CERPEN: Mahar yang Tak Terbayar
redaksi - Senin, 26 Januari 2026 00:17
Ilustrasi: Rian dan Maria (sumber: IStock)Oleh: Boy Waro
UDARA dingin di Kampung Bajawa menusuk hingga ke tulang, namun hati Rian terasa lebih beku. Ia berdiri di depan Ngadhu (simbol leluhur laki-laki), menatap rumah adat Saka Pu’u milik keluarga Maria dengan perasaan hampa.
Rian hanyalah seorang pemuda dari kasta Azi. Ayahnya seorang petani kopi biasa. Sementara Maria adalah putri tunggal dari keluarga Ga’e Meze bangsawan tinggi yang garis keturunannya dijaga ketat layaknya api suci di dalam Bhaga.
Mereka jatuh cinta saat perayaan Reba (pesta adat panen). Di tengah wangi daging babi yang dipanggang dan tarian Jai yang ritmis, mata mereka bertemu. Maria, dengan kain Thobi tenunan halus dan hiasan kepala yang anggun, tampak seperti dewi. Namun, bagi keluarga Maria, cinta adalah soal martabat, bukan sekadar rasa.
“Rian, ayahku sudah bicara,” bisik Maria suatu malam di bawah pohon bambu. Suaranya bergetar. “Mereka meminta Belis (mahar) yang tidak mungkin.”
Dalam pertemuan adat yang kaku, para tetua dari pihak Maria menetapkan tuntutan. Karena Maria adalah seorang Ga’e, Rian harus menyediakan puluhan ekor kerbau dan kuda dengan kriteria tertentu. Bukan karena keluarga Maria tamak, tapi karena “turun kasta” adalah aib yang tak termaafkan bagi leluhur mereka.
Baca juga:
- Lima Tips Simpan Bahan Makanan agar Awet di Kulkas
- Kisah Sindi, Pedagang Es Kelapa Muda dari Waioti, Maumere
- Sosialisasi Perdana KMP Beru Warnai Musrenbang Kelurahan
“Jika kau menikahinya tanpa memenuhi Belis itu, kau membawa malu bagi Sa’o (rumah adat) kami,” ucap paman Maria dengan nada dingin.
“Atau kau harus bersedia ‘dibuang’ dari keluargamu sendiri dan hidup sebagai pelayan di rumah kami. Tapi, apakah kau tega melihat Maria kehilangan hak waris dan martabatnya karena menikahi seorang Azi?”
Rian terdiam. Ia tahu, di Bajawa, pernikahan bukan hanya tentang dua orang, tapi tentang menyatukan dua klan. Menikahi Maria tanpa restu adat berarti mengutuk Maria menjadi orang asing di tanah kelahirannya sendiri. Satu bulan kemudian, kabar itu sampai ke telinga Rian.
Maria akan dipinang oleh seorang pemuda dari kasta yang setara, seorang anak kepala suku dari desa tetangga. Malam sebelum pernikahan itu, Rian datang ke batas kampung. Maria menunggunya dengan mata sembab. “Pergilah, Rian,” kata Maria pelan.
“Leluhur kita sudah gariskan jalannya masing-masing. Di atas tanah ini, kaki kita berpijak pada tangga yang berbeda. Mungkin di kehidupan selanjutnya, kita hanya akan lahir sebagai embun, di mana tak ada Ga’e atau Azi yang membedakan kita.”
Rian menyerahkan sepotong kain tenun sederhana yang ia beli dari hasil keringatnya sendiri. “Gunakan ini saat kau kedinginan. Aku tidak bisa memberimu kerbau atau kuda, tapi aku memberimu seluruh doa yang aku punya.”
Pesta pernikahan Maria berlangsung meriah.
Suara gong dan gendang bertalu-talu memenuhi lembah Bajawa. Rian mendengarnya dari jauh, dari kebun kopinya yang sepi. Ia melihat asap membumbung dari dapur rumah adat, tanda kerbau-kerbau besar telah dikurbankan. Ia tahu,
Maria kini telah menjadi milik adat, milik garis keturunan yang tak tersentuh. Sementara ia tetaplah Rian, pemuda yang cintanya terkubur di bawah tumpukan batu-batu megalitikum yang bisu. Adat telah menjaga kehormatannya, namun ia juga baru saja mematahkan dua hati yang paling tulus.
