Mungkinkah Jogo Varila Bawa ‘Kinde’ dari Utara ke Selatan Flores?

Redaksi - Sabtu, 06 Juni 2026 10:49
Mungkinkah Jogo Varila Bawa ‘Kinde’ dari Utara ke Selatan Flores?Ilustrasi pelayaran Jogo Warilla dari Teluk Kinde di utara ke Teluk Ende di selatan Pulau Flores (sumber: Gambar Artificial Intelligence)

Oleh Maxi Ali Perajaka

SALAH satu teka-teki menarik dalam sejarah lisan masyarakat Flores bagian tengah adalah keberadaan ‘Kota Jogo’. 

Di satu sisi, catatan sejarah dan tradisi lisan menunjuk Kota Joga yang berada di Teluk Kinde atau Sinde, pesisir utara Kecamatan Wolowae, Kabupaten Nagekeo (Orinbao, 1969).

Di sisi lain, terdapat beragam legenda yang hidup di kalangan masyarakat Ende. Legenda-legenda tersebut menempatkan Kota Jogo di kawasan Laut Sawu, dekat Pulau Ende di selatan Flores. 

Kontradiksi inilah yang membuat nama ‘Kota Jogo’ terasa membingungkan, sekaligus bikin penasaran. 

Pertanyaan yang muncul: Mana yang benar,  Kota Jogo berada di utara atau di selatan Flores? Apakah Kota Jogo itu sebuah permukiman nyata, benteng Portugis, atau sekadar pulau gaib dalam imajinasi masyarakat? 

Jogo Varila dan Kota Jogo di Utara Flores

Sebagaimana saya narasikan sebelumnya (Floresku.com, Selasa, 2 Juni 2026), nama Kota Jogo ‘melekat’ dengan tokoh historis Jogo Warilla  atau Jogo Varila. 

Sejumlah peneliti menduga nama Jogo Warilla  merupakan bentuk lokal dari nama Portugis ‘Diogo Varela’ (Abdurachman, 2008; Lewis, 2010). 

Tokoh ini dikisahkan datang dari Malaka, singgah di Makasar lalu  melanjutkan pelayaran ke pantai utara Flores pada abad ke-17. Diduga ia adalah salah satu panglima Portugis beragama Katolik yang dikejar-kejar oleh kekuatan dagang baru yang berusaha menguasai kawasan Malaka dan Nusantara: Belanda.

Jogo Varila dikisahkan melabuhkan kapalnya di Teluk Kinde. Lalu bersama para pengikut dan warga lokal, ia mendirikan sebuah permukiman sekaligus benteng pertahanan  hingga kini dikenal sebagai Kota Jogo.

Jika mengikuti logika pelayaran Portugis pada masa itu, lokasi Kota Jogo  justru lebih masuk akal berada di pantai utara Flores. 

Baca juga: 

Teluk Kinde di kawasan pesisir utara Flores berada di jalur pelayaran dari Malaka menuju Nusantara timur khususnya Makassar, Solor, Larantuka, dan kepulauan Maluku. 

Selain itu, wilayah utara Flores relatif lebih aman bagi kapal layar dibanding pesisir selatan yang berhadapan langsung dengan Laut Sawu dan Samudra Hindia.

Di kawasan inilah terdapat beberapa pulau kecil, salah satu di antarana adalah Pulau Kinde. Pulau ini seluas sekitar 30.000 meter persegi ini sekarang berada di wilayah administratif Desa Tenda Kinde, Kecamatan Wolowae, Kabupaten Nagakeo. 

Jaraknya dari Kota Mbay, ibu kota Kabupaten Nagekeo sekitar 30 km arah timur. Selanjutnya, jarak dari pesisir Koba ke Pulau Kinde terbilang dekat, dapat ditempuh sekitar 10 menit dengan perahu bermotor.

