'Tempo - Kepala Babi - Katanya...' (sekadar debu-debu tipis)
redaksi - Rabu, 26 Maret 2025 18:22
P. Kons Beo, SVD
Rabu, 19 Maret 2025 lalu itu. Francisca Christy Rosana dapat 'kado istimewa.' Cica, demikian ia disapa, dihadiahi kepala babi. Tak hanya itu, selang beberapa hari berikutnya, di Sabtu 22 Maret 2025 datang lagi hadiah berupa enam bangkai tikus.
Tanpa kepala. Maka jadilah 'kepala babi tanpa telinga dan bangkai tikus tanpa kepala' sentrum basis tafsir. Meluas dan melebar. Bagaimana tidak?
Cika itu 'Orang Tempo' yang makin tenar. Bersama Hussein Abri Donggoran, Raymundus Rikang dan Stefanus Pramono, berlima sekawan jurnalis Tempo ini gencar di Podcast 'Bocor Alus Politik.' Hari-hari ini publik mulai meraba-raba apa sebenarnya pesan di balik 'kado istimewa ini?'
Pihak berwajib, katanya, masih menampi kasus ini. Demi bermuara pada menderangnya motif utama di balik semuanya. Iya, demi mendengus serius otak di balik 'kepala tikus dan telinga babi yang tak ada itu.'
Adakah yang gerah dengan ulah Cica dkk selama ini? Semuanya pasti ada pada isi kepala dan rasa hati (para) si pengirim hadiah itu.
Direkah-rekah saja begini: Isi bicara Bocor Alus itu haram, najis, dan kotor menjijikkan. Hanya ciptakan bau bangkai kegaduhan sosial.
Isi 'bocor alus itu lahir dari insan pers mafiosi 'tanpa telinga dan tiada kepala.' Yang dianggap seenaknya meracik isu dengan 'kompilasi murahan. Plus logika dan tesis - antitesis - sintese, sebab akibat yang dipaksa-paksakan 'rasional.'
Logika 'Bocor Alus' dianggap keterlaluan. Ia sekian 'hanya intip-intip alus-alus realita sosial.' Tak mendalam. Lalu dengan entengnya bersembunyi di balik layar 'katanya, katanya dan katanya' dari 'orang dekat ini dan orang kepercayaan itu.'
Karenanya, 'kepala babi dan bangkai tikus' punya pesan pada publik: 'Jangan mudah tergiring dan terpancing pada 'Bocor Alus berkualitas najis, sampah dan bangkai.'
"Kepala babi dan bangkai tikus" memang gerah dan tak nyaman sungguhan. Dan mesti kah semuanya ditafsir sebagai alarm berat buat Cika dkk?
Untuk harus segera hentikan sudah 'isi Bocor Alus Politik' yang penuh dengan 'katanya?' Agar tak lagi terus kobarkan keresahan publik?
Tetapi, begini... Kenapa mesti dikirimi 'Kepala babi dan bangkai tikus?' Sepertinya, di sisi lain, si pengirim (dan kelompoknya) itulah yang lagi resah. Bukan publik pada umumnya.
Kotak-katik serangan ''Bocor Alus,'' walau dengan banyak 'katanya dan katanya...' itu sudah cukup bikin kelompok pengirim kepala babi dan bangkai tikus kepanikan dan kepanasan.
Bisa terjadi bagi Publik, ''Bocor Alus'' itu simbol perlawanan suara Negeri yang sayup, halus nan lembut namun tajam. Mungkin kah "Bocor Alus" itu adalah suara rakyat yang punya banyak unsur 'kontra suara koor gemuk di Senayan?'
Namun, bagi si pengirim kepala babi dan bangkai tikus, ''Bocor Alus'' bisa saja sudah dibidik sebagai 'musuh yang mesti diseriusi dengan seseriusnya. Apakah ''Bocor Alus'' hendak dinasibkan hingga jadi bangkai?
Mari lanjut....
Tetapi mungkin kah teror 'kepala babi dan bangkai tikus' itu tak lebih sebagai 'karoseri - orkestrasi mainan' intern 'Cica dkk - Bocor Alus' sendiri? Agar dapat atensi lebih masif dan serius dari publik? Bukan baru kali ini ''Bocor Alus'' digebuk teror.
Dan karena terasa biasa-biasa saja tu selama ini, maka perlulah dipentaskan 'sinetron kepala babi dan bangkai tikus' demi mendulang perhatian dan rasa iba hati publik yang berujung resah penuh heboh.
Bukan kah opini dan ungkapan rasa hati Pro "Bocor Alus" (kebebasan pers, dan berpendapat) itulah yang diharapkan? Sebab 'kepala babi dan bangkai tikus' isyaratkan tekanan dan ancaman bagi pers dan suara kebebasan Negeri!
Sssst mungkin ini satu tafsiran yang dipaksakan. Begini cerita-cerita di antara kami, yang juga berstandar "katanya."
Katanya, "Teror kepala babi dan enam bangkai tikus itu itu hanyalah strategi pengalihan isu. Saat "Bocor Alus" punya banyak insan penggemar, dia perlu dikirimi 'paket sensitif itu.'
Reaksi keras ''Bocor Alus - Tempo'' sebagai media - pers tentu diharapkan. Agar ramai-ramailah publik khususnya dunia jurnistik lebih hebohkan pemberitaan 'ingin tahu asal muasal dan muara dari kepala babi dan bangkai tikus.'
Publik, Pers mesti sejenak kendorkan banyak berita yang berat, krusial. Yang lebih menggigit demi nasib hajat hidup orang banyak dan masa depan Negeri ke depan....
Itu satu kepastian yang tegas dan sahi dari semuanya.
Akhirnya semuanya mengarah kepada kewibawaan penyelidikan Kepolisian.
Publik tentu menanti penuh harap Korps Berbaju Coklat ini.
Suara pujangga akhirnya melantun:
Pelan-pelan sudah ditanya dan disampaikan "Kepada karang, kepada ombak, kepada matahari." "Tetapi," di negeri ini banyak kali tak ada reaksi.
Walau ada suara melampaui ''Bocor Alus,'' toh "Tetapi semua diam. Tetapi semua bisu." Juga tak mungkin harapkan jawaban yang pasti sekiranya harus "Kita bertanya pada rumput yang bergoyang?"
Dan akhirnya,
Mestikah semua tetap "Terpaku menatap Langit?" Ini semua gara-gara si kepala babi tanpa telinga dan si enam bangkai tikus tanpa kepala itu.
Sampai kapan 'karang, ombak, matahari mesti diam dan bisu?
Collegio San Pietro - Roma. ***