Teknologi Biochemical Chamber Jadi Solusi Tekan Timbunan Sampah
Justina Nur Landhiani - Kamis, 22 Oktober 2026 20:48
Teknologi Biochemical Chamber Bisa Pangkas Massa Sampah Organik Hingga 80% (sumber: ist)JAKARTA – Pengelolaan sampah organik tak cukup hanya dengan proses pengumpulan dan pembuangan. Material sampah yang masih memiliki nilai guna juga perlu diolah agar dapat dimanfaatkan kembali. Oleh karena itu, dibutuhkan solusi teknologi pengolahan yang mampu menekan massa sampah sekaligus menghasilkan material yang berpotensi digunakan untuk keperluan lain. Pengolahan sampah langsung dari sumbernya pun dapat menjadi salah satu pilihan untuk mendukung upaya tersebut sekaligus memperkuat penerapan ekonomi sirkular di Indonesia.
Hal ini menjadi sorotan dalam seminar Advanced Composting Technology 2026: Transforming Organic Waste into Valuable Resources yang diselenggarakan PT Wannan Inti Teknologi bersama PT Indonesia Environment Consultant dalam rangkaian ALLPACK INDONESIA EXPO 2026 di JIEXPO Kemayoran, Jakarta, Rabu, 21 Oktober 2026.
Direktur PT Wannan Inti Teknologi Jeremy Wijaya memaparkan teknologi biochemical chamber sebagai salah satu alternatif pengolahan sampah organik, mulai dari skala usaha hingga industri. Besarnya tantangan pengelolaan sampah di Indonesia memperkuat urgensi pendekatan tersebut.

Pengelolaan sampah organik tidak hanya berfokus pada pengumpulan dan pembuangan, tetapi juga mencakup upaya mengolah dan memanfaatkan kembali material yang masih bernilai. Untuk itu, diperlukan solusi pengolahan yang dapat mengurangi massa sampah sekaligus membuka peluang pemanfaatan hasil olahan. Pengembangan teknologi pengolahan sampah di sumbernya, menjadi salah satu alternatif untuk mendukung upaya tersebut dan mendorong penerapan ekonomi sirkular di Indonesia.
Data yang dipaparkan dalam seminar menunjukkan bahwa Pulau Jawa menyumbang sekitar 58,7% dari total timbunan sampah nasional. Di tengah tantangan ini, pengolahan sampah organik di lokasi sumbernya, seperti hotel, restoran, industri makanan dan minuman, serta kawasan komersial, menjadi salah satu alternatif untuk mengurangi beban penanganan sampah konvensional.
“Pertanyaannya adalah, seberapa banyak sampah yang sebenarnya bisa kita selesaikan sebelum mencapai tempat pembuangan akhir? Karena semakin besar sampah atau limbah organik yang diolah lebih awal, maka semakin kecil ketergantungan kita terhadap tempat pembuangan akhir,” ujar Jeremy.
Sampah organik memiliki karakteristik yang membutuhkan penanganan khusus, antara lain kadar air yang tinggi dan potensi menimbulkan bau selama proses penguraian. Namun, dengan pengelolaan yang tepat, material tersebut juga berpotensi diolah menjadi sumber daya yang dapat dimanfaatkan kembali.

PT Wannan Inti Teknologi memperkenalkan sistem pengolahan terintegrasi yang mencakup pemilahan serta pengolahan fraksi padat menggunakan mesin biochemical chamber. Teknologi ini tersedia dalam variasi kapasitas input mulai dari 30 kilogram hingga 120 ton per hari, bergantung pada model dan spesifikasi unit.
Untuk menjawab kebutuhan tersebut, PT Wannan Inti Teknologi memperkenalkan sistem pengolahan terintegrasi yang mencakup pemilahan serta pengolahan fraksi padat menggunakan mesin biochemical chamber. Teknologi ini tersedia dalam variasi kapasitas input mulai dari 30 kilogram hingga 120 ton per hari, bergantung pada model dan spesifikasi unit.
Menurut Jeremy, teknologi tersebut dirancang untuk memproses sampah organik dalam siklus 1 x 24 jam. Dalam contoh pengolahan yang dipaparkan, input material sebanyak 120 ton menghasilkan sekitar 24 ton material olahan, atau reduksi massa sekitar 80% selama proses. “Dengan mesin biochemical chamber, dalam 1 x 24 jam reduksi massanya mencapai 80 persen. Hasil dari reduksi massa itu bisa digunakan untuk media tanam, membantu menstabilkan pH tanah, meningkatkan unsur hara, serta mendukung reklamasi lahan,” kata Jeremy.
Dengan berkurangnya massa material, teknologi ini juga menawarkan potensi efisiensi dalam penanganan hasil proses. Adapun besarnya pengurangan sampah yang pada akhirnya dikirim ke tempat pemrosesan akhir akan bergantung pada penerapan teknologi, sistem pengelolaan di lokasi, dan pemanfaatan hasil olahan.
Menuju Ekonomi Sirkular

Kolaborasi ini diharapkan dapat memperluas pilihan bagi pelaku usaha dalam mengelola limbah secara bertanggung jawab, dengan mempertimbangkan karakteristik material, kesesuaian teknologi, dan potensi pemanfaatan hasil olahan.
Pengolahan sampah dari sumbernya menjadi salah satu langkah untuk mendukung ekonomi sirkular, dengan mengoptimalkan pemanfaatan limbah sebagai sumber daya bernilai. PT Wannan Inti Teknologi mendorong pengelolaan sampah yang mengintegrasikan pengolahan, daur ulang, dan pemulihan material.
Selama ini, limbah organik kerap dipandang sebagai beban yang harus dibuang. Padahal, dengan pengolahan yang tepat, limbah tersebut berpotensi menjadi sumber daya yang dapat dimanfaatkan secara berkelanjutan.
Sejalan dengan hal tersebut, Jeremy menekankan pentingnya perubahan cara pandang untuk mendukung masa depan pengelolaan sampah yang lebih berkelanjutan. “Pemanfaatan kembali sumber daya ini mendukung ekonomi sirkular di tengah masyarakat. Ketika organic waste tersebut bisa diolah dengan baik, maka kita bisa membayangkan masa depan di mana sampah atau beban limbah organik tersebut bisa menjadi sumber daya yang berkelanjutan,” kata Jeremy.
CEO PT Indonesia Environment Consultant, E. Kurniawan Padma, berharap bahwa apa yang dilakukan hari ini dengan PT Wannan Inti Teknologi adalah bagaimana kita menuju ekonomi sirkular. "Kita ingin produksi berkelanjutan melalui konsumsi yang bertanggung jawab, penggolongan, pengolahan dan juga daur ulang serta pemulihan material,” ucap Kurniawan.
Kolaborasi ini diharapkan dapat memperluas pilihan bagi pelaku usaha dalam mengelola limbah secara bertanggung jawab, dengan mempertimbangkan karakteristik material, kesesuaian teknologi, dan potensi pemanfaatan hasil olahan.
Tulisan ini telah tayang di halojatim.com oleh Redaksi pada 22 Okt 2026

