JALAN MENUJU KEBAHAGIAAN SEJATI

redaksi - Sabtu, 31 Januari 2026 16:12
  JALAN MENUJU KEBAHAGIAAN SEJATIPater Gregor Nule SVD (sumber: Dokpri)

HOMILI, (Minggu Biasa IVA: Zef 2:3.3:12-13; 1Kor 1:26-31; Mat 5:1-11)       

Oleh: Pater Gregor Nule, SVD

Dunia sering menawarkan cara, syarat, kriteria, keadaan atau harta kekayaan, pangkat, keberhasilan, dan masih ada hal duniawi lainnya yang menjamin kebahagiaan. Ketika seseorang berada dalam keadaan tertentu yang diidealkan maka ia pasti akan bahagia.

Mungkin dunia menyebut orang yang berbahagia adalah mereka yang telah berhasil mengumpulkan harta kekayaan yang melimpah karena mereka tentu tidak pernah akan mengalami kesulitan apa pun, hidup aman, terjamin dan punya banyak teman. 

Mungkin juga ada yang berpikir bahwa orang yang bahagia adalah mereka yang cantik, ganteng dan popular karena mereka akan menjadi pusat perhatian dan daya tarik serta pujian orang lain. Karena itu, orang selalu berusaha merawat tubuh agar tetap menarik dan seksi sehingga dikagumi dan dipuji banyak orang. 

Bacaan-bacaan suci hari ini menawarkan persepsi dan cara pandang berbeda tentang syarat, kriteria dan jalan untuk mencapai kebahagiaan yang sejati, baik selagi berziarah di dunia maupun di surge kelak.

Nabi Zefanya menegaskan bahwa orang yang berbahagia adalah mereka yang rendah hati, lemah lembut dan selalu berlindung pada Tuhan. 

Zefanya sebut sisa Israel sebagai suatu kelompok kecil uamt Israel yang setia kepada Tuhan dan perintah-perintahNya. Kendatipun nampaknya mereka selalu menghadapi banyak tantangan dan masalah, tetapi mereka merasa aman dan damai karena yakin bahwa Allah akan tetap setia melindungi dan memelihara mereka.

Penginjil Matius mewartakan Sabda bahagia atau shalom dari Yesus sebagai jaminan kepastian kebahagiaan sejati yang tahan uji karena justeru bersumber pada Allah sendiri. 

Yesus meyakinkan para murid pertama di atas bukit dan para pendengar  sepanjang zaman bahwa kebahagiaan sejati bersumber pada pribadi dan karyaNya, asalkan orang setia mengikuti jejakNya, mendengarkan SabdaNya dan melaksanakannya. 

Karena itu. orang bisa berbahagia bila hidup miskin, berdukacita, lemah lembut, lapar dan haus akan kebenaran, murah hati, suci hatinya, membawa damai, siap dianiaya demi kebenaran, dicela oleh karena Yesus Kristus.

 Hal ini membangkitkan kesadaran iman bahwa Allah senantiasa memperhatikan anak-anakNya yang senantiasa berlari kepadaNya.

Tapi mungkin sabda bahagia yang ditawarkan Yesus ini ditolak oleh dunia karena dinilai bertentangan dengan apa yang diharapkan, dicari, dikejar dan mau diraih oleh manusia zaman ini yang sangat mengagungkan kebahagiaan  hari ini dan di sini, kendati pun mungkin tidak bertahan lama.

Dan, tampaknya kebahagiaan yang ditawarkan dunia lebih mengesankan dan menarik perhatian banyak orang termasuk orang-orang yang saleh dan setia pada jalan Tuhan. 

Namun, kita perlu ingat banyak saksi iman yang telah menghayati dan mengamalkan sabda bahagia Yesus Kristus. Hidup mereka menjadi bukti penyerahan dan kesetiaan kepada Allah yang menjadi satu-satunya  jaminan bagi kebahagiaan sejati dan damai yang dirindukan oleh setiap orang. 

Merekalah saksi sejati dan model kehidupan yang harus diteladani oleh setiap pengikut Kristus. Sebab hanya dengan demikian jaminan status anak-anak  Allah dan kebahagiaan sejati sesuai dengan kehendak Allah dapat menjadi milik kita.

Kita berdoa, Yesus, semoga hidup kami diresapi dan dijiwai oleh Sabda Bahagia sejati dan terbuka untuk mengalami kasih Allah yang berpihak kepada orang-orang kecil dan lemah. Dan semoga oleh teladan hidup para kudus kami semakin tabah dan setia dalam berbuat baik dan suci serta hidup saleh dan baik dalam mengikuti jalan dan jejakMu. Amen.   

Kewapante, 01 Februari 2026. ***

 

Editor: redaksi

RELATED NEWS