E-BOOK

Serial Novel Historis Realis: Api dan Darah di Langit Embo (1)

Redaksi - Kamis, 13 Agustus 2026 12:25
Serial Novel Historis Realis:   Api dan Darah di Langit Embo  (1)Cover Novel Realis 'Api dan Darah di Langit Embo' (sumber: Kreasi AI)

Mulai hari ini, Floresku.com dengan bangga menghadirkan serial tulisan eksklusif yang diangkat dari Novel Realis memukau karya penulis berbakat, MP Ali No'o. 

Temukan keindahan bahasa dan kedalaman emosi dalam cerita bertajuk 'Api dan Darah di Langit Embo' yang akan membawa Anda larut ke dalam jalinan kisah yang menyentuh dan tak terlupakan. Selamat membaca dan selamat menikmati setiap babaknya di Floresku.com!

Prolog – Masih Ada Api yang Belum Padam

LAUT Embo selalu tampak tenang di pagi hari itu. Dari tebing di depan Kampung Pauwua, airnya tampak berkilau bagai lembaran kaca biru yang tak bertepi. 

Tapi, dari atas punggung bukit  di tanjung, airnya tampak  seperti bentangan kain tenun lokal, Duka Tunggo raksasa, karena menampilkan paduan warna-warni yang memukai. 

Orang-orang tua di kampungku selalu berkata: “Jangan terlalu lama menatapnya, karena di dasar laut itu, masih ada api yang belum padam.”

Turun melalui semak-semak ilalang yang memadati punggung bukit aku  berdiri di tepi batu karang tempat kakekku dulu sering duduk memancing. 

Angin asin menampar wajahku, membawa aroma campur aduk, rumput laut, garam, ikan asin,  daging buah asam, kemiri dan gaharu – produk lokal yang selama beberapa abad menjadi komoditas dagang yang diangkut dari pelabuhan alam, Ma’u Embo.

Pelabuhan Ma'u Embo -sering disebut Pelabuhan Tonggo – memang memiliki kisah sejarah yang unik.  Di bawah sana, tak terlalu jauh dari bibir pantai yang berbatu, tertidur bangkai kapal Jepang yang ditenggelamkan oleh bom Sekutu tahun 1945. 

Sebelum itu, berabad-abad lamanya, teluk itu menjadi saksi bisu, kontak orang Embo dengan para pendatang dari berbagai suku-bangsa, Portugis, Jawa, Bugis, Bima, Belanda dan masih banyak lagi. 

Teluk itu juga menjadi saksi ketika ratusan warga Embo panik dan lari tercerai berai ‘langit terbakar’. Bahkan, tak sedikit dari mereka yang menjadi arang  karena tak sempat melarikan diri.

Setiap kali ombak menghantam karang, aku seolah mendengar gema samar: ledakan, doa, jeritan, doa, dan tangis yang bercampur menjadi dengung panjang. Tak ada yang bisa membedakan mana suara laut dan mana suara kenangan.

Rabu, 15 Oktober 2016, aku kembali ke Pauwua setelah dua puluh lima tahun merantau. Aku ingin menulis ulang kisah yang tak pernah ditulis orang — kisah tentang keluarga kami, tentang kampung kecil di pesisir selatan Pulau Flores yang menjadi saksi ‘arus globalisasi’ dan perang dunia, tentang mereka yang mati dan dibaringkan dalam pusara tak bernama. 

Aku membawa kamera, buku catatan, dan selembar foto hitam-putih: potret nenekku, Sovia, yang berdiri di depan rumah kayu beratap ilalang dengan kain tenun Dawo Tonggo yang melilit di pinggangnya. 

Konon, foto itu dibuat seorang imam Katolik dan peneliti berkebangsaan Belanda sekitar tahun 1950 karena terpesona dengan keindahan kain tenunan lokal. 

Dalam foto itu, tampak Nenek Sovia -lengkapnya, Sovia Sea, menatap kamera dengan sorot yang tenang tapi dalam; seperti menyimpan badai api yang sudah reda, tapi masih menyisakan bara.

Rumah yang jadi latar belakang foto itu, telah tiada, karena musibah kebakaran hebat. Konon, musibah itu itu menghanguskan sejumlah barang berharga seperti gading, emas, gumbang dan sejumlah kain tenun yang indah. Kini, di atas bekas rumah itu, berdiri rumah kayu yang sudah rapuh. 

Atap ilalangnya tampa menipis, tiangnya sudah tidak tegak lagi: miring, dinding anyaman bambunya bolong di beberapa bagian. Ketika aku membuka pintunya, udara lembap dan bau debu lama menyambutku. 

Di sudut ruangan ada peti kayu — yang kata ibuku,  tak pernah dibuka sejak Sovia meninggal, 28 Februari 1992.

