Uskup Larantuka: Pemberdayaan Ekonomi Adalah Wujud Nyata Iman
Redaksi - Selasa, 28 Juli 2026 09:20
Mgr Hans disambut warga diaspora Kesuskupan Larantuka jelas Misa Syukur Tahbisan Apostolik, Minggu (26/7) (sumber: SP)JAKARTA (Floresku.com) – Uskup Larantuka, Mgr. Yohanes Monteiro, menegaskan bahwa pemberdayaan ekonomi menjadi salah satu arah pastoral utama Keuskupan Larantuka sebagai perwujudan iman yang hidup. Menurutnya, iman tidak hanya dihayati dalam doa dan liturgi, tetapi juga diwujudkan melalui upaya meningkatkan kesejahteraan umat.
Pesan tersebut disampaikan Mgr. Yohanes Monteiro dalam Misa Syukur Tahbisan Episkopal yang dihadiri ribuan umat diaspora Keuskupan Larantuka di Jabodetabek di Gedung Zeni Angkatan Darat, Jakarta, Minggu (26/7).
Perayaan itu dihadiri warga perantau asal Kabupaten Flores Timur dan Lembata yang memenuhi aula sejak pagi. Suasana penuh sukacita langsung terasa ketika Uskup Hans Monteiro tiba di lokasi dan disambut dengan tarian perang Hedung dari Adonara, sapaan adat dalam dialek Lamaholot, serta pengalungan selendang tenun oleh para sesepuh perantau.

Salah satu pemandangan yang menarik perhatian adalah keterlibatan warga perantau Flores Timur dan Lembata yang beragama Islam dalam penyambutan tersebut. Mereka ikut mengantar Uskup Hans menuju ruang transit sebelum perayaan Ekaristi dimulai, bahkan turut memeriahkan resepsi seusai misa dengan menampilkan kesenian kasidahan.
Kebersamaan lintas agama itu menjadi gambaran nyata kuatnya persaudaraan masyarakat Lamaholot yang tetap terpelihara meski hidup di tanah rantau.
Menemukan Yesus sebagai Harta Sejati
Dalam homilinya, Mgr. Yohanes Monteiro mengangkat bacaan Injil tentang seorang petani yang menemukan harta terpendam di ladang. Demi memperoleh ladang itu, ia rela menjual seluruh hartanya.
Menurut Uskup Hans, kisah tersebut mengajarkan bahwa harta yang paling berharga bagi setiap orang beriman adalah Yesus Kristus.

"Itulah yang kita kejar dan kita cari, yang akan melipatgandakan seluruh harta kehidupan kita di dunia ini. Saya yakin kita semua hadir di sini bukan pertama-tama karena saya dipilih menjadi Uskup Larantuka, tetapi karena kita ingin menemukan dan memperoleh berkat Tuhan bagi perjalanan hidup kita," ujarnya.
Ia kemudian mengajak umat melakukan refleksi mendalam: apakah mereka sungguh telah menemukan Yesus sebagai harta kehidupan, atau justru perhatian lebih banyak tersita oleh kekayaan duniawi sehingga mengabaikan perjumpaan dengan sesama.
"Mari kita menjadi mutiara-mutiara kecil yang menghadirkan sukacita Kerajaan Surga dalam kehidupan sehari-hari. Tuhan memberkati," tuturnya.
Perantau Diminta Menjadi Duta Perdamaian
Usai perayaan Ekaristi, Mgr. Hans Monteiro kembali mengingatkan warga diaspora asal Flores Timur dan Lembata agar tidak tercerabut dari akar budaya Lamaholot yang menjunjung tinggi persaudaraan, gotong royong, dan penghormatan terhadap keberagaman.
Ia mengajak seluruh perantau, tanpa memandang asal kampung, pulau maupun agama, untuk menjadi pembawa damai di tengah kehidupan masyarakat yang majemuk, khususnya di wilayah Jabodetabek dan Indonesia pada umumnya.
Menurutnya, semangat persaudaraan yang diwariskan leluhur harus tetap menjadi identitas masyarakat Lamaholot di mana pun mereka berada.

Ekonomi sebagai Ekspresi Iman
Dalam kesempatan itu, Uskup Hans juga memaparkan arah pastoral Keuskupan Larantuka yang memberi perhatian besar pada pemberdayaan ekonomi umat.
Ia menilai tema tersebut sangat relevan mengingat kondisi ekonomi masyarakat di Flores Timur dan Lembata yang masih menghadapi berbagai keterbatasan.
"Kita berusaha supaya dengan kemampuan yang ada, rasa percaya diri ditumbuhkan, dan potensi yang dimiliki masyarakat dikembangkan. Karena itu, tema pertama adalah pemberdayaan ekonomi sebagai ekspresi iman," tegasnya.
Baginya, Gereja dipanggil tidak hanya membina kehidupan rohani umat, tetapi juga mendorong lahirnya masyarakat yang mandiri, produktif, dan mampu mengembangkan potensi ekonomi lokal sebagai bagian dari panggilan iman.
Semangat Gemohing Terus Hidup
Ketua Panitia, Kolonel Yohanes Wain, mengatakan keterlibatan warga Muslim dalam seluruh rangkaian kegiatan bukanlah sesuatu yang dirancang secara khusus, melainkan lahir secara alamiah dari budaya Lamaholot.
Menurutnya, masyarakat Flores Timur dan Lembata sejak dahulu hidup dalam filosofi gemohing, yakni semangat gotong royong lintas perbedaan yang menjunjung tinggi kekeluargaan, kesetaraan, dan toleransi.
"Nilai-nilai itu terus kami pelihara dan diwariskan hingga di tanah rantau. Karena itu, keterlibatan saudara-saudari Muslim dalam acara ini merupakan cerminan kehidupan masyarakat Lamaholot yang sesungguhnya," ujarnya.
Ia juga menyampaikan rasa syukur karena seluruh rangkaian acara dapat terlaksana dengan baik meskipun panitia memiliki waktu persiapan yang relatif singkat. Keberhasilan kegiatan tersebut, katanya, merupakan buah kerja sama seluruh elemen diaspora Flores Timur dan Lembata di Jabodetabek yang bergotong royong menyukseskan perayaan syukur tersebut. (Abr/SP)

