Bersinergi dengan Du Anyam, Astra Angkat Martabat Wanita Penganyam di 25 DSA Flores Timur

redaksi - Rabu, 21 Desember 2022 13:06
Bersinergi dengan Du Anyam, Astra Angkat Martabat Wanita Penganyam di 25 DSA Flores TimurPara wanita penganyam di Flores Timur. (sumber: Instagram Du Anyam)

LARANTUKA (Floresku.com)-  Kehadiran dan kemitraan antara program Corporate Social Responsibility (CSR) PT Astra International Tbk (Astra) dan wirausaha sosial Du Anyam di Flores Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT) memang membawa dampak yang luar biasa. Dalam kurun waktu tak sampai empat tahun, kemitraan tersebut telah membentuk 25 DSA di seluruh Flores Timur.

Melalui berbagai program pendampingan dikelola secara profesional,  Astra dan Du Anyam berhasil membuat para wanita penganyam di Flores Timur semakin bermartabat. 

Para wanita itu menjadi lebih percaya diri dan merasa dihargai karena memiliki ketrampilan menganyam yang lebih diandalkan. 

Para wanita penganyam juga menjadi mandiri secara finansial, karena memiliki penghasilan tambahan.

“Saat ini rerata peningkatan pendapatan para penganyam di Flores Timur meningkat sekitar 40 persen,” ungkap Arina N. Baroroh, Project Manager Du Anyam di Flores Timur. 

Jimmy  Kerans, Product Assistant (PA) Du Anyam dengan latar belakang para wanita penganyam yang sedang asyik menganyam (Foto: Tim Floresku.com).

Hal itu terjadi, lanjut Arina, karena para wanita penganyam langsung mendapatkan bayaran dari hasil anyamannya sesuai dengan kuantitas dan kualitas anyaman yang disampaikan. 

Tanpa menyebut angka, Aria menjelaskan bahwa harga produk anyaman para wanita Flores Timur sangat bervariasi.

“Ada rentang harganya tergantung tingkat kerumitan dan ukuran produk,” terang Arina yang juga menjadi contact person DSA Flores Timur.

Ketika media ini mengintip list harga produk anyaman Du Anyam di etalase beberapa toko online Duanyam_Official seperti duanyam.com, tokopedia.com, dan shopee.co.id  tampak harga produk anyaman Du Anyam sangat bervariasi, mulai dari10-an ribu rupiahn hingga 600-an ribu rupiah.

Lebih dari itu, melalui berbagai kegiatan pelatihan hardskills di bidang anyam-menganyam yang digelar secara reguler, Astra dan Du Anyam mampu mengangkat produk anyaman para wanita Flores Timur ke derajat yang lebih tinggi.

Jika sebelumnya, produksi anyaman para wanita penganyam di Flores Timur sangat terbatas baik dari sisi jumlah maupun desainnya, maka kini jumlah produksinya menjadi lebih besar. Desain produknya pun menjadi  lebih modern dan elegan sesuai dengan tren pasar, sehingga bisa menembus pasar nasional, bahkan internasional.

Mengenai jumlah produksi, Arina menjelaskan, pada 2014, Du Anyam hanya bisa menjual 300 produk per bulan. Pada 2018, bertepatan dengan pesta olah raga Asian Games, Du Anyam dapat menjual 24 ribu produk dalam setahun. 

Di saat pandemi Covid-19, tahun 2020,  sama seperti UMKM lainnya produktivitas Du Anyam mengalami penurunan. Namun per tahun 2021 mulai digenjot lagi produksinya. 

“Hingga akhir tahun 2022 ini kami bisa memproduksi sekitar 19 ribu produk yang sebagian besar diserap pasar nasional,” jelas Arina.

Mateus Lagajong Kerans (28), Production Assistant  (PA) Du Anyam menambahkan, sekarang ini dalam sehari, para wanita penganyam di Flores Timur mampu menghasilkan 200 produk anyaman per bulan. 

Arina kemudian menimpali, produksinya bertarget per minggu. “Jumlah total Ibu yang berproduksi, termasuk yang hanya setor 1 atau 2 dalam sebulan, ada sekitar 550 ibu,” kata Arina.

Menurut Mateus Lagajong Kerans yang akrab disapa Jimmy, semua produk anyaman yang dihasilkan para wanita penganyam kemudian disortir lalu dikirim ke Larantuka menggunakan Kapal Motor (KM) Rahmat Solor. 

"Dari Solor kami kirim ke Gudang Waibalun di Larantuka. Kami sudah bekerja sama dengan pemilik KM Rahmat Solor sehingga dia dapat komisi hasil penjualan. Kemudian produk anyaman dimasukkan ke kontener lalu dikirim ke IKEA," cerita Jimmy pula.

Tahun ini, kata Jimmy lagi, sedikitnya 18 ribu produk anyaman asal Flores Timur dibeli IKEA, sebuah peritel perabot rumah dan furnitur kantor dari Swedia yang memiliki 364 toko di 61 negara di berbagai belahan dunia.

