastor Dominikan menimbulkan tanya di antara para tetua adat.

“Apakah Tuhan mereka  itu berasal dari  langit atau dari laut?” tanya Djenga  pada suatu malam di sebuah musyawarah adat. “Jika  mereka berasal dari langit, mengapa mereka datang dari arah  laut?”

Pertanyaan itu sampai ke telinga Padre Domingos. Ia pun tersenyum dan menjawabnya dengan hati-hati. Padre Domingos kemudian menjelaskan bahwa ia dan rekan-rekannya tidak berasal dari langit atau pun dari laut, tetapi dari Portugis, sebuah negeri yang berada sangat jauh dari tanah Tonggo-Embo karena dipisahkan oleh laut yang sangat luas. 

Orang Portugis, lanjutnya,  sama seperti  orang Tonggo-Embo diciptakan oleh  Tuhan, Allah yang Esa. Dia adalah pencipta, sumber kehidupan dan juru selamat seluruh umat manusia.  

Allah itu Bapa bagi  orang Portugis, orang Tonggo-Embo bersama para nenek moyangnya. Ia Penguasa dari  segala sesuatu: laut dan seluruh isinya;  tanah, batu dan hutan berserta seluruh isinya. Ia juga penguasa atas  langit yang mencakup matahari, bulan, dan seluruh bintang. 

Kami datang ke sini, dia menambakan, bukan untuk mengambil atau merampas tanah dan harta kekayaan kalian, tapi untuk mengabarkan  dan mengingatkan bahwa Deus, Allah Sang Pencipta dan Penguasa semesta alam itu mengasihi kita tanpa batas. Oleh karena itu, kita harus saling mengasihi satu sama lain, dan mengelola kekayaan laut, daratan dan hutan dengan penuh tanggung jawab. 

Tetua lain, Ba’i, mendengarkan kata-kata Padre Domingo penuh semangat, mengangguk-anggukan kepala  sambil menelan air sirihnya penuh rasa nikmat. 

Ia lalu menyela, “Padre, di antara kami juga ada kasih. Nenek moyang kami menasehati bahwa kami harus mencintai tanah, karena di sanalah kami menanam benih dan memetik panen. Kami juga diingatka untuk menghormati laut, karena dari sanalah kami mendapat lauk. Oleh karena itu nenek moyang mewariskan tanah dan laut kepada kami, dan kami pun akan mewariskan semua kepada anak-cucu kami. Kami akan meminta mereka untuk menjaga dan mepertahankan tanah dan laut hingga titik darah penghabisan. Apakah itu bukan kasih?”kata Ba’i berapi-api.

Padre Domingos tersenyum dan mengangguk, tanda sepakat. 

Malam itu, ia kembali ke ruang tidurnya di belakang Kapel,  lalu menulis dalam buku hariannya:  “Orang-orang Tonggo-Embo ternyata telah mengenal kasih sebelum mengenal salib. Oleh karena itu, saya akan bersama mereka hingga akhir hayat. Saya ingin bersama mereka selalu untuk menancapkan Salib Kristus dan mengembangkan kasih di hati mereka. Tidak cukup Salib Kristus ditancapkan di samping Kapel ini saja.”

Hadiah  Lonceng dari Pusat Misi Goa, India

Misi Tonggo semakin kuat dan besar. Pada awal Desember 1665, beberapa pekan menjelang Hari Raya Natal, datang kapal Gloria dari Malaka. Para saudagar Portugis yang sedang dalam pelayaran menuju Atapupu singgah di Pelauhan Tonggo. Mereka membawa hadiah dari Tuan Alejandro de Almeida, seorang bangsawan kaya raya di Goa, India. Hadiah itu berupa sebuah lonceng perunggu selingkaran tangan orang dewasa. 

Selain itu ada perlengkapan Misa, Kitab Suci dan buku-buku doa berbahasa Latin. Semua itu dikirim  dari pusat misi Katolik di Goa, India. 

Padre Domingos menamai lonceng itu “Maria de Tonggo.” Setiap pagi, ketika fajar menyingsing di ufuk timur, pada tengah hari, dan pada sore menjelang malam, Gazpar membunyikan lonceng itu. Bunyinya sangat nyaring, menembus bukit hingga ke Embo Wawo, menjangkau Ma’u Nu’a di balik Tanjung Embo, bahkan menembus semak belukar hingga ke Ma’u Bare dan mengatasi deru ombak sehingga  mengiang keras di telinga  warga Kampung Ma’u Tonggo.  

