Warga Iran Bertahan di Tengah Bom AS-Israel

redaksi - Kamis, 05 Maret 2026 20:20
Warga Iran Bertahan di Tengah Bom AS-IsraelPasar di Teheran di tengah serang gencar AS-Israil (sumber: Aljazeera.com)

TEHERAN (Floresku.com) -  Warga Iran berusaha menjalani kehidupan sehari-hari di tengah gelombang serangan udara yang dilancarkan Amerika Serikat dan Israel sejak beberapa hari terakhir. 

Ledakan yang terdengar hampir setiap hari membuat suasana ibu kota Teheran diliputi ketegangan, meskipun sebagian masyarakat tetap mencoba beraktivitas seperti biasa.

Seorang warga Teheran timur bernama Sepehr mengatakan bahwa ia dan keluarganya masih memilih bertahan di rumah selama situasi belum menjadi terlalu berbahaya. Ia mengaku suara ledakan kerap terdengar keras hingga mengguncang jendela rumah.

“Perang ini mungkin berlangsung beberapa minggu. Kami hanya akan pergi jika situasinya benar-benar memburuk. Untuk sekarang, hidup harus tetap berjalan,” katanya.

Serangan rudal Amerika Serikat dan Israel dilaporkan terjadi berulang kali sepanjang hari sejak perang pecah pada Sabtu lalu. Kota Teheran yang berpenduduk hampir 10 juta jiwa kini tampak jauh lebih sepi dibandingkan biasanya. Banyak toko tutup, sementara lalu lintas di jalanan berkurang drastis.

Pemerintah Iran menyatakan beberapa fasilitas air dan listrik mengalami kerusakan akibat serangan proyektil. Namun hingga kini belum ada laporan pemadaman besar-besaran. Otoritas juga mengimbau warga menghemat penggunaan air dan listrik untuk mengantisipasi dampak perang yang berkepanjangan.

Baca juga:

Seorang warga lain, Marjan, mengatakan bahwa ia masih bisa membeli kebutuhan pokok di toko-toko sekitar rumahnya ketika situasi relatif tenang. Meski begitu, antrean sering terlihat di toko roti maupun di beberapa stasiun pengisian bahan bakar.

“Sebagian besar barang masih tersedia, meskipun ada beberapa yang mulai langka. Yang paling terasa adalah harga yang terus naik,” ujarnya.

Sebelum perang pecah, ekonomi Iran memang sudah mengalami tekanan berat akibat inflasi tinggi. Data resmi menunjukkan inflasi tahunan mencapai lebih dari 60 persen, sementara harga pangan bahkan melonjak hingga di atas 100 persen.

Di tengah situasi tersebut, pemerintah Iran juga membatasi akses internet global. Selama hampir sepekan terakhir, sebagian besar warga hanya bisa mengakses jaringan internet domestik. Langkah ini disebut bertujuan mengendalikan arus informasi selama perang berlangsung.

Meski menghadapi ancaman bom, krisis ekonomi, dan pembatasan komunikasi, banyak warga Iran masih berusaha bertahan sambil berharap konflik segera berakhir. (Sandra-Sumber:aljazeera.com). ***

RELATED NEWS