Subuh, Altar, dan Rahasia Kehidupan Seminari
Redaksi - Minggu, 07 Juni 2026 14:30
Kompleks Seminari Menengah St Yohanes Berkmans Todabelu, Mataloko. (sumber: Isitimewa)(Mengenang Dua Tahun Penuh Makna di Seminari Mataloko)
Oleh Fr. Tevin Lory
DUA tahun bukanlah waktu yang singkat. Namun di Seminari Mataloko, waktu seolah mengalir dalam ritmenya sendiri. Ia menuntun saya memasuki sebuah ziarah intelektual dan spiritual yang kaya.
Sebagai seorang Frater yang menjalani masa Tahun Orientasi Pastoral (TOP) di sini selama dua tahun terakhir, saya beruntung dapat menyaksikan, menghayati, dan mengagumi bagaimana lembaga ini membentuk manusia.
Berada di sini membuat saya menyadari bahwa Seminari Mataloko bukan sekadar sebuah sekolah atau tempat pembinaan calon imam.
Ia adalah sebuah ruang alternatif yang menantang arus zaman. Di tengah dunia yang bergerak begitu cepat, bising, dan dangkal, Mataloko menawarkan sebuah oase yang kontras.
Lewat tulisan ini, saya ingin membagikan kisah dan permenungan tentang bagaimana kehidupan di lembah sunyi ini menuntun saya menemukan kembali jati diri yang jujur, menghayati waktu yang kudus, meruntuhkan sekat dalam mendidik, hingga mengecap arti dari sebuah kesuksesan sejati.
Baca juga:
- Bacaan Liturgis Hari Raya Tubuh dan Darah Kristus
- 5.361 Anak di Keuskupan Maumere Siap Sambut Komuni Pertama
- TUBUH DAN DARAH KRISTUS, SUMBER HIDUP SEJATI
Saya mulai peziarahan batin ini dari subuh yang syahdu, saat ritme tubuh perlahan melebur dengan ritme ilahi.
Subuh: Antara Ritme Biologis dan Ritme Ilahi
Setiap hari di Mataloko dimulai pukul 04.30 subuh, yang langsung bermuara pada Perayaan Ekaristi. Pola hidup ini membalikkan konsep waktu sekuler.
Menurut filsuf waktu, Henri Bergson, waktu bukan sekadar durasi matematis yang mekanis, melainkan durasi batiniah yang dihayati (Bergson, Time and Free Will, 1910).
Dengan menempatkan Ekaristi pada fajar hari, seminari sedang melakukan sakralisasi waktu. Kehidupan tidak dimulai dengan kecemasan akan urusan duniawi, tetapi dengan penyerahan diri kepada Yang Ilahi.
Ekaristi menjadi pusat gravitasi eksistensial. Para seminaris dilatih untuk menyelaraskan ritme biologis mereka dengan ritme ilahi (ritus liturgis). Jam tubuh tunduk pada jam rahmat. Sebelum tubuh bekerja, jiwa terlebih dahulu berlutut.
Sebelum mereka berbicara kepada dunia, mereka lebih dahulu mendengarkan suara Tuhan. Dari altar itulah seluruh aktivitas memperoleh arah dan makna.
Mereka belajar bahwa panggilan imam bukan pertama-tama soal kemampuan intelektual atau keterampilan pastoral, melainkan kemampuan menghadirkan Tuhan sebagai pusat hidup.
Imam yang sejati bukanlah orang yang sibuk berbicara tentang Allah, melainkan orang yang terlebih dahulu hidup di dalam waktu Allah.
Subuh di Mataloko mengajarkan bahwa hidup manusia tidak diukur pertama-tama dari seberapa banyak yang dikerjakan, tetapi dari kepada siapa hidup itu dipersembahkan.
Askese Digital: Jalan Memutar Menuju Kedalaman Berpikir
Ada sebuah paradoks ketika melangkah masuk ke dalam pagar seminari. Jika di luar sana, manusia dipermudah oleh layar kaca berukuran lima inci, maka di Mataloko, kemudahan itu diredam oleh sebuah aturan yang radikal. Siswa dilarang membawa Hp.