***
Persiapan sudah hampir matang. Rian telah berusaha mengumpulkan apa yang ia bisa, namun dalam rembuk adat (Wela Kila) yang terakhir, tembok kasta itu tetap tak bisa diruntuhkan. Para tetua dari pihak Maria memutuskan secara sepihak: Pernikahan dibatalkan.
Bagi mereka, menerima Rian yang seorang Azi adalah bentuk penghinaan terhadap darah murni leluhur yang mengalir di tubuh Maria. Di dalam Sa’o (rumah adat) yang remang, Maria bersujud di kaki ayahnya. Ia memohon agar cinta mereka diberi celah. Namun, sang ayah hanya menatap lurus ke arah pintu.
“Maria, kau adalah emas bagi keluarga ini. Jika kau bersanding dengan perunggu, maka lunturlah seluruh harga diri klan kita. Pernikahan ini batal. Besok, keluarga dari klan Ga’e yang setara akan datang meminangmu.”
Kalimat itu seperti palu yang menghantam dada Maria. Di luar rumah, Rian yang datang membawa harapan terakhirnya, diusir secara halus oleh para pemuda kampung. Ia pulang dengan langkah gontai, meninggalkan impian yang hancur berkeping-keping.
Hanya dalam hitungan minggu, suasana kampung berubah. Bukan lagi pembicaraan tentang Rian, melainkan tentang kedatangan seorang laki-laki Ga’e dari kampung seberang. Laki-laki itu membawa puluhan ekor kerbau bertanduk panjang, simbol kekuasaan dan kesetaraan rang.
Hari pernikahan itu tiba. Maria didandani dengan sangat megah. Ia mengenakan lawo (sarung) terbaik dan perhiasan emas yang berat. Namun, di balik riasan wajahnya yang cantik, matanya kosong.
“Aku seperti kerbau yang dituntun menuju tiang kurban,” bisik Maria dalam hati saat ia melangkah menuju altar adat. Saat rombongan pengantin laki-laki baru itu membawa Maria keluar dari kampung, Rian berdiri di kejauhan, di bawah pohon bambu tempat mereka dulu sering bertemu.
Maria menoleh sejenak. Ia melihat Rian hanya bisa terdiam, memegangi dadanya yang sesak. Tidak ada teriakan, tidak ada amarah. Hanya ada kepasrahan yang teramat perih.
Di samping Maria, laki-laki baru itu tersenyum bangga—seorang laki-laki yang memiliki segalanya: harta, martabat, dan rang yang sama. Maria akhirnya berlalu, mengikuti langkah suaminya yang dipilihkan oleh adat. Ia menikah bukan dengan laki-laki yang ia cintai, melainkan dengan “status” yang harus ia jaga.
Malam itu, musik Jai terdengar menyayat hati Rian. Ia tahu, di dalam rumah adat sana, Maria sedang menjalankan prosesi sebagai istri dari kasta yang sama.
Cinta mereka kalah telak oleh garis keturunan. Di tanah Bajawa yang kokoh dengan tradisi, mereka belajar satu hal yang menyakitkan: bahwa terkadang, darah yang mengalir di nadi lebih menentukan masa depan daripada detak jantung yang saling mencintai.
Setelah Maria resmi menjadi istri orang lain, hidup Rian seolah berhenti berputar. Berikut adalah gambaran kepedihan Rian menjalani hari-harinya setelah kehilangan Maria karena perbedaan rang.
Hari-hari setelah pesta pernikahan itu adalah siksaan yang sunyi bagi Rian. Di kampung sekecil Bajawa, melupakan seseorang adalah hal yang mustahil.
Suara gong yang menggema dari pesta Maria tempo hari masih terus berdenging di telinganya, seolah mengejek kemiskinan dan kasta rendah yang ia sandang. Setiap kali Rian pergi ke pasar untuk menjual hasil kopinya, ia selalu didera kecemasan. Suatu sore, ia melihat Maria dari kejauhan. Maria sedang berjalan bersama suaminya yang baru laki-laki kasta Ga’e itu.
Maria tampak sangat anggun dengan kain tenun mahal, namun matanya tetap layu. Mereka berselisih jalan. Rian menunduk dalam-dalam, bukan karena ia merasa rendah, tapi karena ia tidak sanggup melihat wanita yang seharusnya menjadi istrinya kini menjadi milik orang lain demi martabat adat. Tak ada sapaan. Adat telah membangun tembok yang lebih tinggi dari Gunung Inerie di antara mereka.
