Sepiring Nasi dari Istana (Menyoal Program Makan Bergizi Gratis)
Redaksi - Selasa, 07 April 2026 21:40
Seporsi MBG (sumber: Istimewa)Oleh: Fr. Pankrasius Tevin Lory
Suatu hari,
seorang pria bernama Republik
memutuskan masuk ke dapur.
Ia ingin belajar memasak.
Ia menggulung lengan bajunya,
yang biasanya rapi oleh protokol,
dan membiarkan tangannya
bersentuhan dengan hal-hal nyata.
Di sana, ia menemukan:
waktu tak bisa dipercepat oleh kekuasaan.
Air harus mendidih dengan sabar,
beras harus lunak dengan proses,
dan rasa tidak lahir
dari keputusan sepihak.
Ia mencoba menakar,
namun segera ia sadar:
takaran di dapur berbeda
dengan takaran di meja rapat.
Di dapur, kelebihan adalah pemborosan,
kekurangan adalah luka.
Di dapur itu,
ia berusaha mengaduk waktu
yang lama mengendap di dasar panci sejarah.
Ia tidak mau lagi hadir sebagai gagasan.
Ia ingin hadir sebagai hidangan.
Ia tidak lagi sekadar menjanjikan kehidupan,
tetapi ikut menyiapkannya.
Katanya:
“Negeri ini terlalu lama
membiarkan sebagian anaknya
tumbuh bersama bunyi perut sendiri.”
Di sudut kelas,
seorang anak tersenyum lebih lama dari biasanya,
bukan karena pelajaran terasa mudah,
melainkan karena perutnya
tidak lagi mengganggu pikirannya.
Namun, di balik meja oposisi,
seorang pemikir berujar sinis:
“Wahai Republik,
apakah engkau sungguh peduli,
atau hanya sedang belajar terlihat peduli?
Sebab, lebih mudah memberi makan tubuh rakyat
ketimbang memberi makan harapan mereka

