Uskup Labuan Bajo Rangkul Kaum Difabel, Tegaskan Persaudaraan

Redaksi - Rabu, 26 Agustus 2026 20:11
Uskup Labuan Bajo Rangkul Kaum Difabel, Tegaskan PersaudaraanSelain memberi bantuan sembako, Uskup Maksi menghibur para difabel. (sumber: Vinsen Patno)

LABUAN BAJO, Floresku.com – Uskup Labuan Bajo, Mgr. Maksimus Regus, Pr., menunjukkan kepedulian terhadap kaum difabel melalui sebuah perjumpaan penuh kehangatan di Labuan Bajo, Rabu (26/8).

Dalam perjumpaan tersebut, Uskup Maksimus didampingi Sekretaris Jenderal Keuskupan Labuan Bajo, Romo Frans Nala, Pr., serta Direktur Caritas Keuskupan Labuan Bajo, Romo Yuvensius Rugi, Pr.

Kehadiran Uskup bersama rombongan bukan sekadar kunjungan. Sapaan, senyum, dan perhatian yang diberikan menjadi tanda bahwa Gereja hadir untuk mendengarkan, menerima, dan menghargai setiap pribadi, termasuk kaum difabel.

Dalam suasana penuh keakraban, Mgr. Maksimus berbagi kasih dan sukacita bersama kaum difabel. 

Perjumpaan itu sekaligus menegaskan pesan tentang persaudaraan bahwa setiap manusia memiliki martabat yang sama dan merupakan bagian penting dari kehidupan Gereja serta masyarakat.

Bagi kaum difabel, kehadiran seorang gembala tidak semata-mata diukur dari apa yang diberikan. Lebih dari itu, kehadiran tersebut menjadi tanda bahwa mereka dilihat, didengar, diterima, dan diperlakukan sebagai saudara yang setara.

Perhatian terhadap kaum difabel, karena itu, tidak cukup berhenti pada belas kasih. Yang jauh lebih penting ialah membangun kehidupan bersama yang inklusif, setara, dan berkelanjutan.

Baca juga:

Kaum difabel bukan objek belas kasihan. Mereka adalah pribadi yang memiliki talenta, harapan, kemampuan, serta kontribusi bagi kehidupan bersama. Karena itu, kepedulian harus diwujudkan melalui penghormatan, pemberdayaan, penerimaan, dan pemberian ruang untuk berpartisipasi secara penuh.

Perjumpaan tersebut juga menjadi refleksi bagi Labuan Bajo yang terus berkembang sebagai destinasi pariwisata unggulan. Kemajuan sebuah kota tidak hanya diukur dari pembangunan infrastruktur, pertumbuhan ekonomi, maupun meningkatnya aktivitas pariwisata.

Kemajuan sejati juga terlihat dari sejauh mana masyarakat mampu menciptakan ruang yang ramah, manusiawi, dan mudah diakses oleh semua orang, termasuk kaum difabel.

Gereja Keuskupan Labuan Bajo dipanggil untuk terus menghadirkan wajah Kristus yang dekat dengan umat. Gereja tidak hanya berbicara mengenai kasih, tetapi juga dipanggil untuk menghidupi kasih melalui kehadiran nyata di tengah masyarakat.

Perjumpaan pada Rabu, 26 Agustus 2026, menjadi momentum sederhana namun bermakna. Seorang gembala datang menyapa dan berbagi kasih, sementara saudara-saudari difabel menerima kehadiran tersebut dengan sukacita.

Dari perjumpaan itu lahir pesan penting: kasih tidak mengenal sekat dan persaudaraan tidak boleh meninggalkan siapa pun.

Sebab, pada akhirnya, Gereja bukan hanya tempat umat berkumpul, melainkan rumah di mana setiap orang diterima, dihargai, dan dicintai.

Ketika mereka yang berbeda tidak lagi dipandang sebagai “yang lain”, tetapi sebagai saudara, di sanalah persaudaraan sejati mulai tumbuh. (Vnsen Patno)

RELATED NEWS