ALLAH MENJAMIN SEGALA SESUATU INDAH PADA WAKTUNYA

Redaksi - Sabtu, 08 Agustus 2026 14:08
ALLAH MENJAMIN SEGALA SESUATU INDAH PADA WAKTUNYA Yesus dan Petrus berjalan di atas air. (sumber: Istimewa)
HOMILI: Minggu ke-19 A:  (1Raj 19: 9a.11-13a; Rom 8:1-5; Mt. 14:22-33) 

Oleh Pater Gregor Nule SVD

Ilustrasi

Setelah dinyatakan hilang dalam hutan rimba selama 7 hari pasangan Anton dan Anna akhirnya berhasil ditemukan dalam keadaan sehat. Tiga hari kemudiaan seorang wartawan bertanya kepada mereka: “Bapak dan ibu, bagaimana perasaannya ketika tersesat di dalam hutan  selama 7 hari?” 

Jawab Anton, “Ketika memutuskan untuk menjelajah hutan itu, sebenarnya kami sedang ribut besar karena beda pendapat.

Tetapi, ketika sadar telah tersesat, kami saling melindungi. Kami berdoa bersama, saling berpegangan tangan, saling memaafkan dan pada hari ke 5 kami pun pasrah. Namun kami tetap memiliki harapan karena iman kami berdua. 

Ketika suara TIM SAR memanggil nama kami, kami berdua spontan berkata, “inilah waktu Tuhan yang telah tiba untuk menyelamatkan kita”. Kami langsung saling berpelukan dan serentak berseru, “Terima kasih Tuhan! Terimakasih Tuhan! 

Dengan peristiwa ini kami mengalami bahwa Tuhan tidak pernah meninggalkan kami”.
Mendengar kesaksian Anton, wartawan dan para petugas medis di Rumah Sakit itu kagum dan terharu. Memang,  Allah selalu membuat segala sesuatu  indah pada waktunya!    

Refleksi 
Bacaan-bacaan hari ini mewartakan tentang  Tuhan yang senantiasa menyertai dan menyelenggarakan hidup Elia, Paulus serta Petrus dan teman-temannya. 

Pertama, Allah membebaskan Nabi Elia dari rencana  Ezebel, isteri raja Ahab, yang ingin membunuhnya. 

Di Gunung Horeb atau Sinai, Elia, atas nama bangsa Israel, membaharui janji dengan Allah. Melalui Elia Allah ingin menyadarkan umatNya untuk berbalik kepada jalan hidup yang benar, bukan dengan kekuatan yang dasyat atau kekerasan, laksana angin besar yang merusakkan segalanya dan menjatuhkan pohon-pohon, atau gempa bumi yang membelah gunung-gunung dan memecahkan bukit-bukit, melainkan dengan ajakan yang lemah lembut laksana angin sepoi-sepoi basah. 

Allah yang mahakuasa tampil di hadapan umat Israel dengan tangan terbuka dan hati lemah lembut untuk mencairkan hati umatNya yang keras dan  penuh dosa menjadi hati yang bersih dan mudah berbalik untuk melakukan hal-hal yang berkenan kepada Tuhan. 

Allah mengubah hati yang suka bermusuhan menjadi hati yang mau  hidup dalam damai, kerukunan, persaudaraan dan kekeluargaan. 

Kedua, Paulus menjadi manusia baru ketika berjumpa dengan Yesus dalam perjalanan ke Damaskus untuk membinasakan para pengikut Jalan Tuhan. 

Perjumpaan dengan Yesus menjadikan Paulus, seorang rasul yang gigih, bersemangat serta rela mengorbankan diri dan hidupnya untuk Yesus dan keselamatan manusia, khususnya bangsa-bangsa bukan Yahudi. 

Paulus berkata, “Aku sendiri rela dikutuk oleh Allah dan dipisahkan dari Yesus demi saudara-saudaraku dan kaum sebangsaku”, (Rm 9:2-3). Perjumpaan dengan Yesus membuat Paulus lupa akan misinya.  Ia menjadi milik Kristus dan rasulNya, serta  bersedia menjadi alat dan saluran keselamatan bagi orang lain. 

Ia rela mengorbankan segala-galanya, termasuk rela mati dipenggal kepalanya dalam penjara di Roma, untuk kebaikan dan keselamatan orang lain.

Ketiga, Petrus dan teman-temanya  berlayar ke seberang danau. Tetapi perahu mereka   diobang-ombangkan  oleh angin sakal. Mereka mulai cemas dan sangat ketakutan ketika tiupan angin semakin keras disertai dengan kegelapan malam yang mencekam. 

Ketika Yesus berjalan di atas air di samping perahu mereka, para murid tidak mengenalNya. Mereka menyangka hantu, akibatnya mereka berteriak-teriak ketakutan. 

Tetapi, Yesus berkata, “Tenanglah, Akulah ini! Jangan takut!” (Mat 14:27). Yesus menaiki perahu para murid, maka redalah badai dan mereka bisa tiba di pantai dengan selamat.

Dalam hidup sehari-hari kita tidak pernah bebas dari badai atau angin sakal, tantangan, kesulitan dan ancaman. Dalam  Gereja, Lingkungan, KBG, komunitas religius, keluarga dan masyarakat hampir selalu ada perselisihan, silang pendapat dan percekcokan, permusuhan dan bahkan perpecahan. 

Ada juga musuh dari luar yang menyebarkan fitnaan, penistaan, cercaan, ujaran kebencian, gosip, kebohongan, dan lain-lain.

Tetapi, ketika kita membiarkan diri dan hidup dituntun oleh Yesus, maka kita pasti akan selamat sampai ke tujuan bersama.  Yesus  berkuasa atas alam dan kekuatan-kekuatannya. Yesus berkuasa mengalahkan kuasa setan dan kuasa jahat lainnya yang hendak mencelakakan dan memporakporandakan umat Allah. 

Karena itu, bercermin pada pengalaman iman pasangan Anton dan Anna, Elia, Paulus, Petrus dan murid-murid lainnya, kita mesti belajar untuk selalu percaya dan andalkan Tuhan. 

Kehadiran dan uluran tangan Tuhan membuat segala-galanya berjalan baik dan lancar, maka hidup dan penghayatan iman kita pun terasa aman. 

Kita tidak perlu berteriak minta pertolongan, tetapi sebaliknya, Yesus sendiri datang memberikan  bantuan, kekuatan, ketenangan dan kedamaian. Yesus tahu apa yang kita butuhkan serta selalu menjaga dan memelihara keselamatan umatNya yang setia. 

Yesus selalu hadir untuk menolong pada waktunya dan tidak pernah terlambat. Ketika kita sungguh percaya dan mengandalkan Tuhan, maka kita mesti tenang dalam segala situasi hidup, suka dan duka, berhasil dan gagal, atau pun di tengah badai kehidupan. Sebab Tuhan selalu menjamin segala sesuatu indah pada waktunya. Amen.

Kewapante, 09 Agustus 2026. ***

 

 

Editor: Redaksi

RELATED NEWS