Keberadaan nama Kinde menarik karena memiliki kemiripan dengan sejumlah toponim lain yang tersebar di berbagai wilayah Flores seperti Cinde, Sinde, Cendau, dan Sandau (Orinbao, 1969). Namun nama ini memiliki latar belakang sejarah yang kompleks. Tentang ini akan dibahas dalam narasi berikutnya.

Legenda Kota Jogo di Selatan Flores

Menariknya, narasi semi-historis tentang Kota Jogo di utara Flores memiliki “saingan” berupa legenda-legenda Kota Jogo yang berkembang di sekitar Pulau Ende di selatan Flores. 

Victoria Ramenzoni (2023) mencatat sedikitnya enam versi utama legenda Kota Jogo yang hidup di masyarakat Ende.

Pertama, Nelayan Sape dipandu leluhur. Seorang nelayan dari Sape dikisahkan menemukan Kota Jogo setelah dibimbing sosok tua misterius dari Pulau Ende. Di tengah laut muncul daratan penuh ikan dan teripang, tetapi ketika dicari kembali, pulau itu lenyap.

Kedua, Petunjuk bintang menuju pulau keberuntungan. Nelayan Bajo mengikuti gugusan bintang Manu hingga menemukan daratan penuh hasil laut saat air surut yang disebut Kota Jogo. Legenda ini menegaskan bahwaKota Jogo hanya dapat ditemukan oleh mereka yang memperoleh petunjuk khusus.

Ketiga, Pulau yang menghadirkan kekayaan. Konon, seorang pelaut dari Kampung Eko Reko, Pulau Ende,   membawa pulang kelapa ajaib dari Kota Jogo. Minyak yang dihasilkan dari kelapa itu tidak pernah habis dan membuatnya kaya raya.

Keempat, Asal-usul leluhur raja Ende. Salah satu leluhur kerajaan Ende dikatakan berasal dari Kota Jogo. Setelah pulau itu tenggelam, ia bersama tiga orang lain selamat dan kemudian menjadi nenek moyang garis penguasa Ende.

Kelima, Pengungsi Kota Jogo dan lahirnya kerajaan Ende. Penduduk Kota Jogo yang tenggelam mengungsi ke Pulau Ende, membuka kehidupan baru, dan terlibat dalam proses yang kemudian melahirkan kerajaan Ende. Dalam versi ini, Kota Jogo juga dikaitkan dengan Jogo Varila.

Keenam, Pulau tenggelam dan munculnya Pulau Ende. Kota Jogo digambarkan sebagai pulau yang lebih tua daripada Pulau Ende. Setelah tenggelam akibat pelanggaran adat, sebagian penduduk selamat ke Numba, sementara Pulau Ende muncul sebagai daratan baru. Cerita ini disertai tanda-tanda alam seperti bau menyengat, langit merah, gelombang besar, asap, dan api.

Keenam versi tersebut memperlihatkan bahwa Kota Jogo tidak dipahami hanya sebagai sebuah tempat, melainkan sebagai simbol keberuntungan, asal-usul leluhur, bencana alam, dan hubungan manusia dengan dunia gaib. 

Meski detailnya berbeda-beda, semua versi sepakat bahwa Kota Jogo adalah ruang sakral yang hanya menampakkan diri kepada orang-orang tertentu yang memperoleh berkah dan petunjuk ilahi.

Peta lokasi Kota Jogo historis dan Kota Jogo legenda

Mengapa Kota Jogo Berpindah ke Selatan?

Membaca legenda-legenda tersebut muncul pertanyaan: ‘jika Kota Jogo historis berada di utara Flores, mengapa masyarakat Ende menempatkannya di selatan Flores?’ 

Pertanyaan yang lebih sederhana: mengapa Kota Jogo berpindah dari utara ke selatan Pulau Flores?

Di sinilah persoalan nama tempat - atau toponimi - menjadi sangat menarik. Nama Ende sendiri ternyata menyimpan sejarah panjang yang hingga kini belum sepenuhnya terpecahkan. 

