HOMILI, Minggu, Biasa IVA, 15 Februari 2026

redaksi - Sabtu, 14 Februari 2026 17:24
HOMILI, Minggu, Biasa IVA, 15 Februari 2026Pater Gregor Nule SVD (sumber: Dokpri)

BERBUAT BAIK ADALAH PILIHAN TEPAT  UNTUK MENCAPAI KEBAHAGIAAN SEJATI
 (Minggu  Biasa VIA: Sir 15:15-20; `1Kor 2:6-10; Mat 5:17-37)

Oleh: Pater Gregor Nule, SVD

DALAM kehidupan sehari-hari kita selalu dihadapkan dengan dua pilihan dasar, yaitu memilih untuk berbuat baik dan benar, atau memilih untuk berbuat jahat. 

Orang yang memilih yang baik dan benar akan  hidup aman dan damai, sedangkan orang yang memilih yang jahat pasti punya banyak musuh dan terancam hidupnya. Mungkin ia akan alami tekanan-tekanan dan menderita.

Penulis Kitab Putera Sirakh mengingatkan para pendengarnya agar senantiasa sadar untuk menentukan pilihan yang tepat. Orang yang memilih melaksanakan apa yang baik dan benar, artinya ia mau hidup menurut perintah-perintah Tuhan. 

Sebaliknya, orang yang memilih melanggar titah Tuhan sebetulnya ia dengan tahu dan mau merencanakan dan mau melakukan kejahatan. 

Tetapi, Kitab Putera Sirak juga mewartakan suatu kebenaran iman ini, bahwa “Tuhan tidak menyuruh orang menjadi fasik, dan tidak memberi izin kepada siapa pun untuk berdosa”, (Sir 15:20). Dengan kata lain, Tuhan tidak menyuruh orang untuk buat jahat dan dosa.

Tetapi, sebaliknya, sejak awal mula Tuhan ingin agar manusia hidup sesuai dengan kehendakNya, yakni  hidup dalam keadaan baik adanya. Karena itu, orang yang memilih hidup baik, benar dan suci pasti akan mengalami kebahagiaan.

Sedangkan, orang yang memilih menjadi fasik atau bodoh dan melakukan kejahatan  akan mengalami nasib malang dan kebinasaan sebagai akibat dari pilihan dan putusannya sendiri. Sebab Allah tidak pernah menghukum atau mengutuk seorang pun.

Injil hari ini melanjutkan pengajaran Yesus di Bukit tentang hal-hal penting yang mesti kita perhatikan. Yesus minta para muridNya agar bertindak bijaksana dan lebih sungguh-sungguh bahkan lebih radikal daripada sekedar taat pada ketetapan-ketetapan hukum. Sebab hal demikian menjadi cirikhas murid-murid Yesus. 

Mari kita angkat beberapa contoh berikut.

Yesus bersabda, “Aku datang bukan untuk meniadakan hukum, melainkan untuk menggenapinya”, (Mat 5:17). Di sini, Yesus minta kita untuk melaksanakan perintah-perintah Tuhan bukan sekedar untuk mentaati hukum Tuhan sebagaimana tertulis dalam Kitab Suci, melainkan terutama untuk memuliakan Tuhan dan demi keselamatan umat manusia. 

Atau, dengan kata lain, seseorang mentaati perintah Tuhan bukan  supaya dilihat dan dipuji, serta mendapatkan pahala yakni hidup kekal pada akhir zaman, melainkan terutama sebagai ungkapan cinta kepada Allah. Kita taat perintah Tuhan karena kita mencintaiNya.  

Demikian pun, ketika seseorang ingin mentaati aturan hidup sehari-hari, ia lakukannya bukan sekedar agar  tidak dihukum dan dianggap sebagai orang baik, melainkan terutama karena ia mau mengungkapkan rasa hormat dan cinta kepada orang lain. 

Seorang suami yang berusaha menjamin kesejahteraan isteri dan anak-anaknya bukan sekedar sebagai kewajibannya, melainkan terutama sebagai ungkapan cinta, perhatian dan tanggungjawab kepada keluarganya.     

Yesus  menegaskan lagi perintah “jangan membunuh”, (bdk. Mat 5:21) tidak hanya untuk mengingatkan para murid agar menghindari tindakan jahat membunuh  orang. 

Tetapi, Yesus justeru minta para muridNya agar menghindari semua bentuk kekerasan, baik fisik maupun psikis, yang melukai dan menyakiti, seperti marah, mengancam, menghina, membenci, mempermalukan dan mencaci maki orang lain. Karena  semua bentuk kekerasan itu setara dan sama jahatnya dengan tindakan membunuh.

Yesus juga mengingatkan murid-muridnya agar tidak hanya mentaati perintah, “Jangan bersumpah palsu”,(Mat 5:33). Sebaliknya, Yesus menuntut mereka supaya hidup tulus dan jujur sehingga tidak perlu mengangkat sumpah untuk memastikan suatu kebenaran dan meyakinkan orang lain. 

Orang yang tulus dan jujur tidak butuhkan sumpah. Karena itu, Yesus berkata, “Jika ya, hendaklah kamu katakan Ya, jika tidak, hendaklah kamu katakan, tidak. Apa yang lebih daripada itu berasal dari si jahat”, (Mt 5:37). Berkata ya atau tidak, yang tidak sesuai dengan kenyataan adalah sebuah kebohongan.

Bercermin pada Firman Allah  dan terdorong oleh hikmat  Allah, mari kita menata hidup, menentukan pilihan dan memutuskan untuk melakukan perbuatan-perbuatan yang baik, benar dan suci, sebagai ungkapan iman dan ibadah yang benar kepada Allah. Mari  kita kita belajar mempraktekkan ajaran dan perbuatan-perbuatan Yesus, melalui sikap dan tindakan nyata setiap hari.

Sebab Yesus berkata, “Jika hidup keagamaanmu tidak lebih benar daripada hidup keagamaan ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi”, yang lebih mengutamakan tindakan lahirian dan pamer, “kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Surga”, (Mat 5:20). 

Semoga Tuhan Yesus memberkati kita sekalian. Amen.
Kewapante, Minggu, 15 Februari 2026. ***

 

RELATED NEWS