Tenun Sumba, Warisan Peradaban di Pulau Savana

redaksi - Jumat, 09 Januari 2026 10:15
Tenun Sumba, Warisan Peradaban di Pulau SavanaSeorang perempuan suma sedang menenun. (sumber: Instagram.com)

WEETABULA (Floresku.com) - Sumba, sebuah pulau besar di gugusan kepulauan Nusa Tenggara Timur yang dikenal dengan karakter alamnya yang kering, keras, namun menyimpan pesona eksotika yang memikat. 

Savana luas terbentang sejauh mata memandang, bukit-bukit tandus berdiri gagah, sementara di beberapa sudut pulau masih ditemukan air terjun yang menyejukkan. Di balik lanskap alam yang tampak gersang itu, Sumba menyimpan kekayaan budaya yang telah hidup ribuan tahun dan tetap bertahan hingga kini.

Di tengah hempasan zaman dan arus modernisasi yang kian deras, masyarakat Sumba tetap memelihara tradisi leluhur sebagai fondasi kehidupan. Alam dan budaya menyatu dalam keseharian, membentuk identitas kolektif yang diwariskan lintas generasi. 

Salah satu warisan budaya paling berharga dari pulau ini adalah seni tenun ikat Sumba, sebuah tradisi tua yang bukan hanya indah secara visual, tetapi juga sarat makna sejarah dan spiritual.

Alam Keras, Budaya yang Tangguh

Bentang alam savana, perbukitan kering, serta musim kemarau panjang membentuk karakter masyarakat Sumba yang tangguh dan mandiri. Pertanian ladang berpindah, peternakan kuda dan kerbau, serta kerajinan tradisional menjadi bagian dari strategi hidup di tengah keterbatasan alam.

“Sejak dulu kami hidup berdampingan dengan alam yang keras. Karena itu adat dan aturan leluhur menjadi pegangan supaya manusia tidak merusak keseimbangan alam,” ujar Rehabiam Kilimandu (49), petani ladang asal Sumba Timur.

Bagi masyarakat Sumba, adat bukan sekadar norma sosial, melainkan sistem nilai yang mengatur hubungan manusia dengan alam dan leluhur. 

Hingga kini, sebagian masyarakat masih memegang kepercayaan Marapu, sistem kepercayaan tradisional yang menempatkan roh leluhur sebagai penjaga keseimbangan kosmos.

Nilai-nilai Marapu tercermin dalam struktur sosial, ritual adat, pola bercocok tanam, hingga ekspresi seni seperti tarian, pahatan batu megalitik, dan tentu saja, tenun ikat.

Seorang pendekar Pasola sedang beraksi

Pasola dan Kosmologi Kehidupan

Keterikatan antara manusia dan alam di Sumba tampak jelas dalam tradisi Pasola, ritual adat sakral yang melibatkan dua kelompok penunggang kuda yang saling melempar lembing kayu. Meski terlihat keras dan penuh risiko, Pasola memiliki makna spiritual yang dalam.

“Pasola bukan tontonan. Darah yang jatuh ke tanah dipercaya sebagai simbol kehidupan dan kesuburan,” jelas Rehabiam.

Bagi masyarakat Sumba, ritual ini merupakan permohonan kepada leluhur agar tanah subur, hujan turun tepat waktu, dan kehidupan berjalan seimbang. Tradisi ini menegaskan bahwa budaya Sumba tidak bisa dilepaskan dari relasi spiritual dengan alam.

Beberapa motif Kain Tenun Sumba

Menenun: Pekerjaan Sunyi yang Menjaga Identitas

Di balik ritual-ritual besar yang penuh sorak, terdapat aktivitas budaya yang berlangsung sunyi namun penuh ketekunan: menenun. Bagi perempuan Sumba, menenun bukan sekadar pekerjaan rumah tangga, melainkan tanggung jawab budaya.

Delfiana (48), penenun tradisional asal Sumba Tengah, mengaku telah menenun sejak remaja.

“Menenun bukan hanya sumber penghasilan, tapi juga cara kami mempertahankan budaya,” tuturnya.

Kain tenun ikat Sumba dikenal memiliki nilai ekonomi dan simbolik tinggi. 

