Warga Beru Bertahan di Tenda Darurat Kota Baru, BPBD Sikka Belum Respon

Redaksi - Senin, 17 Agustus 2026 19:20
 Warga Beru Bertahan di Tenda Darurat Kota Baru, BPBD Sikka Belum ResponWarga Beru Bertahan di Tenda Darurat Lapangan Kota Baru (sumber: Herry Fdz)

MAUMERE (Floresku.com) – Trauma gempa masih dirasakan warga Kelurahan Beru, Kecamatan Alok Timur, Kabupaten Sikka. Setelah gempa susulan kembali mengguncang wilayah Maumere, warga memilih bertahan di ruang terbuka dan sebagian tidak berani kembali ke rumah.

Di Lapangan Kota Baru, sejumlah warga Kelurahan Beru dan Kelurahan Kota Baru berkumpul sejak siang hingga malam hari. Mereka mengaku masih takut terhadap kemungkinan terjadinya gempa susulan yang lebih kuat.

Kondisi tersebut semakin mencekam setelah gempa susulan berkekuatan magnitudo 5,5 membuat warga berhamburan keluar rumah dan menuju lapangan terbuka.

Bagi warga yang tinggal di kawasan padat penduduk dengan gang-gang sempit dan diapit tembok tinggi, berada di ruang terbuka dianggap lebih aman dibandingkan kembali ke rumah.

Lurah Beru Hadir di Tengah Warga

Lurah Beru, Elisabeth Neny Trinata yang akrab disapa Elsa, turun langsung mendampingi warga yang mengungsi di Lapangan Kota Baru.

Elsa bersama Kepala Seksi Keamanan dan Ketertiban Masyarakat Kelurahan Beru melakukan pendataan warga secara langsung untuk kemudian dilaporkan kepada BPBD Kabupaten Sikka.

Tercatat 16 kepala keluarga atau 62 jiwa dari Kelurahan Beru berada di lokasi tersebut. Selain itu, terdapat 5 kepala keluarga dari Kelurahan Kota Baru.

“Kita harus bahu-membahu dan saling menguatkan. Kita harus tenang, tidak boleh panik, tetapi tetap waspada,” kata Elsa.

Ia juga mengingatkan masyarakat agar tidak mudah mempercayai informasi yang beredar di tengah situasi bencana.

“Semua harus mendengar informasi yang akurat dari pihak pemerintah yang bertanggung jawab. Jangan percaya semua informasi yang bukan berasal dari pihak yang bertanggung jawab,” ujarnya.

Tenda Darurat Dibangun untuk Lansia dan Balita

Di antara warga yang mengungsi terdapat lanjut usia, termasuk seorang lansia yang dalam kondisi sakit dan menggunakan kursi roda. Sejumlah balita juga berada di lokasi pengungsian.

Melihat kondisi tersebut, Elsa bersama warga dan Ketua RW 002 Kelurahan Beru, Herry Fernandez, mengoordinasikan pembangunan tenda darurat menggunakan peralatan seadanya.

Baca juga:

“Saya harus bisa memberikan rasa aman buat masyarakat saya di Lapangan Kota Baru ini. Apalagi posisi sudah mulai gelap. Kita harus mendirikan tenda agar lansia yang sakit dan anak-anak balita bisa nyaman malam ini,” kata Elsa.

Tenda tersebut akhirnya dapat digunakan meski kondisinya masih sangat sederhana.

Namun, persoalan baru muncul. Lokasi pengungsian belum memiliki penerangan yang memadai. Warga hanya mengandalkan cahaya dari telepon seluler.

Warga Menunggu Kepastian Bantuan

Selain penerangan, kebutuhan makanan juga menjadi persoalan serius. Pada siang hari, warga mendapat bantuan makanan dari para relawan. Namun hingga malam hari belum ada kepastian mengenai makanan bagi para pengungsi di Lapangan Kota Baru.

Kondisi tersebut membuat warga hanya bisa menunggu dalam ketidakpastian.

Padahal, sebagian besar warga memilih tidak pulang karena masih trauma dan takut memasak di rumah. Mereka juga khawatir jika sewaktu-waktu gempa susulan kembali terjadi.

Pemerintah sebelumnya mengarahkan para pengungsi untuk berkumpul di Lapangan Gelora Samador agar pelayanan dan penyaluran bantuan dapat dilakukan secara terpusat.

Namun, sebagian warga memilih bertahan di sekitar rumah masing-masing agar tetap dapat mengawasi rumah dan mengambil kebutuhan yang diperlukan.

Pengungsi Tersebar Perlu Tetap Diperhatikan

Kondisi ini menjadi perhatian karena tidak semua warga terdampak dapat berkumpul di lokasi pengungsian terpusat.

Warga yang bertahan di Lapangan Kota Baru berharap pemerintah tetap melakukan pendataan terhadap kelompok-kelompok pengungsi yang tersebar dan memastikan mereka mendapatkan pelayanan secara adil.

Selain makanan dan penerangan, warga juga membutuhkan selimut, terutama untuk balita dan lansia.

Lapangan Kota Baru yang digunakan sebagai tempat berlindung juga cukup berdebu. Lurah Beru bersama Kasi Trantib berupaya menyediakan masker bagi warga untuk mengurangi dampak debu.

Hingga berita ini diturunkan, warga yang mengungsi di Lapangan Kota Baru masih menunggu bantuan makanan dan penerangan.

Dalam kondisi gelap dan penuh kecemasan, mereka bertahan di ruang terbuka sambil berharap situasi segera kembali aman dan bantuan pemerintah segera tiba.

Senin (17/8) siang Floresku.com mencoba meminta tanggapan Kepala BPBD Sikka. Namun, hingga berita ini diturunkanKepala BPBD Kabupaten Sikka  belum memberikan respons terkait kondisi warga yang mengungsi secara mandiri di Lapangan Kota Baru, Maumere. Padahal, para pengungsi membutuhkan kepastian penanganan, terutama makanan, penerangan, selimut, dan kebutuhan dasar lainnya. (Herry Fdz). ***

Editor: Redaksi

RELATED NEWS