Secara filosofis, larangan ini adalah sebuah tindakan askese (penyangkalan diri) yang radikal untuk menyelamatkan autentisitas manusia.
Filsuf Heidegger dalam kritiknya terhadap teknologi mengingatkan bahwa teknologi modern berisiko memperalat manusia dan menjauhkannya dari "Ada" (Sein) yang sejati (Martin Heidegger, The Question Concerning Technology and Other Essays, 1977).
Baca juga:
- REVIEW BUKU: Pancasila sebagai Jembatan Kemanusiaan Dunia
- Iman Kepada Allah dan Tanggung Jawab Terhadap Sesama
- Jejak ‘Jogo’ di Flores Tengah: Tiga Tokoh, Satu Misteri
Ketika HP disingkirkan, layar-layar yang biasanya memancarkan cahaya semu itu digantikan oleh hamparan kabut pagi Mataloko yang jujur.
Bunyi notifikasi yang riuh dan menuntut perhatian konstan, bertukar dengan keheningan yang teduh. Di sinilah para seminaris belajar merayakan apa yang disebut sebagai solitude (kesunyian yang subur), bukan loneliness (kesepian yang gersang).
Paul Tillich menyebut kesunyian ini sebagai tempat manusia menemukan kembali kemurnian jiwanya (Paul Tillich, The Eternal Now, 1963).
Larangan membawa HP di Mataloko adalah sebuah bentuk "puasa modern". Aturan ini meruntuhkan berhala kemudahan.
Di lembah sunyi ini, para seminaris tidak sedang tertinggal oleh zaman, mereka justru sedang diselamatkan dari pendangkalan zaman. Mereka diajar untuk hadir seutuhnya, dalam doa, dalam tatap muka dengan sesama saudara, dan dalam perjumpaan yang hidup dengan realitas di sekitar mereka.
Ketika jemari tak lagi sibuk berselancar di jagat digital, tangan-tangan para siswa kembali menemukan kodratnya yang paling indah, yaitu membalikkan lembar-lembar buku. Mereka menjadi akrab dengan aroma kertas yang khas.
Membaca tidak lagi sekadar mencari informasi, tetapi sebuah percakapan batin yang intim dengan para pemikir hebat, para kudus, dan para penyair dari masa lalu.
Buku menjadi jendela dunia yang tidak menjebak mereka dalam kepalsuan, tetapi mengantar mereka pada kedalaman berpikir.
Menolak Segala Bentuk Kasta Intelektual
Suatu hari, menjelang perlombaan Hardiknas di Aimere, para guru berkumpul di ruang guru SMA.
Di tengah pembicaraan tentang persiapan siswa, Romo Alex, guru Bahasa Indonesia senior, tiba-tiba mengucapkan kalimat yang membuat ruangan seketika hening: "Jangan-jangan kita hanya sibuk memintarkan orang yang sudah pintar. Lalu mereka yang tidak ikut lomba, apakah kita tega biarkan mereka tetap merasa bodoh dan tertinggal?"
Kalimat itu sederhana, tetapi terasa seperti pisau yang menikam sistem pendidikan. Tanpa disadari, dunia pendidikan sering jatuh pada kebiasaan merawat yang sudah bersinar, sementara yang redup dibiarkan perlahan tenggelam dalam bayang-bayang.
Sekolah kadang terlalu sibuk mengejar piala, hingga lupa bahwa di sudut-sudut kelas masih ada banyak anak yang sungguh butuh didampingi.
Berkenaan dengan ini, Freire menolak "konsep bank" dalam pendidikan (Banking Concept of Education). Menurutnya sekolah hanya berinvestasi pada murid-murid tertentu yang dianggap menguntungkan secara reputasi.
Ketika sekolah hanya berfokus pada siswa-siswa genius untuk mengejar piala dan reputasi lembaga, sekolah sedang melanggengkan ketidakadilan struktural dan menciptakan "tembok kebodohan" bagi mayoritas siswa lainnya.
