E-BOOK

Serial Novel Historis Realis: Api dan Darah di Langit Embo (2)

Redaksi - Jumat, 14 Agustus 2026 13:29
Serial Novel Historis Realis: Api dan Darah di Langit Embo (2)Ilustrasi: Embu Ali No'o dan isterinya Nggode Bai. (sumber: Gambar Ilustasi AI)

Bab 1: Jejak Leluhur di Jalur Angin Cendana (Abad ke-13 dan14 M)

LAUT di depan Tonggo-Embo belum pernah tenang sepenuhnya. Ia bernafas dengan irama sendiri: kadang lembut seperti bisikan doa, kadang garang seperti murka dewa yang lupa nama. 

Dari tebing batu berlumut, angin berhembus membawa aroma asin dan wangi cendana yang terbakar di kejauhan—wangi yang menjadi nama bab ini, “angin cendana”, sebab setiap kali musim timur tiba, aroma  kayu cendana dari Tanah Timor, Sabu dan Sumba Sabu sering tercium sampai di Keo. 

Orang tua-tua berkata, angin itu membawa pesan dari jauh: kabar dari saudara-saudara yang sedang berlayar, atau tanda bahwa ombak akan segera berganti arah.

Laut Sebelum Nama

Sebelum ada peta, sebelum kerajaan besar menandai wilayahnya, laut di selatan Flores adalah buku terbuka. 

Perahu-perahu kecil dari  Kampung Embo dan kampung nelayan di sekitarnya  melintas di atasnya seperti semut di punggung raksasa. Mereka menukar daging buah asam, kemiri dan gaharu, ikan kering, gurita yang diasapkan, dan teripang dengan kain tenun India, manik kaca, dan logam dari Jawa, ataupun Malaka. 

Orang Tonggo dan  masyarakat Keo pada umumnya menyebut jalur itu, “woja nitu” – jalur roh-roh laut. Sebab mereka percaya arwah para leluhur juga menumpang di layar setiap kali angin bertiup ke barat.

Pelaut dari Tonggo belum tahu seni menulis, tapi mereka meninggalkan jejak pada batu,  cerita dan nyanyian. 

Di tepi pantai Ma'u Embo, masih ada Watu Nggua, batu tegak setinggi pinggang dengan batu datar di atas,  tempat para pelaut  dulu meletakkan sesaji sebelum berangkat berlayar. Di situ mereka menaruh buah kelapa muda, sirih pinang, dan segenggam nasi dan beberapa potong daging babi sambil berbisik: “Oe embu kajo, iro aro, miu ta muri mudu dhadhi do'e.  Miu ta wi'a mudu, pangga mesi dema, dedo nusa. Pisu kasi ne'e nitu angi wara, mo'o imu tu ri'a wingga pawe sau daja kami.  Pis kasi mogha ena embu Mesi mere, mo'o mbata ma'e papa rada, mo'o kami sadhi ridi nusa ri'a, wado sa'o ne'e tembo ri'a  sama ngawu pawe” .  (Oh, nenek moyang, kalian yang menjadi pendahulu kami. Mohonlah pada pencipta  angin, agar berhembus  tulus menuntun kami menuju pelabuhan tujuan. Mohonlah juga pada pencipta laut, agar tidak tidak menimbulkan gelombang besar yang mengganggu pelayaran kami. Biarkan kami pulang kembali, bersatu dengan keluarga, sanak saudara dan warga kampung, dalam keadaan sehat bawa rejeki yang berlimpah.") 

Baca juga:

https://floresku.com/read/serial-novel-historis-realis-api-dan-darah-di-langit-embo

Bagi orang Tonggo- Embo,  laut adalah sekolah mereka. Dari gelombang, mereka belajar arah. Dari bintang, mereka belajar waktu. Dari awan, mereka belajar firasat. Tak ada kompas, tak ada pelaut yang berlayar tanpa menatap Ndada Wodo Wete, bintang utara yang dianggap mata dewa laut, penunjuk ara pulang ke rumah. 

Bila bintang itu terbenam di balik awan hitam pekat, mereka tahu musim barat akan datang dan layar mesti digulung, lalu bergegas mendayung menuju daratan terdekat.

Jalur Lama

Pada masa itu, antara abad ke-13 hingga 14, ketika Sriwijaya mulai redup dan Majapahit menegakkan panjinya, lautan Nusantara menjadi nadi kehidupan. 

Dari Malaka  hingga ke Bugis, Makassar dan Ternate,  dari Bima hingga ke Solor dan tana Timor, ada jaringan tak kasat mata yang menghubungkan manusia, barang, dan doa. 

Tonggo, walau kecil, adalah simpul di ujung timur jaringan itu. Tonggo adalah teluk yang tenang, cocok untuk mengaso setelah berlayar dalam waktu panjang. 

