MENGANDALKAN TUHAN DALAM SEGALA PERISTIWA HIDUP MENJADI BUKTI IMAN SEJATI
Redaksi - Minggu, 18 Oktober 2026 09:18
Ilustrasi: Mat 22:15-21 (sumber: Katolikku.com)HOMILI: Minggu 29A:Yes 45:1.4-6; 1Tes 1:1 -5b; Mt 22:15-21
Oleh Pater Gregor Nule, SVD

Nabi Yesaya melukiskan pengalaman bangsa Israel yang merasa ditinggalkan oleh Allah, terutama ketika mereka dikalahkan oleh musuh dan diasingkan ke Babilonia. Namun sebenarnya kesalahan merekalah yang menjadi penyebab mereka dikalahkan musuh dan dibawa keluar dari tanah terjanji. Meski demikian Allah tetap setia pada janji keselamatan bagi umatNya. Allah tetap pedulI terhadap nasib dan keselamatan umatNYa.
Maka Allah memanggil Koresh, raja Persia, untuk membawa pulang orang Israel ke tanah terjanji. Koresh menjadi alat dan perpanjangan tangan Tuhan. Inilah khabar gembira bagi Israel dan juga bagi kita, karena entah disadari atau tidak, Tuhan tidak pernah melupakan kita. Ia tetap mendampingi kita dalam setiap perisitiwa hidup.
Injil melukiskan tentang Yesus yang menghadapi pelbagai tantangan dan cobaan dari pihak orang-orang Farisi, ahli Taurat, tua-tua Israel dan kelompok lainnya.
Pertanyaan tentang apakah diperbolehkan membayar pajak kepada kaisar atau tidak, merupakan sebuah jebakan. Orang-orang Israel tahu bahwa sebagai bangsa yang dijajah, mereka wajib membayar upeti atau pajak kepada kaisar atau penjajah. Tetapi,sebetulnya mereka menolak membayar pajak. Sebab membayar pajak berarti mengakui kekuasaan kaisar dan sekaligus menghujat Allah. Bangsa Israel hanya mengakui Allah, satu-satunya penguasa hidup mereka.
Tetapi, jawaban Yesus sangat bijaksana. Dia tidak secara terus terang dan lantang melarang orang membayar pajak kepada kaisar karena Ia bisa dituduh sebagai pemberontak atau pembangkang.
Yesus berkata, “Berikanlah kepada kaisar apa yang wajib kamu berikan kepada kaisar, dan kepada Allah apa yang wajib kamu berikan kepada Allah”, (Mt 22:21).
Yesus mau mengingatkan para pendengarNya agar sadar akan kewajiban dan tanggungjawabnya baik sebagai warga negara maupun sebagai umat Allah. Yesus juga mau menunjukkan sikap yang benar kepada masing-masing pihak menurut kuasa dan wewenangnya. Setiap orang dituntut menjadi warga negara yang baik dan bertanggungjawab dengan mentaati aturan, UU dan hukum yang berlaku, dan sekaligus,umat Allah yang baik dan taat untuk menyembah Allah dan berbakti kepadaNya.
Sebagai pengikut Yesus, ajaran ini menyadarkan kita akan dua status atau identitas yang kita miliki, yakni sebagai warga masyarakat dan negara dan sekaligus umat Allah atau warga Kerajaan Surga. Kita punya tanggungjawab ganda, baik kepada negara dan bangsa maupun kepada Allah. Dan kita diharapkan supaya menjadi sungguh-sungguh umat Allah dan sungguh-sungguh warga negara.
Karena itu, tidak dibenarkan kalau kita mengutamakan salah satu lalu mengabaikan yang lain. Mungkin sering kita lebih mengutamakan hak kaiser dan urusan dunia, lalu mengabaikan urusan Tuhan. Atau pun sebaliknya,
Sebagai warga negara Indonesia, kita mesti taat dan menghormati UU yang sah. Kita diharapkan untuk melibatkan diri dalam rencana dan usaha-usaha pembangunan untuk kebaikan dan kepentingan bersama, seperti menjaga kebersihan lingkungan, menghormati hak milik dan hak hidup orang lain, membayar pajak, dll.
Sebagai umat Allah, kita mesti sadari tugas dan kewajiban kita. Kita wajib melaksanakan kehendak Allah dan mentaati perintah-perintahNya dalam hidup sehari-hari. Kewajiban kepada Allah mesti ditunjukkan lewat kewajiban dan pelayanan kita kepada sesama atau orang lain.
Rasul Paulus mengajak kita untuk saling mendoakan satu sama lain agar kita pun selalu mengingat Tuhan yang meneguhkan kita semua. Waktu untuk berdoa adalah sesuatu yang wajib kita berikan kepada Tuhan. Berdoa kepada Allah demi kepentingan bersama merupakan kewajiban dan tanggung jawab sebagai umat Allah.
Sebagaimana orang-orang Yahudi punya tanggungjawab terhadap Kenisah dan mereka membayar pajak dan iuran wajib, maka sebagai anggota Gereja kita pun punya kewajiban dan tanggungjawab terhadap kehidupan dan pelayanan pastoral Gereja. Gereja membutuhkan dukungan dari seluruh umatnya. Tanpa keterlibatan aktif umat tidak mungkin kita bicara tentang kerajaan Allah yang semakin meluas di dunia. Kita juga tidak mungkin dapat melaksanakan karya pastoral dan evangelisasi tanpa dukungan patisipasi umat.
Kita sungguh butuhkan hati, pikiran, serta kerelaan untuk membuka tangan dan memberi untuk misi. Misi butuhkan kehadiran orang, misionaris dan agen pastoral. Misi juga membutuhkan uang dan barang untuk mendukung operasionalnya.
Sebab ketika kita tampil sebagai warga masyarakat dan warga Gereja yang baik, saat itulah kita sungguh-sungguh menjadi garam dan terang dunia.
Semoga Tuhan Yesus memberkati kita selalu!
Napan, 18 Oktober 2026