Pendidikan sejati, baginya, bukanlah soal siapa yang paling cepat mencapai podium, melainkan siapa yang paling sungguh dibantu untuk bertumbuh sebagai manusia (Paulo Freire, Pedagogy of the Oppressed, 1970).
Kritik Romo Alex ditanggapi secara serius. Waktu itu, semua bersepakat untuk membuat program perlombaan internal bagi siswa yang tidak ikut Hardiknas. Seminari tidak mau membiarkan siapa pun merasa menjadi “murid kelas dua”.
Semua diberi ruang untuk berkembang, untuk mencoba, untuk gagal, dan untuk menemukan kemampuan dirinya sendiri.
Seminari menolak segala bentuk kasta intelektual. Semua siswa dirangkul dalam rahim yang sama. Bukan hanya mengangkat mereka yang sudah tinggi, melainkan juga merangkul mereka yang belum sempat berdiri tegak.
Kecerdasan bukanlah hak istimewa segelintir orang, melainkan cahaya yang harus dinyalakan dalam diri setiap manusia.
Sekolah yang besar bukanlah sekolah yang hanya melahirkan para juara, melainkan sekolah yang tidak tega membiarkan satu pun anak merasa bodoh dan tertinggal.
Piala Prestasi atau Piala Ekaristi?
Dunia hari ini cenderung menilai keberhasilan melalui ukuran-ukuran yang kasatmata. Sebuah lembaga pendidikan sering kali dihargai dari banyaknya piala yang dipajang, angka-angka prestasi yang dicetak, serta status sosial yang berhasil diraih para alumninya.
Segalanya dibuat terukur, statistik menjadi kebanggaan, dan pengakuan publik perlahan berubah menjadi standar utama keberhasilan. Dalam arus besar seperti ini, pendidikan kerap direduksi menjadi sekadar mesin pencetak prestasi.
Memang tidak bisa dimungkiri, rahim seminari ini pun telah melahirkan begitu banyak alumni yang tapak kakinya sukses menjejak di luar sana.
Banyak yang berhasil menduduki posisi strategis, diakui publik, dan mewarnai panggung dunia dengan berbagai pencapaian gemilang. Namun, di balik semua kontribusi nyata itu, seminari ini menawarkan cara pandang yang jauh lebih dalam.
Visi akhirnya tidak pernah diukur dari seberapa tinggi seseorang mampu berdiri di atas panggung dunia, tetapi dari seberapa dalam ia bersedia membungkuk dan bersujud di hadapan altar.
Di tempat ini terjadi sebuah transformasi cara pandang, yaitu dari yang bersifat temporal-horizontal menuju yang bersifat kekal-vertikal.
Ada transformasi dari keinginan meraih kesuksesan menuju keberanian untuk menyerahkan diri sepenuhnya kepada Kristus. Kontras radikal inilah yang mengajak kita untuk merenung kembali: Di manakah sejatinya letak keberhasilan sebuah proses formatio (pembentukan diri)?
Karena itu, di seminari ini, yang dikejar bukanlah piala prestasi, melainkan piala Ekaristi. Yang dicari bukanlah seragam dinas, melainkan busana rohani.
Yang dituju bukanlah mimbar retorika, melainkan mimbar sabda. Yang diusahakan bukanlah keharuman nama sekolah, melainkan keharuman nama Kristus.
Sebuah Catatan Pulang
Kini, ketika masa dua tahun itu telah genap, saya menyadari bahwa Mataloko tidak pernah benar-benar ditinggalkan.
Bunyi lonceng subuhnya akan tetap bergema dalam ingatan, dingin kabutnya akan selalu dirindukan, dan formasi rohani di depan altarnya telah terpahat permanen dalam jiwa.
Terima kasih, Mataloko. Terima kasih untuk para seminaris yang mengajari saya arti ketulusan, dan para imam pembina yang menunjukkan arti kesetiaan.
Di tanah Ngada ini, saya tidak hanya belajar bagaimana cara membina orang lain, tetapi yang terutama, saya telah dibina oleh kehidupan itu sendiri.***

