HOMILI: Minggu, 06 April 2025: Yesus Tidak Menghukum, Tetapi Menuntut Pertobatan
redaksi - Sabtu, 05 April 2025 16:18

Oleh: Pater Gregor Nule, SVD
YESUS TIDAK MENGHUKUM, TETAPI MENUNTUT PERTOBATAN
(Minggu Prapaskah VC: Yes 43:16-21; Fil 3:8-14; Yoh 8:1-11)
HARI ini kita memasuki Minggu kelima prapaskah yang lazim disebut pekan Sengsara. Fokus perhatian kita adalah penderitaan dan kematian Yesus. Karena itu, biasanya patung-patung dan salib di dalam gereja ditutup dengan kain ungu.
Bacaan-bacaan hari ini melukiskan tentang betapa besar kasih dan belas kasihan Allah kepada manusia. Meski demikian, kita mesti akui bahwa manusia mudah sekali lupa, jatuh, cepat berubah-ubah, dan ingkar janji.
Nabi Yesaya ingatkan bangsa Israel bahwa pembuangan Balilon akan segera berakhir. Mereka akan kembali ke tanah terjanji. Sebab Tuhan tidak pernah ingat lagi kejahatan pada masa lalu, (bdk Yes 43:18). Sebaliknya, Tuhan akan menjadikan segalanya baru.
Perikop Injil Yohanes, 8:1-11 menampilkan tiga pelakon utama.
Pertama, wanita tanpa nama yang tertangkap basah melakukan zinah. Menurut hukum Musa ia mesti dijatuhi hukuman rajam dengan batu sampai mati.
Proses pengadilannya terjadi demikian. Wanita itu ditempatkan di tengah kerumuman orang di hadapan Yesus dengan tuduhan bahwa ia kedapatan berbuat zinah. Setiap orang meneriakkan umpatan dan tuduhan. Tetapi ia cuma diam dan tundukkan kepala. Ia tidak berani menatap siapa pun.
Tentu ia malu sekali karena diperlakukan sangat hina bahkan bertentangan dengan peri kemanusiaan. Wanita malang itu merasa lebih hancur lagi sebab hampir tidak ada seorang pun yang membela dia, kecuali Yesus yang duduk diam sambil menulis di atas tanah.
Kedua, orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat. Mereka anggap diri benar, suci dan berambisi memelihara dan menegakkan hukum Allah. Mereka menuntut Yesus supaya berpendapat tentang kasus itu. Bagaimana sikap Yesus, mengampuni atau menghukumnya?
Tetapi, tujuan utama mereka bukanlah mencari alasan untuk menghakimi dan menghukum perempuan itu, melainkan mau menemukan alasan yang masuk akal untuk menjatuhkan tuduhan bersalah kepada Yesus.
Sasaran mereka adalah Yesus. Mereka ingin menjauhkan Yesus dari hidup mereka. Sebab musuh mereka bukanlah wanita itu, melainkan Yesus. Perempuan berzinah itu hanya menjadi alat untuk mencapai niat dan rencana jahat mereka.
Hal yang meracuni hati dan pikiran orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat adalah kemunafikan, keangkuhan, iri hati dan kecemburuan. Para pemimpin agama Yahudi takut kehilangan massa.
Karena banyak orang telah mengikuti Yesus dan berpihak pada pengajaran-Nya. Akibatnnya para pemimpin agama Yahudi dan ajaran mereka tidak mendapat tempat di hati banyak orang.
Alasan mengapa orang-orang Yahudi tidak mau dengarkan para pemimpin agama, yaitu mereka mengajar, omong tentang hukum dan Firman Allah, tetapi hidup, sikap dan tingkah laku mereka justeru lain sekali dan bahkan bertentangan dengan ajaran mereka.
Kata-kata tidak sejalan dengan perbuatan. Maka tepat kalau mereka diumpamakan dengan “tong kosong nyaring bunyinya”.
Ketiga, Yesus berada pada posisi terjepit. Dia sadar bahwa kata-kata-Nya bisa menjadi senjata yang membahayakan hidup-Nya. Dia tahu bahwa orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat justeru membenci-Nya dan bahkan berusaha untuk membunuh-Nya.
Reaksi Yesus terhadap teriakan dan tuduhan khalayak ramai yang bengis dan dengan galak siap merajam wanita malang itu dengan batu, laksana singa lapar yang siap menerkam mangsanya, adalah diam.
\Yesus duduk tanpa kata-kata dan tanpa kerdipan mata ke arah wanita malang itu.
Dia hanya tunduk dan menulis di tanah. Dan apa yang ditulis di atas tanah itu pun tidak seorang pun tahu. Mungkin Yesus mencatat nama orang-orang yang mau menghukum wanita itu dengan dosa mereka masing-masing.
Itulah sebabnya ketika Yesus berdiri dan mengatakan “Siapa saja di antara kamu yang tidak berdosa hendaklah ia yang pertama melemparkan batu kepada wanita itu”, (Yoh 8:7).
Setelah mendengar kata-kata Yesus itu maka mulai dari yang paling tua, satu demi satu pergi meninggalkan wanita itu dan Yesus. Tidak seorang pun berani menghukum wanita itu.
Mengapa mereka pergi? Alasannya karena mereka sadar bahwa tidak ada seorang yang bebas dari dosa, maka mereka malu dan merasa tidak pantas menghukum orang lain, khususnya wanita itu.
Ketika Yesus mengangkat kepala dan tidak lagi melihat seorang pun, Ia berkata, “Hai perempuan, di manakah mereka? Tidak adakah seorang pun yang menghukum engkau? Aku pun tidak menghukum engkau, tetapi pergilah dan mulai dari sekarang jangan berbuat dosa lagi”, (bdk. Yoh 8:10-11).
Yesus tidak menghakimi dan menghukum wanita itu. Ia mengampuni dan membebaskannya dari dosa. Ini tidak berarti bahwa Yesus tidak peduli atau anggap tidak apa-apa dosa wanita itu. Perbuatan wanita itu merupakan dosa berat.
Karena itu, Yesus tegaskan kepadanya, “pergilah, tetapi mulai sekarang jangan berdosa lagi”. Bagi Yesus dosa tetap saja buruk dan dapat merusak dan menghancurkan manusia.
Sebagai pengikut Yesus, kita pun hendaknya belajar untuk tidak cepat menghakimi dan menghukum orang lain. Sebaliknya, kita mesti sadar akan dosa dan salah, lalu rela mengaku dosa dan bertobat.
Allah tidak pernah menghukum kita. Tetapi, Allah menuntut agar kita terus-menerus bertobat dan buat niat untuk tidak berbuat dosa lagi. Semoga!
Kewapante, Minggu, 06 April 2025. ***