Di Tonggo ada sumber mata air yang segar dengan warga yang ramah. Di sana para pelaut dan pedagang dapat berbarter hasil dengan komoditas lokal daging buah asam, kemiri gaharu,  dan bahan makanan seperti jagung, ubi-ubian dan aneka jenis kacang-kacangan. 

Ketika berlayar ke negeri nun jauh ke arah matahari terbenam, seperti ke Jawa, orang Tonggo membawa serta barang-barang komoditas lokal itu.  Mereka singgah di Warloka dekat Labuan Bajo, lalu ke Bima, Sumbawa, bahkan kadang ke Gresik di tanah Jawa. 

Di setiap persinggahan itu,  mereka menukar hasil buminya dengan logam dan kain sutra. 

Tapi bagi mereka, perdagangan bukan sekadar mencari untung. Perjalanan adalah bentuk pengabdian. Laut adalah ruang ziarah: mengenal dunia dan menjalin persahabatan dengan suku bangsa lain.

Itu sebabnya, di rumah-rumah bambu di Pauwua, anak-anak dibesarkan dengan cerita tentang pelayaran para  leluhur. 

Setiap kali bulan purnama, para tetua berkumpul di pantai dan menceritakan kembali kisah Embu Ali No'o dan istrinya, Nggode Bai—dua sosok semi-mitologis yang dipercaya sebagai pelaut pertama dari Tonggo-Embo yang menembus jalur barat.

 Ali No'o, Penembus Laut Tak Bernama

“Ali Noo,” kata seorang tetua kepada cucunya, “adalah anak dari batu karang.”

Ia lahir di bawah langit badai. Ibunya meninggal saat melahirkan, dan tubuh bayi itu ditemukan terapung di antara lumut laut. Seekor ikan duyung membawa bayi itu ke pantai, dan seorang nelayan memungutnya, memberinya nama Ali Noo—yang berarti “anak ombak pertama”.

Ketika dewasa, Ali Noo dikenal tak takut laut mana pun. Ia membangun perahu besar dari kayu jati yang didapat dari pegunungan di selatan Keo. Perahu itu dinamai Tana Mbawa, artinya “tanah yang mengapung”. Ia menolak hidup hanya di sekitar pantai; katanya, “tanah kita sempit, tapi laut tak punya dinding.”

Ali No'o berlayar ke barat, mengikuti jalur burung camar. Setelah berbulan-bulan, ia tiba di pesisir Gresik dan berjumpa dengan saudagar-saudagar Jawa yang membawa kain batik, logam, dan rempah dari Malaka. 

Mereka menukar daging buah asam, kemiri dan gaharu Keo dengan besi tempa, kain tenun India dan periuk tembaga  dari negeri Cina. 

Ali No'o belajar banyak dari mereka: cara menenun layar besar, cara membaca angin lewat warna langit, bahkan cara menghitung waktu dengan bayangan matahari.

Ketika kembali ke Tonggo, ia membawa bukan hanya barang, tapi juga cerita. Ia bercerita tentang dunia luas di barat sana, tentang kota-kota di tepi sungai besar, dan tentang orang-orang yang menulis dengan pena dari bulu burung. 

Ceritanya mengubah pandangan masyarakat Tonggo: bahwa mereka bukan hanya penghuni tepi laut, tapi bagian dari dunia besar yang dihubungkan lautan.

Namun, seperti banyak tokoh dalam legenda laut, Ali No'o tidak mati di darat. Ia hilang dalam pelayaran ke selatan. Orang-orang hanya menemukan potongan layarnya di pantai Sabu. Sejak itu, bila ada kapal yang tak pulang, para istri pelaut di Tonggo menyalakan pelita dan berdoa, agar  Yang Mahakuasa berkenan menjaga arah, seperti yang pernah dilakukanNya, pada leluruh mereka, Ali No'o.

 Nggode Bai, Penjaga Angin

Jika Ali Noo mewakili keberanian, maka istrinya, Nggode Bai adalah lambang kesetiaan. Turunan Ia So’o ini disebut-sebut memiliki “telinga angin”. Setiap kali angin berubah arah, ia tahu apa yang akan menimpa warga kampung.

Dalam kisah rakyat, Nggode Bai, adalah istri Ali Noo yang sangat setia. Setelah suaminya hilang di laut, ia menolak menikah lagi. Ia tinggal di tepi karang, menenun kain dengan motif gelombang dan menunggu angin timur datang. 

Konon, ia suka berbicara dengan laut. Bila ada kapal yang belum pulang, orang datang kepadanya menanyakan nasib pelaut. Ia akan menutup mata, mendengarkan desir angin, lalu menjawab: “Jika angin selatan menari, mereka akan pulang. Jika diam, mereka telah ditelan  ombak.”

