58 Tahun Berkarya, SMP Katolik Ile Bura Cetak Lulusan untuk Vatikan
Redaksi - Senin, 06 Juli 2026 18:52
Dari kiri ke kanan: Pater Lmbertus Lame Uran SVD (Pendiri SMPK Ile Bura), Padre Marco SVD (salah satu almunus SMPK Ile Bura yang berkiprah di Vatikan), dan Ignasius Boli Uran (Wakil Bupati Flotim) (sumber: Boli Uran)LARANTUKA, Floresku.com – Di tengah ancaman erupsi Gunung Lewotobi Laki-laki dan Lewotobi Perempuan, SMP Swasta Katolik Ile Bura di Kabupaten Flores Timur tetap berdiri kokoh sebagai salah satu lembaga pendidikan yang telah mencerdaskan generasi muda selama hampir 58 tahun.
Didirikan pada 15 Januari 1968, sekolah ini menjadi tumpuan pendidikan bagi anak-anak dari desa-desa di sekitar kawasan Gunung Lewotobi. Meski berkali-kali terdampak debu vulkanik dan menghadapi berbagai keterbatasan, sekolah tersebut terus bertahan dan melahirkan banyak alumni yang mengabdi di berbagai bidang, bahkan hingga ke Vatikan.

Berdasarkan catatan sejarah yang disusun Boly Uran, Sekretaris Komite Sekolah, SMP Katolik Ile Bura lahir dari gagasan Pater Lambertus Lamenuran, SVD, yang melihat sulitnya akses pendidikan bagi masyarakat di pedalaman Flores Timur pada pertengahan 1960-an.
Baca juga:
- Bacaan Liturgis, Senin, 06 Juli 2026
- Indomaret Tunda Bangun Gerai di Nangaroro, Tunggu Situasi Kondusif
- Bacaan Liturgis, Minggu, 05 Juli 2026
Awalnya, Pater Lambertus berencana mendirikan sekolah pertanian. Namun, setelah berdialog dengan tokoh adat, masyarakat, dan pemerintah, diputuskan mendirikan Sekolah Menengah Pertama Katolik agar lebih banyak anak dapat melanjutkan pendidikan.

Perjalanan sekolah pada masa awal tidak mudah. Bangunan pertama berdiri di atas lahan pinjaman masyarakat dengan dukungan gotong royong warga. Kepastian hukum atas lahan baru diperoleh pada 10 April 1979.
Pada 1995, sekolah dipindahkan ke lokasi yang sekarang, berdekatan dengan SDK Lewotobi. Bersamaan dengan itu dibangun asrama untuk menampung siswa-siswi dari desa-desa yang jauh dari sekolah.
Salah satu alumni yang mengharumkan nama sekolah adalah Padre Dr. Markus Solo Kewuta, SVD, atau yang akrab disapa Padre Marco. Lulusan tahun 1983 itu kini berkarya di Kuria Tahta Suci Vatikan.
Padre Marco mengenang perjuangan masa sekolahnya. Bersama teman-temannya, ia berjalan kaki sekitar lima kilometer setiap hari menyusuri pantai menuju sekolah. Sepatu tidak dipakai selama perjalanan, melainkan dijinjing agar tidak cepat rusak karena selama tiga tahun mereka hanya memiliki satu pasang sepatu.

"Bekerja untuk kemajuan pendidikan generasi muda adalah investasi kemanusiaan yang tepat dan ideal," ungkap Padre Marco.
Kepedulian itu tidak berhenti sebagai kenangan. Ketika kondisi sekolah dan kedua asramanya mengalami kemunduran pada 2015, Padre Marco bersama sejumlah sahabat di dalam dan luar negeri menggalang dukungan untuk memugar kembali bangunan sekolah serta melengkapi berbagai fasilitas pendidikan.

Perjuangan tersebut membuahkan hasil. Kedua asrama selesai direnovasi dan pada 6 Agustus 2025 secara resmi diberi nama Asrama San Marco sebagai simbol semangat baru dalam melayani pendidikan anak-anak Flores Timur.
Kini, di tengah ancaman bencana alam dan keterbatasan fasilitas, SMP Swasta Katolik Ile Bura tetap menjadi salah satu "permata" pendidikan di Flores Timur. Selama hampir enam dekade, sekolah ini telah melahirkan imam, guru, tenaga kesehatan, birokrat, aparatur pemerintah, dan tokoh masyarakat yang mengabdi di berbagai daerah, bahkan hingga ke Vatikan.
Semangat gotong royong, pengabdian para misionaris, dan kepedulian para alumni menjadi bukti bahwa sekolah sederhana di kaki Gunung Lewotobi ini terus menjadi jembatan harapan bagi generasi muda untuk meraih masa depan yang lebih baik. (Sandra/ sumber: Katolikku.com). ***