Setiap kali lonceng itu berbunyi, para nelayan berhenti sejenak, mengangkat wajah, dan mengucap doa sederhana sebagaimana diajarkan Padre Domingos. Mereka membuat tanda Salib lalu berkata “Ine Sancta Maria,  kami oa pai one ana Kau, Ngga’e Yesu,  wua mesu sai ne’e kami. Ma’e lela kami. Sipo sagho keluarga dan tana watu kami. Amen.” 

Namun, di balik suasana damai itu, ada benturan halus antara adat dan ajaran baru. Pasalnya, Padre Domingos melarang beberapa praktik berbau takhyul. Ia kemudian mengajak warga untuk memanjatkan  doa syukur di depan altar dalam Misa Kudus. Beberapa orang menerima dengan rela, tapi yang lain menolak secara dima-diam. Mereka menolak, karena merasa laut tak lagi berbagi rejeki semenjak roh leluhur tak lagi diberi sesajian.

Meski ada pergolakan budaya,  anak-anak muda mulai belajar menulis huruf Latin pasir pantai. Setelah menulis beberapa huruf dan kata, ombak laut  segera menghapusnya lagi. 

Sekilas cara belajar ini terkesan konyol. Namun, hal itu ternnyata membantu mengasah daya ingatan anak-anak. Mereka akhirnya dapat belajar menulis dan membaca jauh lebih cepat dari dugaan Gazpar sebelumnya. 

Mereka juga menghapal  doa Ave Maria dan mengejanya perlahan-lahan. Yang menarik, doa itu adalah kombinasi sederhana antara bahasa Latin dan bahasa Keo. Agak aneh tetapi  indah. 

“Ave Maria, gratia plena. O, Santa Maria, Ine kami ta mera one Surga. Sipo sagho kami, ta mera ndia tana toko, sepu wiwi mesi mere...” (Salam Maria, penuh rahmat. O, Santa Maria, Bunda kami, lindungilah kami yang hidup di tanah nan gersang, di bibir pantai laut (nan luas).” Kadang-kadang mereka berdoa sambil bernyanyi. Konon, lagu ‘Ine Maria, kau made sai nia..” yang populer dewasa ini, sudah mulai dilantunkan pada akhir aba ke-16.

Cendana dan Darah

Perlu dicatat, kapal-kapal Portugis yang singgah di Tonggo, tak hanya membawa para misionaris dan salib, tetapi juga  membawa komodotas perdagangan. Dari Timor dan Solor, mereka mencari kayu cendana dan lilin lebah, dua barang mahal di pasar Malaka. Tonggo menjadi pelabuhan kecil untuk singgah dan menambah perbekalan.

Pada tahun-tahun belakangan, para pelaut Portugis mulai jatuh cintah dan menikahi perempuan lokal. Dari perkawinan itu lahir anak-anak berkulit terang dengan nama-nama ganda: Paolo Mere, Domingas Nuwa, João Keo, Diego Naru dan lain-lain Mereka menjadi jembatan antara dua dunia—tahu cara berdoa dan cara menenun, tahu cara menulis nama dan cara membaca bintang.

Namun, perdagangan komoditas menimbulkan kecurigaan dan ketegangan. Terkadang beberapa saudagar luar berlaku curang. Mereka menuntut lebih banyak daging buah asam, kemiri dan gaharu serta teripang atau gurita asap, tetapi menukarkannya dengan sedikit tembikar, logam atau uang perak. 

Tak jarang para pelaut yang datang dengan kapal-kapal asing mulai bersikap serakah. Tanpa izin warga lokal mereka mengambil hasil laut dalam jumlah berlebihan. Seringkali juga membawa paksa sejumlah anak muda untuk dijadikan budak di tanah Jawa atau pun Malaka.

 Padre Domingos menulis surat protes tentang praktik perbudakan ke pejabat tinggi di Malaka, tapi jawabannya tak pernah datang.

Tragisnya, suatu ketika sebuah kapal berbendera Portugis diserang oleh perompak di tepi barat Pulau  Ende. Warga Tonggo yang tak suka dengan kehadirain para misionaris Portugis dicurigai ikut membantu. 

Setelah peristiwa itu, sebuah armada keamanan Portugis dikirim dari Malaka. Mereka menyeret para warga yang dicurigai bekerja sama dengan para perompak.

Peristiwa itu memuncul perlawanan. Pada malam hari, sejumlah warga datang melumuri salib di depan Kapela dengan darah anjing. Peristiwa itu dikenang sebagai La Watu Ja’

Pastor yang Tidak Pernah Pulang

Padre Domingos yang semakin tua, mengerti bahwa peristiwa berdarah adalah isyarat tidak baik. Melalui beberapa umat yang setia, ia mengetahui bahwa sebagian warga telah diprovokasi oleh orang dari luar. 

