Warga Poco Leok Kembali Hadang Tim PT PLN dan Aparat Keamanan

redaksi - Kamis, 31 Agustus 2023 10:55
 Warga Poco Leok Kembali Hadang Tim PT PLN dan Aparat KeamananWarga Poco Leok menghadangWarga Poco Leok tim PT PLN dan Aparat Kepolisian Resor Manggarai, Rabu (30/8) (sumber: SP/Jivansi)

POCO LEOK (Floresku.com) - Warga tolak geothermal kembali melakukan penghadangan terhadap tim PT PLN dan aparat keamanan yang turun ke Poco Leok, Kecamatan Satarmese, Kabupaten Manggarai, Nusa Tenggara Timur, pada Rabu 30 Agustus 2023.

Warga mengklaim, aksi tersebut dilakukan selain karena alasan-alasan yang selama ini selalu disampaikannya,  sejalan dengan arahan Wakil Bupati Manggarai, Heribertus Ngabut yang belum lama ini melakukan audiensi dengan mereka.

Wakil Bupati meminta PLN untuk menghentikan sementara seluruh aktivitas di Poco Leok sambil menunggu pemerintah daerah menyelesaikan masalah dengan warga yang menolak geothermal.

Seperti diketahui, pada saat audiensi yang digelar pada 9 Agustus 2023, Wabup Heribertus memerintahkan pihak perusahaan dan PLN serta aparat keamanan untuk menghentikan aktivitas di Pocoleok untuk sementara waktu, sambil menanti keputusan lebih lanjut dan diskusi dengan warga Poco Leok.

"Mereka sengaja datang mengganggu ketenteraman kami di sini. Padahal sudah jelas perintah dari pak wakil bupati waktu demo di Ruteng. Mereka yang datang hari ini, juga saya lihat mukanya di kantor bupati. Mereka tau itu perintah. Hanya mereka sengaja paksa diri datang lagi," tegas ibu Paulina Imbut.

Susana penghadangan terhadap tim warga PLN dan apar keamanan oleh warga Poco Leok, Rabu (30/8)

"Saya sedang bekerja di kebun tadi. Tetapi saya mendengar teriakan, ada yang datang lagi. Saya langsung ke sini saja. Mereka sudah keterlaluan. Padahal sudah dilarang oleh pak Heri Ngabut. Saya sangat marah. Ini sudah keterlaluan," tambah Elisabeth Lahus.

“Mereka sudah melanggar perintah salah satu pimpinan wilayah, yakni wakil bupati. Tapi saya menilai bahwa perintah itu, jika pakai istilah orangtua, hanya sebatas tombo lègang lonto (tidak ada tanggapan serius, tetapi hanya sebatas menenangkan dan membubarkan massa aksi).”

"Memang kita pahami, pak wakil tidak terlibat dalam penerbitan SK itu. Beliau sendiri sudah sampaikan waktu aksi kami. Selain itu, bupati juga tidak menanggapi tuntutan warga Pocoleok saat aksi di Ruteng. Buktinya, belum ada kejelasan mengenai keputusan itu sampai hari ini," tegas Bapak Agustinus Tuju," ungkat Elisabeth Lahus pula.

Jalannya Aksi Warga

Penghadangan yang terjadi berlangsung cukup menegangkan. Hanya saja, tidak ada tanda-tanda kekerasan dari kedua belah pihak, baik dari warga yang menolak gothermal maupun juga dari aparat keamanan yang turun bersama tim PT. PLN.

Sekitar pukul 10.00 WITA, simpang tiga Lungar, yang selama ini sudah tenar dengan sebutan 'simpang tiga bupati kaku', sudah dipenuhi masyarakat Pocoleok yang menolak kehadiran geothermal dari beberapa kampung sekitar, seperti Lungar, Tere, Jong, Rebak, Nderu, Mori, Cako, Mocok dan Mucu.

Susana penghadangan terhadap tim warga PLN dan apar keamanan oleh warga Poco Leok, Rabu (30/8)

Di simpang tiga tersebut, sekitar delapan orang aparat TNI sudah siaga. Melihat kehadiran aparat, ibu-ibu segera mengomel dan mengomentari. Mereka menyesalkan kehadiran pihak aparat yang dinilai selalu saja meresahkan warga. 