Setiap pulang dari kebun, Rian selalu melewati pohon bambu tempat mereka dulu berjanji. Ia sering terduduk di sana sendirian hingga senja menghilang.Ibunya pernah menghampirinya dan memegang pundaknya lembut. “Rian, lepaskanlah.
Dia sudah menjadi Ina (ibu) bagi klan lain. Jika kau terus begini, kau hanya akan menyiksa leluhurmu sendiri.” Rian hanya menatap tanah.
“Mak, apakah darah Azi yang mengalir di tubuhku ini begitu kotor sehingga aku tidak pantas mendapatkan bahagia?”
Pertanyaan itu tidak pernah terjawab. Ibunya hanya bisa memeluknya sambil menangis dalam diam.
Rian melampiaskan seluruh rasa sakitnya pada kerja keras. Ia mencangkul tanah lebih dalam, memetik kopi lebih banyak, seolah-olah dengan menjadi kaya ia bisa menghapus noda kastanya.
Namun, ia tahu, sebanyak apa pun harta yang ia kumpulkan, di mata para tetua, ia tetaplah pemuda yang tak punya “gelar” di silsilah keluarga. Setiap malam, ia menatap langit Bajawa yang bertabur bintang. Ia teringat kata-kata terakhir Maria tentang menjadi embun.
“Sekarang aku mengerti,” gumam Rian pedih. “Embu (leluhur) mungkin mengatur siapa yang kita cintai, tapi adat yang menentukan siapa yang boleh kita miliki.”
Rian tetap hidup, tapi hatinya telah mati dan terkubur di bawah tiang Ngadhu. Ia menjadi lelaki yang paling rajin di kampungnya, namun juga yang paling pendiam. Ia memutuskan untuk tidak pernah menikah, karena baginya, cintanya sudah habis dibawa pergi oleh rombongan pengantin yang melintasi batas kampung waktu itu.
.***
Tahun-tahun berlalu, dan rasa sakit itu telah mengeras menjadi tekad yang membaja. Rian tidak lagi meratapi nasibnya di bawah pohon bambu. Ia merantau, membawa sedikit modal dari hasil kebun kopinya yang ia kerjakan dengan cucuran keringat siang dan malam.
Di tanah rantau, Rian bekerja seperti orang yang kehilangan rasa lelah. Ia mengerti bahwa dalam dunia modern, pendidikan dan kesuksesan finansial adalah kekuatan baru yang bisa menandingi kasta lama. Ia menjadi pengusaha kopi sukses yang mengekspor aroma bumi Flores hingga ke mancanegara.
Rian kembali ke Bajawa bukan lagi sebagai pemuda miskin yang diusir dari pelataran rumah adat. Ia kembali dengan martabat yang ia bangun sendiri. Ia membangun rumah yang megah, namun tetap menghormati struktur adat, hingga para tetua yang dulu memandangnya sebelah mata kini mulai menaruh hormat.
Suatu hari, dalam sebuah acara syukuran di kota, Rian bertemu kembali dengan Maria. Namun, Maria tidak sendiri. Ia datang bersama sahabat karibnya sejak kecil, bernama Clara.
Clara adalah wanita yang cantik, cerdas, dan memiliki tutur kata yang lembut. Berbeda dengan Maria yang terikat oleh beban sejarah kasta keluarganya, Clara adalah sosok yang lebih terbuka dan selalu mengagumi perjuangan Rian dari jauh—bahkan sejak Rian masih bukan siapa-siapa.
Maria, yang kini hidup dalam pernikahan kasta yang kaku dan penuh tuntutan formalitas, hanya bisa menatap Rian dengan tatapan penuh penyesalan. Ia melihat Rian yang dulu ia tinggalkan kini telah menjadi laki-laki yang matang dan berwibawa.
Kedekatan Rian dan Clara tumbuh dengan cepat. Clara bukan hanya sekadar teman Maria, ia adalah wanita yang memahami visi Rian. Saat Rian menyatakan niatnya untuk meminang Clara, seluruh kampung gempar.