Dalam berbagai catatan pelaut, pedagang, dan penjelajah Eropa pada abad-abad awal, nama itu ditulis dalam beragam bentuk, seperti Ende, Endeh, Inde, dan variasi lainnya. 

Menariknya, jika diperhatikan dari segi bunyi, bentuk-bentuk tersebut tidak terlalu jauh dari nama Cindeh, Sinde, atau Kinde yang muncul di berbagai wilayah Flores bagian utara.

Peneliti dan penulis budaya, Pater Piet Petu SVD alias Sareng Orinbao, melihat bahwa nama-nama seperti Cinde, Sinde, Kinde, Cendau, dan Sandau mungkin bukan sekadar kebetulan bunyi. 

Menurut dia, nama-nama tersebut dapat berasal dari satu rumpun linguistik yang sangat tua, jejak dari lapisan budaya asli Flores atau Nusa Nipa yang telah ada jauh sebelum munculnya kerajaan-kerajaan yang dikenal dalam sejarah tertulis.

Jika pandangan ini diterima, maka terbuka sebuah kemungkinan yang menarik. Ketika tokoh seperti Jogo Varila dan kelompok pengikutnya berlayar atau bermigrasi ke wilayah selatan Flores, mereka mungkin membawa serta nama-nama yang mengingatkan mereka pada tempat asal atau identitas komunitas mereka. 

Sebagaimana para perantau di berbagai belahan dunia yang menamai tempat baru dengan nama kampung halaman lama, jejak nama Sinde, Kinde, atau bentuk-bentuk serupa mungkin merupakan penanda ingatan kolektif yang bertahan selama berabad-abad. 

Tentu saja, hipotesis ini masih memerlukan penelitian lebih lanjut. Namun kemunculan nama-nama yang berkerabat bunyi di berbagai sudut Flores memberi petunjuk bahwa di balik toponimi yang tampak sederhana, mungkin tersimpan kisah perpindahan manusia, jaringan pelayaran kuno, dan memori budaya yang jauh lebih tua daripada yang selama ini kita bayangkan.

Ketika ‘Nama Tempat’ Ikut Berlayar

Dalam sejarah maritim Nusantara, pemindahan nama tempat bukanlah hal asing. Para pelaut Austronesia sering membawa nama kampung, teluk, gunung, atau pulau dari tempat asal mereka ke wilayah baru yang mereka tempati. Fenomena ini dikenal luas di Asia Tenggara dan Pasifik.

Jika Jogo Varila dan pengikutnya pernah bermukim di kawasan Teluk Kota Jogo di utara Flores dekat Pulau Kinde, maka mungkin saja ketika mereka kemudian berlayar ke selatan dan menemukan sebuah pulau di Teluk Ende, mereka memberi nama yang mengingatkan  pada tempat ‘tinggal’ sebelumnya. 

Pulau itu bisa saja disebut dengan nama Cindeh, Kindeh, atau Indeh, yang lambat laun berubah menjadi Endeh dan kemudian Ende.

Hipotesis ini memang belum dapat dibuktikan secara definitif, tetapi secara linguistik dan historis pola semacam itu sangat mungkin terjadi. 

Dalam konteks ini, Pulau Ende dapat dipahami sebagai semacam “kembaran simbolik” dari Pulau Kinde.

Dari Geografi Menjadi Mitos

Jika proses pemindahan nama itu benar-benar terjadi, maka kita dapat memahami bagaimana legenda Kota Jogo bergeser dari utara ke selatan Flores.

Awalnya mungkin terdapat sebuah Kota Jogo nyata atau semi-historis di pesisir utara dekat Pulau Kinde. 

Ketika kelompok-kelompok tertentu bermigrasi ke selatan dan menetap di sekitar Pulau Ende, mereka membawa ingatan tentang kampung asal, tokoh Jogo Varila, dan Pulau Kinde. 

Lama-kelamaan ingatan itu melekat pada lanskap baru. Kota Jogo tidak lagi dibayangkan berada di utara Flores, melainkan di sekitar Pulau Ende. 