Ditambah, warga kecewa karena kehadiran pihak-pihak tersebut jelas-jelas melanggar perintah wakil bupati, Heribertus Ngabut, pada waktu aksi warga Poco Leok di kantor bupati, 09 Agustus 2023 kemarin.

Sambil menunggu, warga bercerita dan menyayangkan tindakan PLN dan perusahaan, yang dianggapnya sudah dengan tahu dan mau, melanggar perintah wakil bupati sebelumnya. Beberapa ibu berinisiatif menanyakan maksud kehadiran aparat tersebut.

Pihak aparat hanya menjawab bahwa kehadiran mereka di Pocoleok hanya melaksanakan perintah atasan. Mereka sebetulnya tidak mengetahui apapun yang terjadi di Poco Leok pada saat ini.

Setengah jam menunggu, warga mendengar suara beberapa kendaraan yang sedang bergerak ke arah kerumunan warga. 

Dari jarak beberapa puluh meter, sebuah mobil patwal aparat kepolisian muncul, diikuti oleh mobil mewah berwarna hitam, lalu truk keranjang milik satuan kepolisian resort Manggarai. 

Di belakangnya, beberapa unit sepeda motor kepolisian turut membuntuti dan mengiringi rombongan itu. Melihat kehadiran pihak tersebut, warga langsung menghadang di jalan.

Kerumunan warga beberapa kampung itu segera memenuhi badan jalan. Mereka mulai melakukan aksi protes dan menuntut agar diberikan penjelasan resmi dari pihak terkait, berkaitan dengan kedatangan mereka.

Aparat keamanan segera turun dan meminta kerumunan warga agar memberi akses jalan. Namun warga tetap bersikeras dan tidak mau pindah dari badan jalan sebelum rombongan itu menjelaskan maksud kedatangannya. 

Malahan, warga yang baru datang dari kampung jauh segera memadati kerumunan warga di badan jalan. Jumlah masa pun bertambah.

Aksi protes, yel-yel dan nyanyian terdengar dari kerumunan warga. Tidak sedikit pun dari pihak warga itu beranjak dari badan jalan. 

Beberapa ibu dan anak muda segera menuntut pihak yang berada dalam mobil untuk segera turun untuk memberikan penjelasan resmi terkait kehadirannya di Poco Leok. Namun rombongan yang ada tetap tidak mau turun.

Sebaliknya, aparat kepolisian segera turun dan langsung berhadapan dengan warga. Mereka juga memperketat penjagaan di sekitar mobil mewah yang ditumpangi pihak yang diduga dari PT. PLN. 

Maka, untuk ke sekian kali, warga diatur untuk diperhadapkan dengan aparat keamanan, bukannya dengan pihak yang berkepentingan dengan proyek geothermal tersebut. Warga pun tidak mendapat penjelasan langsung dari perusahaan dan PT. PLN, pihak yang berkepentingan dengan proyek geothermal yang direncanakan di Pocoleok.

Mendapat perlakuan demikian, warga kembali bereaksi. Mereka (warga, red) mulai mengutuk dan menyayangkan rombongan itu. Dan sambil berkomentar, warga menambah jumlah barisan di badan jalan.

Diketahui, barisan ibu-ibu tetap menjadi yang paling berani dalam melakukan penghadangan. Kerumunan warga Poco Leok sulit ditembus, juga komentar dan reaksi warga susah dihentikan. Warga tetap tidak mau beranjak dari badan jalanan. Situasi itu berlangsung cukup lama dan warga tetap tidak mau kompromi.

Kemudian, beberapa aparat keamanan segera meminta izin warga agar memberi ruang bagi kendaraan rombongan itu untuk berbalik arah.

Sekitar pukul 11.20 WITA, rombongan itu segera berbalik arah dan bergegas kembali ke arah Ruteng. Sementara itu, warga Poco Leok yang hadir pada aksi spontan hari ini tetap berjaga-jaga di sekitar lokasi simpang tiga Lungar sembari memastikan rombongan itu benar-benar meninggalkan wilayah Pocoleok.

Diketahui, warga Poco Leok masih menanti kelanjutan dari keputusan yang disepakati di ruang pertemuan kantor bupati Manggarai pada saat aksi yang dilakuan sebelumnya. (SP/Yudi O./Jivansi). ***

RELATED NEWS