Padre Domingos menyimpan semua berita itu di dalam hatinya. Ia jarang keluar dari rumahnya. Lebih banyak  ia duduk di kapel dan berdoa. Sesekali ia duduk di atas batu dekat Salib,  sambil memandang jauh ke laut. 

Dalam surat terakhirnya kepada rekan-rekan Dominikan di Malaka dan Goa, ia menulis: “Laut ini telah menjadi biaraku. Di sini, setiap ombak adalah lonceng, setiap badai adalah pengakuan dosa. Orang-orang Keo telah mengajarkanku bahwa iman sejati bukanlah meninggalkan adat, tapi menyucikannya.”

Suatu pagi, setelah angin badai sepanjang, orang Tonggo menemukan jubah putih terapung di bibir pantai. Tak ada tubuh, hanya  ada rosario dari kayu dan sehelai kain bertulis Latin: Dominus est in mari – Tuhan ada di laut.

Mereka percaya, Padre Domingos tidak mati; ia kembali ke laut yang membawanya datang. Mereka kemudian membungkus ‘warisan' sang Pastor itu dengan kain tenun Tonggo terindah, lalu memakamnya dengan penuh hormat. 

Sebagai penanda makam mereka meletakkan batu besar di atasnya. Makam itu kemudian dikenang sebagai ‘Late Bhala’ (Makam Putih). Mungkin karena yang di dalamnya disemayamkan ada jubah putih, milik  seorang Pastor berkulit terang dan berhati suci.”

Sejak itu, setiap tahun, ketika  musim  angin Barat tiba, lonceng “Maria de Tonggo” dibunyikan tiga kali untuk mengenang Padre Domingos.

Amakera, Pemuda Nakal yang Jadi  Pengkianat

Salah satu nama yang menonjol dalam aksi vandalisne La Watu Ja adalah Amakera. Ia adalah meztizo, karena ayahnya Rubino, seorang saudagar Portugis dan ibunya, Jacinta Anggo, putri sulung Sadhu Bhia, salah satu tua adat di Embo Wawo. Putra tunggal Rubin-Anggo lahir tahun 1675, dibabtis oleh Padre Domingos di Kapela Tonggo dengan nama babtis Joao Amaquira  Tonggo. Namun warganya lebih mudah memanggilnya, Amakera. 

Semenjak kecil Amakera terbiasa hidup enak, karena kedua orangtuanya cukup kaya. Namun, ketika Amekara beranjak remaja, ayahnya Rubino meninggal dunia karena sakit komplikasi diare dan demam tinggi berhari-hari. Semenjak itu, Anggo mulai kewalahan mendidik Amakera yang dikenal pemalas tetapi nakal. 

Ketika menjadi pemuda, warga Tonggo-Embo sangat tak menyukai Amekera. Soalnya, dia suka mencuri ayam dan anak babi milik warga kampung  untuk bersenang-senang  dengan teman-teman sejawatnya. Lebih daripada itu,  ia suka bergonta-ganti memacari dan melecehkan para gadis kampung.

Ulahnya mencapai puncaknya ketika ia bergabung dengan para bajak laut yang sering beraksi di perairan sekitar Tonggo-Ende, merampok barang-barang komoditas di kapal milik para saudagar Portugis.

Ia kemudian, bersahabat dengan orang-orang dari Gowa yang berperan ganda: sebagai pedagang dan  bajak laut. Dari situ ia berhasil berkenalan dengan Talo,  Raja  Gowa  yang menjadi mualaf pada tahun 1602. Talo kemudian dikenal sebagai raja Muslim Gowa pertama. Kedekatan dengan Raja Talo membuat, Amakera murtad dari Katolik dan menjadi mualaf. Ia kemudian, ditugaskan Raja Talo untuk melancarkan aksi penaklukan Fortaleza do Ende Minor, Benteng Portugis di Pulau Ende. Benteng ini berkaitan erat dengan misi Dominikan Portugis, khususnya Pater Simão Pacheco, dibangun pada  1588. Benteng itu sering diserang oleh para perompak yang beroperasi di Laut Sawu. Tahun 1593,  benteng yang  terbuat dari dibakar oleh para perompak Jawa. Kemudian pada 1595-1599 dibangun benteng batu yang dikenal sebagai Forte de São Domingos atau Fortaleza do Ende Kecil.

Pada tahun 1603, terjadi upaya penyerangan yang lebih besar oleh armada dari Gowa, Makassar yang bersekutu dengan Amakera, putra Tonggo-Embo yang murtad. 