Setelah Nggode Bai meninggal, masyarakat Tonggo membuat ritual tahunan untuk mengenangnya: Woja Nuwa, tarian angin yang dilakukan setiap awal musim timur. Perempuan menari dengan kain tenun panjang, seolah menjadi layar, sementara laki-laki menabuh lesung dari batang kelapa. Tarian itu bukan hanya penghormatan, tapi juga doa agar warga yang mengadu nasib di laut kembali ke rumah dengan selamat dan banyak rejeki.

 Pengetahuan Laut

Pelaut Tonggo memiliki cara sendiri membaca dunia. Mereka mengenal angin dari aroma laut. Mereka mendeteksi arus laut dari rasa asin, dan kedalaman laut dari warna. 

Laut itu punya bahasa,” kata mereka, “dan kita hanya perlu belajar mendengarnya.”

Sebelum berangkat, para pelaut menyiapkan sesaji kecil: nasi, sirih, dan air kelapa muda. Setelah melakukan ritual di Watu Nggua mereka melemparkan sebagian bahan sesajian ke laut sambil berkata, “Oe Embu Mesi, kami dhato ena kau mona nee ate gera. Kami demba ne'e ate bhala,  nggae ka tau pagha fai ana." ("Oh Kakek Laut, kami datang bukan untuk menantang, tapi untuk ikut bergerak bersamamu, mengais rejeni untuk menafkahi anggota keluarga.”)

Jadi, bagi orang Tongg-Embo, laut bukan musuh; laut adalah makhluk tua yang perlu didekati dengan penuh rasa hormat.

Di perahu, mereka membawa Go Genga , alat musik petik dari bambu. Saat malam, mereka memainkan nada-nada lembut untuk menenangkan angin. Mereka percaya, suara Go Genga bisa membuat roh laut tertidur. Bila laut tenang, mereka tidur bergantian, berselimutkan bintang.

Mereka juga mengenal bintang dengan nama-nama lokal seperti:

  • Ndanda Wodo Wete, bintang utara, penunjuk arah rumah.
  • Dndanda Wiku Mena, gugus tiga bintang yang menandakan datangnya musim timur.
  • Nddada  Deki Rade, bintang yang muncul rendah di langit barat; bila ia muncul, itu tanda bahwa ikan tongkol berlimpah.

Pengetahuan ini diwariskan turun-temurun tanpa tulisan, hanya lewat lagu dan cerita. Seorang anak bisa tahu arah mata angin hanya dengan menutup mata dan mendengarkan suara ombak yang memecah di karang.

Laut Sebagai Ingatan

Dari abad ke abad, kehidupan orang-orang Tonggo-Embo berputar di sekitar laut. Laki-laki berlayar, perempuan menenun dan menjaga rumah, anak-anak belajar berenang sebelum belajar mendaki bukit. 

Ketika seorang pelaut meninggal, tubuhnya tidak dikuburkan di tanah, melainkan dilarung ke laut dengan batu pemberat di dada. Katanya, supaya orang itu  “tidak tersesat dalam arus dan gelombang laut”.

Sampai kini, di beberapa rumah tua  di Tonggo-Embo masih tersimpan tali layar dan potongan dayung dari masa itu. Setiap kali ada badai besar, orang percaya bahwa roh Ali No'o dan Nggode Bai berlayar di atas ombak, mengantar arwah para pelaut ke langit.

Karakter yang Terbentuk dari Cerita Iman, Kekuasaan dan Harta serta Perang

Suatu senja, saat duduk di soja  ndawa di pondok milik pamanku Yakob Sajo yang bertengger di tebing, belakang kampung Pauwua, aku tertegun mendengar  kisah yang dituturkan tanteku, Marta Te. 

Dari narasinya, aku mencatat beberapa kalimat berikut.

“Dalam diri para leluhur Tonggo-Embo mengalir darah yang bercampur air laut.  Itu sebabnya mereka tak pernah takut pada laut. Sejak masa ketika daratan belum mengenal batas dan peta belum menggambar garis, mereka telah menjadikan laut sebagai jalan, guru, sekaligus rumah kedua. Dengan perahu sederhana, mereka menantang gelombang, membaca bintang, mencium arah angin, dan mengenali perubahan arus dari warna air. Setiap pelayaran adalah pertaruhan hidup, tetapi juga perjalanan mencari masa depan. Mereka berlayar membawa hasil bumi, kain, dan harapan; pulang membawa cerita tentang tanah-tanah jauh. Bagi mereka, laut bukan pemisah, melainkan jembatan yang menghubungkan Tonggo-Embo dengan dunia luas di balik cakrawal.”

Dari leluhur yang tak takut pada luat  inilah, muncul generasi  yang berjumpa dengan bangsa-bangsa asing: Portugis, Belanda, dan Jepang.  Orang-orang asing itu  datang membawa cerita baru yang campur aduk tentang iman, kekuasaan dan harta, dan serta.  Cerita yang campur aduk  membentuk karakter orang-orang Tonggo-Embo, hingga hari ini. * (BERSAMBUNG). ***

Editor: Redaksi

RELATED NEWS