Rian menyiapkan Belis (mahar) yang jauh lebih besar dari apa yang pernah diminta keluarga Maria dulu. Bukan untuk pamer, tapi untuk menunjukkan bahwa seorang Azi pun bisa mengangkat martabat wanita yang dicintainya setinggi langit. Maria hadir sebagai tamu.
Ia berdiri di sudut tenda, menyaksikan sahabatnya sendiri bersanding dengan laki-laki yang dulu sangat ia cintai. Ada pedih yang menusuk, melihat Clara mengenakan kain tenun yang jauh lebih indah, pemberian dari Rian.
Rian berdiri gagah. Ia tidak lagi menunduk. Saat matanya bertemu dengan mata Maria, tidak ada lagi dendam. Hanya ada rasa syukur bahwa luka lama telah menuntunnya pada kesuksesan dan pada wanita yang benar-benar ditakdirkan untuknya.
Rian akhirnya menikah dengan Clara dalam pesta yang paling meriah yang pernah disaksikan oleh orang-orang di kampung itu. Ia membuktikan bahwa meski adat menetapkan rang, kerja keras dan ketulusan bisa menciptakan takdir baru.
Maria pulang ke rumahnya yang dingin, menyadari bahwa ia memiliki “kasta”, tapi Clara memiliki “bahagia”. Rian telah memenangkan hidupnya, meninggalkan masa lalu sebagai kenangan di bawah bayang-bayang Gunung Inerie, dan memulai lembaran baru dengan wanita cantik yang menghargainya bukan karena darahnya, melainkan karena jiwanya.
Maria berdiri mematung di dekat pilar kayu, jemarinya meremas pinggiran kain tenunnya. Saat Rian berjalan ke arahnya untuk menyapa para tamu, langkah pria itu terhenti. Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, mereka berdiri berhadapan tanpa ada tembok adat yang menghalangi bicara.
Maria: (Suaranya bergetar, nyaris berbisik) “Selamat, Rian. Clara terlihat sangat cantik... Kau memberinya pesta yang bahkan lebih megah dari mimpiku dulu.”
Rian: (Tersenyum tenang, tatapannya kini stabil dan penuh wibawa) “Terima kasih, Maria. Clara bukan hanya cantik, dia adalah orang yang percaya bahwa aku bisa berdiri di sini, bahkan saat orang lain menganggapku tidak layak karena kasta.”
Maria: (Menunduk, air mata menggenang di pelupuk matanya) “Aku minta maaf. Dulu aku tidak cukup kuat untuk melawan. Aku memilih namaku, keluargaku... dan aku harus membayar mahal untuk itu setiap hari.”
Rian: (Menghela napas panjang, menatap ke arah kerumunan tamu) “Kau tidak perlu minta maaf. Dulu aku membenci adat karena memisahkan kita.
Tapi sekarang aku mengerti. Jika kita tidak dipisahkan oleh rang, aku mungkin tidak akan pernah merantau dan menjadi lelaki seperti sekarang. Luka itu yang menjadikanku kuat.”
Maria: “Apakah kau bahagia bersamanya? Maksudku... bersama sahabatku?”
Rian: (Menatap Maria dengan tulus) “Aku sangat bahagia. Clara tidak memandangku sebagai seorang Azi yang harus dikasihani, tapi sebagai laki-laki yang ia hormati. Dia tidak menungguku di puncak, tapi dia mendaki bersamaku dari bawah.”
Maria: (Tersenyum getir) “Lucu ya, Rian? Aku memiliki kasta yang kau inginkan dulu, tapi kau memiliki kebebasan yang aku rindukan sekarang. Aku terjebak dalam rumah adat yang dingin, sementara kau membangun istanamu sendiri.”
Rian: “Hiduplah dengan baik, Maria. Hormati suamimu sebagaimana kau menghormati adatmu. Aku sudah memaafkan segalanya. Hari ini, aku bukan lagi Rian yang menangis di bawah pohon bambu. Hari ini, aku adalah suami dari wanita yang kucintai.”
Maria hanya bisa terdiam saat Rian berpamitan dengan sopan untuk kembali ke pelaminan. Ia melihat Rian menggenggam tangan Clara dengan erat. Maria menyadari satu hal yang menyakitkan: Adat mungkin bisa mengatur dengan siapa kita bersanding, tapi kerja keraslah yang menentukan siapa yang pantas menang dalam hidup. ***