Sebelum menerjang Benteng Portugis di Pulau Ende, Amekera dan pasukannya singgah di Pelabuan Tonggo yang berada di balik Tanjung Tonggo. Padre Hironimo yang memantau keberadaan kapal-kapal Bugis di Teluk Tonggo, segera mengirim pesan melaui asap api, agar pasukan di Benteng Pulau Ende segera meminta bala bantuan dari Sikka, Larantuka dan Solor. Sementara itu, Padre Hironimo turun menjumpai Amakera dan berdialog, mengulur waktu hingga bala bantuan dari Sikka, Larantuka dan Solor tiba di Pulau Ende. Akibatnya, ketika melakukan serang ke Benten di Pulau Ende, pasukan Amekera dipukul mundur. Ratusan prajuritnya tewas. Amekera pun menyerah. Ia dap armadanya kembali ke Tonggo. Ia menyadari bahwa kekalahannya merupakan buah dari siasat cerdik padre Hironimo. Ia sangat murka dan menangkap Padre Hironimo. Tanpa banyak tanya, ia menikam Padre Hironimo  hingga tewas. Lalu ia dan ardmada bergegas kembali ke Bugis dengan rasa kecewa. 

Warga Tonggo-Embo kemudian merawat jenazah Padre Hironimo dengan rasa hormat. Mereka memakamkannya di samping makam Padre Domingos. Makam kedua martir itu, disebut Late Bhala (Makam Putih). Hingga kini makam itu menjadi tujuan ziarah Katolik. 

Warisan Salib

Beberapa generasi kemudian, kisah Domingos de Braga menjadi legenda. Anak-anak di Tonggo tumbuh dengan dua bahasa doa: satu dari nenek moyang, satu dari langit barat. Salib menjadi bagian dari rumah, tapi juga dari laut—dipasang di haluan perahu agar Tuhan menjaga arah.

Perempuan mulai menenun motif baru, disebut “lodo saliba”, gambar salib di tengah pola ombak. Bagi mereka, salib bukan lambang kekuasaan, melainkan tanda bahwa laut dan langit kini saling mengenal.

Para tetua berkata, “Dulu kami mengenal laut tanpa nama. Sekarang kami mengenalnya dengan doa.”

Namun, seperti semua kisah di tanah ini, damai tak pernah abadi. Dari barat, kabar datang bahwa bangsa lain—Belanda—mulai berebut jalur cendana. Mereka membawa bukan salib, melainkan meriam dan hukum. Laut yang dulu jadi ziarah, pelan-pelan berubah menjadi perbatasan.

Salib di Tepi Pesisir Pantai Berbatu

April 2023, di tebing Embo-Wawo, aku  berdiri dan  memandang ke laut, tempat di mana jubah putih Padre Domingos mengapung dan ditemukan warga, 500 tahun silam. 

Tak jauh dari tebing itu, tampak beberapa tiang batu terhimpit di tengan ilalang.Menurut warga Tonggo-Embo, itu bekas tiang bangunan kapel pertama Tonggo. Beberapa pulu meter di depannya, terdapat hamparan batu-batu biru dan putih yang selalu memantulkan cahaya sore dengan kalem.  

Menjelang malam, aku menuju ke Aekana, Nangaroro,   5 km arah timur Tonggo-Embo. Aku menginap di rumah  Bapa Susu-ku, Albertus Poa, putera asli Embo Wawo yang sudah sejak awal dekade 1960-an menetap di Aekana. Malam hari, usia makan malam, sebelum beranjak ke peraduan, aku  kembali tanah Tonggo-Embo. 

Dalam doa aku menulis di buku harianku: “Salib pertama di tanah Tonggo-Embo sudah dipancangkan oleh misonaris Dominikan pada awal abad 16, sekitar 500 tahun silam. Salib itu tidak berdiri di atas menara gereja, melainkan di atas gundukan tanah berbatu, di tepi tebing, dekat pantai Ma’u Embo yang berbatu. Ia sering diterpa angin dan badai laut, tapi tidak beringsur miring apalagi patah. Ia juga pernah dilumuri dengan darah anjing oleh warga yang terprovokasi Amakera,  tetapi ia tetap bertahan, tidak dapat dimusnahkan. 

Ya, Salib itu kokoh. karena ia merespresentasikan salib Yesus Kristus. Padre Domingos telah memancangkan Salib sejati itu  dalam hati orang Tonggo-Embo, komunitas lokal yang amat mencintai tanah dan lautnya.” ***

Editor: Redaksi

RELATED NEWS