Bencana Alam dan Kota yang Tenggelam

Ada unsur lain yang memperkuat transformasi itu: geologi Flores. Ramenzoni (2023) menunjukkan bahwa legenda Kota Jogo mengandung banyak elemen yang berkaitan dengan bencana alam: daratan yang tenggelam, gelombang besar, asap dan api, langit memerah, perpindahan penduduk, serta munculnya daratan baru.

Semua unsur ini mengingatkan pada pengalaman masyarakat Flores terhadap gempa bumi, tsunami, dan aktivitas vulkanik. 

Flores memang berada di salah satu zona tektonik paling aktif di dunia (Bird, 2003). Oleh karena itu, memori tentang sebuah kota yang tenggelam bisa jadi merupakan cara masyarakat menjelaskan perubahan lanskap yang benar-benar mereka alami.

Ketika memori bencana ini bertemu dengan kisah migrasi dan tokoh Jogo Varila, lahirlah legenda Kota Jogo yang dikenal sekarang. 

Dengan kata lain, legenda tersebut mungkin merupakan gabungan dari tiga lapisan sejarah: kehadiran tokoh Portugis seperti Jogo Varila, perpindahan komunitas pesisir, dan pengalaman kolektif terhadap bencana serta perubahan bentang alam.

Sebuah Hipotesis yang Menyatukan

Melalui kerangka ini, kontradiksi antara Kota Jogo di utara Flores dan Kota Jogo dalam legenda Ende tidak lagi menjadi masalah. Keduanya mungkin merupakan bagian dari satu rangkaian sejarah yang sama.

Kota Jogo historis dapat saja berawal dari sebuah permukiman atau markas yang berhubungan dengan Jogo Varila di pesisir utara dekat Pulau Kinde. 

Namun, ketika kelompok masyarakat berpindah ke kawasan Pulau Ende, mereka membawa nama, memori, dan kisah tersebut. 

Dalam perjalanan waktu, memori itu bertransformasi menjadi legenda tentang sebuah pulau gaib yang muncul dan tenggelam di Laut Sawu.

Dengan demikian, Kota Jogo mungkin bukan satu tempat tunggal yang harus dicari koordinatnya di peta. 

Kota Joga pun bisa dipahami sebagai sebuah memori maritim yang bergerak bersama manusia Flores, berlayar dari utara ke selatan, dari sejarah ke legenda, dari dunia nyata menuju dunia mitos.***

Referensi:

  • Abdurachman, P. (2008). Naskah-naskah sejarah Nusa Tenggara Timur. Jakarta: Pusat Penelitian dan Pengembangan Kebudayaan. (Sesuaikan penerbit jika Anda memiliki data bibliografi yang lebih lengkap.)
  • Ballard, C. (2014). Oceanic historicities. The Contemporary Pacific, 26(1), 96–124.
  • Bird, P. (2003). An updated digital model of plate boundaries. Geochemistry, Geophysics, Geosystems, 4(3), 1027. https://doi.org/10.1029/2001GC000252
  • Connerton, P. (1989). How societies remember. Cambridge University Press.
  • Fox, J. J. (1997). The poetic power of place: Comparative perspectives on Austronesian ideas of locality. Canberra: Australian National University.
  • Lewis, E. D. (2010). East of Java: From chronicles to biographies in Indonesian historiography. Leiden: KITLV Press.
  • Orinbao, S. (1969). Nusa Nipa: Nama pribumi Pulau Flores. Ende: Nusa Indah.
  • Ramenzoni, V. C. (2023). Kota Djogo: The island that never was: The role of legends and Islamic beliefs in understanding calamity and disasters in Flores, Eastern Indonesia. Bijdragen tot de Taal-, Land- en Volkenkunde, 179(3–4), 382–410. https://doi.org/10.1163/22134379-bja10061
  • Vansina, J. (1985). Oral tradition as history. Madison, WI: University of Wisconsin Press
Editor: Redaksi

RELATED NEWS