Proses pembuatannya panjang dan rumit: mulai dari memintal kapas menjadi benang, mengikat motif, mewarnai dengan pewarna alami, hingga menenun secara manual menggunakan alat tenun tradisional. 

Untuk satu lembar kain, proses ini bisa memakan waktu berbulan-bulan, bahkan hingga setahun.

Jejak Arkeologis Tenun Sumba

Sejarah tenun Sumba tidak hanya hidup dalam tradisi lisan, tetapi juga dapat ditelusuri melalui temuan arkeologis dan kajian antropologi. 

Para peneliti meyakini bahwa tradisi menenun di Sumba telah berkembang sejak 3.000–4.000 tahun lalu, seiring kedatangan penutur Austronesia ke wilayah Nusa Tenggara Timur.

Temuan alat pemintal sederhana dari batu dan tanah liat, sisa pewarna alami, serta indikasi produksi tekstil di sejumlah situs prasejarah di Sumba Timur dan Sumba Barat menunjukkan bahwa masyarakat awal telah mengenal teknologi pemintalan dan teknik ikat sejak masa Neolitik akhir.

Motif-motif tua pada kain Sumba—seperti figur manusia stilistis, kuda, buaya, burung, dan pola geometris—memiliki kemiripan dengan simbol kosmologis Austronesia awal. Motif-motif ini merepresentasikan pembagian kosmos: dunia atas, dunia manusia, dan dunia leluhur.

Kubur batu 

Kain, Kubur Batu, dan Status Sosial

Tradisi megalitik yang kuat di Sumba—ditandai dengan kubur batu besar—memiliki keterkaitan erat dengan kain tenun. Dalam praktik pemakaman adat, kain tenun digunakan sebagai bekal simbolik bagi arwah dan penanda status sosial seseorang semasa hidup.

Motif tertentu hanya boleh digunakan oleh bangsawan adat, sementara motif lain dipakai dalam konteks ritual tertentu. Hal ini menunjukkan bahwa sejak masa prasejarah, kain tenun bukan sekadar benda pakai, melainkan bahasa simbolik dalam struktur sosial Sumba.

Makna Motif: Bahasa Leluhur

Setiap motif tenun Sumba memiliki makna filosofis yang dalam. Motif kuda melambangkan kekuatan dan kehormatan, buaya dan penyu merepresentasikan mitos asal-usul manusia, sementara figur manusia bersenjata mencerminkan keberanian dan hubungan dengan leluhur.

Teknik ikat yang digunakan dalam tenun Sumba tergolong teknologi tinggi dalam tradisi tekstil kuno. Motif harus dirancang dan diikat sebelum proses pewarnaan, menuntut ketelitian, daya ingat visual, dan pengetahuan simbolik yang diwariskan dari generasi ke generasi, terutama melalui garis perempuan.

Tenun di Persimpangan Zaman

Dalam beberapa tahun terakhir, pariwisata mulai berkembang di Pulau Sumba. Keindahan alam dan kekayaan budaya menarik minat wisatawan domestik maupun mancanegara. Kain tenun Sumba kini menembus pasar nasional hingga internasional.

Namun, di balik peluang ekonomi tersebut, tersimpan kekhawatiran.

“Kami senang kalau Sumba dikenal dunia,” kata Delfiana. “Tapi adat dan alam harus tetap dijaga. Jangan sampai budaya hanya jadi tontonan.”

Pemerintah daerah dan komunitas budaya mendorong pengembangan pariwisata berbasis kearifan lokal agar manfaat ekonomi tidak menggerus nilai adat dan keberlanjutan lingkungan.

Menjaga Warisan, Merajut Masa Depan

Pulau Sumba hari ini berdiri di persimpangan antara tradisi dan modernitas. Seni tenun menjadi simbol keteguhan masyarakat adat dalam menjaga identitas di tengah perubahan zaman.

Bagi masyarakat Sumba, menenun adalah tindakan merawat sejarah. Setiap helai benang adalah pengulangan ingatan kolektif tentang alam, leluhur, dan perjalanan panjang peradaban di pulau savana ini.

Tenun Sumba bukan sekadar kain. Ia adalah arsip hidup, warisan peradaban yang terus dirajut oleh tangan-tangan perempuan Sumba—untuk hari ini dan generasi yang akan datang. (Kiriman,  Emilia). ***

Editor: redaksi

RELATED NEWS