HOMILI Hari Raya Rabu Abu, 18 Februari 2026
redaksi - Selasa, 17 Februari 2026 22:06
Pater Gregor Nule SVD (sumber: Dokpri)MAKNA RABU ABU, AJAKAN KEPADA KERENDAHAN HATI DAN PERTOBATAN
Oleh: Pater Gregor Nule, SVD
Ilustrasi.
Di Kantin sebuah Universitas, seorang mahasiswa duduk menghadap makanannya dengan tatapan kosong. Tiba-tiba datanglah seorang mahasiswi, yang adalah seorang biarawati, mendekatinya dan berkata, “selamat kakak, apakah saya boleh duduk di sini?” Mahasiswa itu memandang suster dan mengangguk.
Suster membuka tasnya dan mengeluarkan kotak makanannya, berdoa, lalu berkata lagi, “Mari makan, kakak”.
Anak muda itu berkata,”suster, wajahmu sangat damai, sebaliknya saya sepertinya ada dalam gua gelap, bingung dan cemas, laksana dunia akhirat sudah di ambang pintu. Saya merasa sangat galau”.
Mendengar ungkapan hati pemuda itu, suster tersenyum dan berkata, “kakak tidak perlu terlalu cemas. Kita punya masa depan penuh harapan. Percayalah kepada Tuhan yang memberikan kehidupan.
Apabila orang melihat kita hidup dengan penuh harapan dan semangat mereka akan yakin bahwa Allah yang kita imani adalah Allah yang hidup. Allah selalu mengundang kita kepada hidup penuh harapan”. Pemuda itu sepertinya terjaga dari mimpinya ketika mendengarkan nasehat suster.
Refleksi
Nabi Yoel mengajak bangsa Israel dan kita sekalian kepada puasa, doa dan penitensi (amal kasih) yang sejati.
Santo Matius juga ajak kita untuk laksanakan tiga praktek hidup beriman: doa, memberi sedekah dan puasa dengan sungguh-sungguh dan dari hati yang terdalam.
Allah menuntut pertobatan sejati, bukan sekedar perubahan artifisial dan asal-asalan, hanya dalam bentuk niat dan janji untuk berubah, atau semata-mata dalam bentuk rohani.
Pertobatan sejati hendaknya berakar pada kedalaman hati dan tampak nyata dalam praktek hidup sehari-hari. Artinya jika selama ini kita kurang jujur dan lalai dalam tugas maka kita mesti berubah menjadi orang yang jujur dan bertanggungjawab. Jika kita selalu khawatir, mudah mengeluh dan kurang bersemangat, maka kita mesti percaya kepada Tuhan dan penuhi hati dengan semangat dan sukacita.
Tetapi, perlu kita ingat bahwa bertobat tidak berarti melihat kembali masa lalu dengan putus asa lantaran dosa, kesalahan dan kejahatan yang sudah kita lakukan melawan Tuhan, sesama dan diri sendiri, melainkan sebaliknya, kita coba melihat ke depan dengan penuh harapan bahwa kita akan menjadi lebih baik kalau kita mau.
Bertobat juga tidak berarti melihat hanya kegagalan-kegagalan atau segala sesuatu yang tidak kita capai, melainkan segala sesuatu yang dapat kita dapatkan dengan bantuan rahmat Allah. Ini berarti kita mengakui dan mengimani kerahiman dan kebesaran kasih Allah.
Karena itu, bertobat berarti menaruh cinta kepada Allah dan sesama. Bertobat juga berarti kita mengarahkan perhatian ke depan, ke tempat yang tinggi, kepada Allah mahacinta, yang membenci dosa dan kejahatan, tetapi sangat mencintai pendosa yang mau bertobat dan kembali kepada hidup yang lebih baik.
Hari ini kepala dan dahi kita akan ditandai dengan abu sambil mengucapkan kata-kata: “Bertobatlah dan percayalah kepada Injil” atau “Ingatlah kita ini berasal dari abu dan akan kembali kepada abu”.
Pernyataan-pernyataan ini mengungkapkan tanda dan kenyataan kerapuhan manusia, kerendahan hati, pertobatan dan kesediaan untuk menerima Injil sebagai khabar Gembira kehidupan yang Kristus ingin tawarkan kepada kita sekalian pada hari Raya Paska.
Mari kita ambil bahagian di dalam peristiwa keselamatan ini dengan penuh iman, kasih dan harapan. Dan, semoga Tuhan memberkati seluruh ziarah perjalanan kita! Amen.
Kewapante, 18 Februari 2026. ***

