SOROTAN: Tragedi Anak SD di Ngada, Cermin Kepekaan Kita
redaksi - Minggu, 08 Februari 2026 14:31
Rosa Delima Yane (sumber: Dokpri)MAUMERE (Floresku.com ) — Kisah tragis bunuh diri seorang anak sekolah dasar di Jerebuu, Ngada bukan sekadar berita duka. Ia menjadi tamparan keras bagi kita semua—orang dewasa, orang tua, pendidik, pemangku kebijakan, dan masyarakat luas—tentang betapa rapuhnya dunia anak, serta betapa sering kita abai membaca jeritan mereka yang tak terucap.
Rosa Dalima Yane, S.Pd., M.Pd., Kepala TK Kemala Bayangkari 07 Maumere, menuliskan refleksi yang menggugah hati. Dengan bahasa sederhana namun penuh empati, ia menyuarakan kegelisahan seorang pendidik yang merasa gagal melindungi dunia anak.
“Ade… sakit sekali ka hatimu sampai buat keputusan yang buruk begini. Awalnya saya tidak percaya, tapi tulisan ini… benarkah ini tulisanmu?” tulis Rosa dalam akun facebooknya.
Baginya, kisah ini bukan hanya tentang satu anak, melainkan tentang kegagalan kolektif orang dewasa dalam membaca tanda-tanda kecil: wajah murung, diam berkepanjangan, perubahan perilaku, atau sekadar tatapan kosong.
Rosa menekankan bahwa anak-anak yang hidup dalam kondisi serba sulit cenderung lebih sensitif secara emosional. Mereka memikul beban yang tak seharusnya dipikul di usia belia.
“Sebagai orang dewasa, kita perlu memiliki kepekaan. Jangan setiap gerakan mereka kita curigai. Kita tahu dia lapar tapi kita biarkan, atau ditawarkan makan tapi dengan seribu satu ocehan yang menyakitkan hatinya,” tulisnya jujur.
Menurutnya, slogan “Anak Berhak Bahagia” yang sering digaungkan dalam perayaan Hari Anak Nasional kerap berhenti sebagai jargon.
Dalam praktik sehari-hari, baik di rumah, sekolah, maupun masyarakat, kebahagiaan anak sering dikorbankan oleh kemarahan, kemiskinan, kekerasan verbal, dan ketidakpedulian. “Jujur ya, kita sudah gagal menjadi orang-orang dewasa,” tulis Rosa, dengan nada getir.
Catatan penting yang ia tekankan sederhana namun dalam: “Jangan menahan kebaikan jika kau sanggup memberikannya pada yang membutuhkan.”
Bagi Rosa, satu tepukan di bahu, satu pertanyaan tulus, atau satu senyuman bisa menjadi jaring pengaman emosional bagi anak yang sedang berada di tepi jurang keputusasaan.
Baca juga:
- Bacaan Liturgis, Minggu, 08 Febrruari 2026: Pekan Biasa V
- HOMILI: Dipanggil untuk Jadi Terang dan Garam Dunia
- Bangkai Kapal Kuno Misterius di Pesisir Lagoi Bintan

Dampak dari kemiskinan struktural
Sorotan serupa juga datang dari Silvia, seorang praktisi media. Ia mengaitkan tragedi ini dengan persoalan struktural: kemiskinan dan akses bantuan sosial. Menurutnya, banyak keluarga yang seharusnya menerima bantuan justru terpinggirkan oleh sistem pendataan yang tidak akurat.
Silvia menyoroti program bansos yang pada dasarnya baik, tetapi sering tidak tepat sasaran di lapangan. Ia menceritakan kasus seorang janda yang membiayai dua anak, sudah memiliki kartu sembako dan diinformasikan bisa menarik bantuan di bank, namun gagal karena data di dinas sosial menyebutkan ia memiliki berbagai usaha, termasuk bengkel mobil—sesuatu yang sama sekali tidak pernah ia miliki.
