Miris! Sekolah Warga Manggarai Timur Rata-rata SMP
redaksi - Minggu, 08 Februari 2026 21:14
Ilustrasi: Siswa SMP Seminari Pius XII, Kisol. Salah satu SMP terbaik di Manggari Timur (sumber: Youtube.com)JAKARTA (Floresku.com) - Di tengah gencarnya jargon pembangunan sumber daya manusia, kondisi pendidikan di Kabupaten Manggarai Timur justru menunjukkan ironi.
Rata-rata Lama Sekolah (RLS) penduduk usia 25 tahun ke atas pada 2025 hanya mencapai 8,11 tahun. Artinya, secara rata-rata warga Manggarai Timur bahkan belum menamatkan jenjang SMP.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) memang mencatat adanya kenaikan sebesar 0,15 tahun dibanding 2024 yang berada di angka 7,96 tahun. Namun, kenaikan ini lebih pantas disebut sebagai kemajuan semu.
Sebab, dalam ukuran nasional, Manggarai Timur masih tertinggal jauh dari rata-rata Indonesia yang sudah mencapai 9,07 tahun. Bahkan, jika dibandingkan dengan rata-rata Provinsi Nusa Tenggara Timur sendiri (8,22 tahun), Manggarai Timur masih berada di bawah.
Lebih mencemaskan lagi, posisi Manggarai Timur hanya berada di peringkat ke-11 dari 21 kabupaten/kota di NTT. Ini berarti separuh wilayah di provinsi yang sama justru lebih maju dalam hal pendidikan.
Kota Kupang melesat jauh dengan RLS 11,66 tahun, sementara kabupaten seperti Ngada, Alor, dan Ende juga sudah melampaui angka 8,5 tahun.
Baca juga:
- SOROTAN: Tragedi Anak SD di Ngada, Cermin Kepekaan Kita
- Bacaan Liturgis, Minggu, 08 Febrruari 2026: Pekan Biasa V
- HOMILI: Dipanggil untuk Jadi Terang dan Garam Dunia
RLS 8,11 tahun bukan sekadar angka statistik. Ia merepresentasikan realitas pahit: mayoritas warga berhenti sekolah di usia sangat muda, terjebak dalam siklus pekerjaan kasar, sektor informal, dan kemiskinan struktural. Dalam konteks ini, pendidikan belum benar-benar menjadi jalan keluar, melainkan sekadar slogan dalam dokumen perencanaan daerah.
Jika kondisi ini terus dibiarkan, Manggarai Timur bukan hanya tertinggal secara ekonomi, tetapi juga sedang menyiapkan generasi masa depan yang rapuh secara intelektual dan kompetitif. Pertanyaannya, apakah pemerintah daerah benar-benar serius membangun manusia, atau cukup puas dengan kenaikan angka statistik yang nyaris tak berarti? (Sandra:/Databoks.katadata.co.id). ***