Kunci peti itu sudah berkarat, tapi dengan sedikit paksa aku berhasil mengangkat tutupnya. Di dalamnya ada beberapa benda: rosario dari biji saga, botol minyak kelapa, buku lusuh bertuliskan Missiehuis Maumere 1936, dan sehelai kain tenun. Kain itu masih utuh, meski warnanya telah pudar. Motifnya aneh: seperti lidah api yang memanjang di antara ombak berlapis biru.

Aku mengangkatnya pelan-pelan. Bau asap samar tercium dari serat-seratnya, seolah kain itu masih menyimpan bau masa lalu yang jarang dikisahkan lagi.

Di luar, angin laut bertiup lebih kencang. Di ufuk barat, matahari seperti sudah mau jatuh, tapi pantulan cahayanya menerpa permukaan laut Ma’u Embo sehingga menimbulkan hamparan kuning keemasan yang tak henti bergeliat. 

Saa itu, aku melihat sesuatu yang ganjil: gumpalan kabut tipis naik dari tengah teluk, membentuk garis putih di udara. Orang kampung menyebutnya asap roh. 

Katanya, pada hari-hari tertentu, laut  Tonggo di hadapan Ma’u Embo mengeluarkan napas dari perutnya — napas para arwah orang Embo yang belum sempat pulang.

Aku duduk di atas soja ndawa, bentangan  bambu cincang, samil menyidik  serat-serat benang pada kain tenun yang ada di pangkuanku. 

Aku pun teringat cerita ibu: bahwa Nenek Sovia sempat ‘berpuasa menenun kain selama 10 tahun’ semenjak bom sekutu merenggut nyawa suaminya, Fransiskus Ma’u pada Maret 1945. Itu ia lakukan  sebagai tanda berkabung, mengenang suaminya tercinta.

Namun, pada awal tahun 1955, ketika menikah lagi dengan Hendrikus Bhia, ia mulai memintal benang dan menenun kain lagi. Namun, kali ini ia lakukan  dengan spirit yang berbeda dari sebelumnya. Katanya, setiap gumpal benang yang ia pintal, mewakili satu nama: satu wajah orang Embo yang hilang.

“Ibu bukan kain tenun biasa. Ini adalah tenunan doa,” kata ibu suatu malam. “Sovia tidak menulis sejarah, tapi ia menjahit ingatannya dengan tangan.”

Aku mulai membuka buku catatanku. Halaman pertama kosong, hanya judul di atas: Api dan Darah di Langit Embo. Tanganku bergetar sedikit saat menulis kalimat pertama:

“Orang bilang sejarah ditulis oleh pemenang. Tapi aku ingin menulis tentang mereka yang kalah — tentang para perempuan, anak-anak, dan para nelayan Ma’u Embo dan  Embo Wawo (Pauwua) yang hanya ingin hidup, tapi terjebak di antara bendera-bendera besar.”

Aku menulis sambil menatap laut. Setiap ombak terasa membawa potongan cerita: tentang para pedagang yang datang dari barat, tentang kapal Portugis yang berlabuh di Tonggo dengan salib dan meriam, tentang orang Belanda licik dan suka memecah belah, tentang para saudagar Ende yang juga berperan sebagai bajak laut, tentang pasar gelap budak Maunura yang menakutkan banyak orang muda, tentang penjelajah Belanda yang mencatat sejarah dan merekam tradisi perempuan penenun Keo, dan tentang serdadu Dai Nippon yang kejam, dan tentang pesawat pembon Sekutu yang merenggut nyawa suami Sovia tanpa rasa belas kasihan. 

Kini, sebagai cucu mereka, saya menerawang dan menatap ke langit senja, seakan langit itu benar-benar kembali menyala, terbakar persis di atas tanah Tonggo.

Beberapa waktu kemudian api di langit mulai redup. Namun, kejauhan, sejajar dengan Pulau Ende, garis merah lembut muncul di cakrawala, seolah matahari terbenam ingin meniru nyala lampu kapal di laut. Tapi aku tahu itu bukan lampu. Itu hanya bayangan api lama yang enggan padam dalam ingatan laut.

Aku menutup catatan dan berdiri. Ombak terakhir menyapu pasir dan kembali ke lautan. Dalam gemuruhnya, aku mendengar seakan ada suara orang berbisik, sangat pelan: “Tulislah kisah  kami.”

Aku berjanji, akan kutulis semuanya — dari asal-usul kampung ini, dari Embo - yang kemudian dikenal juga sebagai Tonggo,  pelabuhan para pelaut abad ke-14, sampai ke  tragedi berdarah tahun 1945.

Di bawah sana, di dasar Laut Tonggo dan sepanjang pesisir Ma’u Embo, sejarah beristirahat dalam diam. Tapi malam ini, aku merasa mereka mendengarkan. Dan untuk pertama kalinya sejak lama, aku melihat asap tipis itu naik perlahan dari permukaan laut — asap yang menandai bahwa kisah ini akhirnya siap dihidupkan kembali.

“Sejarah bukan sesuatu yang berlalu, melainkan sesuatu yang terus menatap kita dari dalam laut.”' (BERSAMBUNG). ***

Editor: Redaksi

RELATED NEWS