“Petugas tidak pernah datang ke rumah, tapi tiba-tiba datanya menunjukkan seolah-olah ia hidup berkecukupan. Dari mana data itu diambil?” tanya Silvia heran.
Hal serupa juga terjadi pada Program Indonesia Pintar (PIP), yang gagal dicairkan karena perbedaan data administrasi, KTP, KK, dan domisili.
Bagi Silvia, birokrasi yang kaku dan tidak manusiawi justru menambah beban psikologis keluarga miskin. Anak-anak akhirnya tumbuh dalam tekanan ekonomi, rasa tidak berdaya, dan perasaan terpinggirkan. “Tolong janganlah mempersulit. Jangan lihat mereka tidak berdaya hanya karena pakai kain sarung, tanpa alas kaki, atau tidak bisa berkomunikasi dengan baik,” tegasnya.
Tragedi anak SD di Ngada adalah alarm sosial. Ia menuntut lebih dari sekadar empati sesaat. Ia menuntut perubahan cara pandang: bahwa kesehatan mental anak sama pentingnya dengan nilai rapor; bahwa bantuan sosial harus berbasis keadilan data; dan bahwa setiap anak berhak tumbuh dalam lingkungan yang aman, penuh perhatian, dan manusiawi.
Jika tidak, kisah serupa akan terus berulang—dan kita akan terus menyebutnya tragedi, tanpa pernah sungguh-sungguh belajar darinya.
Masalah kesehatan mental
Sorotan lain datang dari Petrus Agustinus Seda Sega, MM, Sp.KJ, tenaga kesehatan jiwa yang bertugas di RSUD dr. T.C. Hillers Maumere. Ia menilai tragedi ini dari sudut pandang kesehatan mental anak dan pola asuh orang tua.
Menurut Petrus, dalam psikologi perkembangan dikenal empat pola asuh utama, yakni neglected (pembiaran), permisif (memanjakan berlebihan), otoriter (keras dan penuh kuasa), serta demokratif (mengutamakan dialog dan mendengar suara anak). Dari keempatnya, pola asuh demokratif adalah yang paling ideal, sementara tiga lainnya berpotensi menimbulkan gangguan mental pada anak.
“Pola asuh otoriter membuat anak tumbuh menjadi pencemas dan paranoid. Pola permisif membuat anak tidak mau kalah, bahkan bisa menjadi dependent, tidak mampu mengambil keputusan. Sedangkan neglected membuat anak sangat sensitif, kehilangan arah, merasa tidak beruntung, dan mudah salah mengambil keputusan saat menghadapi masalah,” jelasnya.
Petrus menaruh perhatian khusus pada surat yang ditinggalkan anak sebelum bunuh diri. Menurutnya, isi surat itu menunjukkan kuatnya indikasi pola asuh neglected. Anak tersebut sejak bayi diasuh nenek, ayah meninggal sejak dalam kandungan, ibu menikah berulang kali, dan secara emosional kehilangan figur kelekatan utama. Pesan “Mama saya pamit, saya pergi, jangan cari saya lagi” menunjukkan luka batin yang jauh lebih dalam daripada sekadar soal buku sekolah.
“Ini anak populasi rentan. Anak yang dipaksa dewasa sebelum waktunya karena keadaan hidup. Sensitifitas emosinya tidak terkontrol, merasa tidak dicintai, lalu mengambil keputusan tanpa arah,” ujarnya.
Petrus mengingatkan, tanpa edukasi kesehatan mental sejak dini, kasus bunuh diri bisa menular (copycat suicide) pada anak-anak rentan lain yang menyaksikan atau membaca peristiwa serupa. Karena itu, pencegahan harus dimulai dari rumah, sekolah, dan komunitas.
“Banyak anak ingin bicara, tapi tidak ada yang mau mendengarkan. Padahal kalau anak merasa aman dan nyaman, mereka akan membuka isi hatinya,” tegasnya. (Leoni). ***