Bahkan, Arina menambahkan, ada pula produk yang diekspor ke beberapa negara, contohnya ke Jepang dan Amerika Serikat. 

Sobe, salah satu jenis produk anyaman para wanita penganyam Flores Timur (Foto: Du Anyam).

Anyaman sebagai ekpresi filosofi hidup

Bagi masyarakat Flores Timur, menganyam bukan saja sebuah aktivitas kerajinan tangan biasa. Sebab, setiap produk anyaman memiliki kisah dan maknanya tersendiri. 

Salah satu produk anyaman yang sering diproduksi para wanita di Flores Timur adalah keranjang sobe, yaitu wadah yang biasa digunakan sebagai keranjang tempat bahan pangan, tempat hasil tangkapan melaut, hingga penyimpan peralatan dapur.

Keranjang sobe  terdiri dari enam motif anyaman dengan filosofinya masing-masing. Setiap motif merupakan simbol dari aktivitas kehidupan sehari-hari. Salah satu makna yang paling menonjol adalah bahwa motif-motif sobe mengekspresikan filosofi bahwa orang Flores Timur menjalani kehidupan yang harmonis baik dengan sesama, maupun dengan alam di sekitarnya. 

Sobe bermotif Kemerekrara misalnya melambangkan nilai bergotong royong. Pasalnya, Kemerkrara dibentuk dari kata kemaren yang artinya ‘semut hitam’, dan rara yang artinya ‘jalan’. Jadi, motif Kemerekrara merupakan gambaran dari barisan semut hitam, sebuah symbol yang mengandung makna kebersamaan dan gotong royong.

Menimbulkan dampak sosial

Kerja sama kemitraan antara Astra dan Du Anyam mendampingi para wanita penganyam di 25 desa di Flores Timur telah   menimbulkan dampak sosial yang besar yaitu meningkatkan pendapatan para wanita hingga 40 persen. 

“Saat ini rerata peningkatan pendapatan para wanita penganyam ada di sekitar 40 persen,” ujar Arina.

Selain itu, Astra dan Du Anyam mengadakan program nonproduksi supaya meningkatkan kompetensi para wanita penganyam berupa peningkatan softskills, public speaking; fasilitasi menjadi trainer,  plus program sosial terkait kesehatan ibu dan anak.

Sejak tahun 2020 lalu, Astra dan Du Anyam juga telah mendistribusikan lebih dari 5000 paket kebutuhan dasar, dan lebih dari 300 beasiswa dibagikan kepada anak dan cucu dari para wanita penganyam yang berbakat ini.

Memang, jalan yang ditempuh Astra dan Du Anyam untuk membawa para wanita penganyam di Flores Timur ke tingkat kesejahteraan yang ideal, masih panjang. Soalnya, masih sangat sedikit wanita penganyam yang bergabung di program Astra dan Du Anyam. 

"Setiap desa, baru sekitar 20-an hingga 30-an orang sehingga jumlah keseluruhan di 25 DSA baru sekitar 550 orang," ucap Arina.

Meski demikian, pencapaian yang diraih dalam beberapa tahun terakhir telah membawa kegembiraan, dan membuncahkan harapan untuk kehidupan yang lebih berkualitas.

Kegembiraan dan harapan itu tergambar jelas di guratan wajah para wanita penganyam yang media ini jumpai di Gedung Serbaguna Desa Wulublolong, Sabtu (17/12) lalu.

Yasinta Somi Moro (33) mengaku sangat bergembira atas  perhatian dan pendampingan dari Astra dan Du Anyam. Soalnya, melalui program pendampingan menganyam, kultur mengayam warisan nenek moyang yang sudah nyaris punah dapat ‘hidup’ kembali. 

Bahkan, katanya lagi, ‘sekarang kami dapat menganyam dengan desain yang lebih modern dan bervariasi, dan dengan standar mutu yang lebih bagus.’

Oleh karena itu wanita murah senyum itu berulang kali menyampaikan terima kasih kepada Astra dan Du Anyam.

“Terima kasih, terima kasih. Itu saja yang bisa saya sampaikan. Semoga Tuhan membalasi kebaikan Astra dan Du Anyam,” katanya dengan nada penuh harap.

Ucapan senada disampaikan Maria Karoline Lete Koten (44). Sebab, kata dia, melalui program pendapingan dari Astra dan Du Anyam, ‘spirit menganyam’ kembali hadir Desa Wulublolong.

"Mama saya juga penganyam, saya belajar menganyam secara tradisional dari mama saat usia saya masih kecil. Tetapi, semenjak ada program pendampingan dari Astra dan Du Anyam, saya menjadi penganyam yang lebih professional. Terima kasih Astra dan Du Anyam atas kebaikannya," katanya sambil melebarkan senyum.

Kesibukan di Product Room Rumah Anyam Wulublolong (Foto: Tim Floresku.com)

Rumah Anyam ‘Astra’

Menurut Arina, kemitraan Astra  dan Du Anyam di Flores Timur dimulai sejak Tahun 2020. Dalam kerja sama kemitraan tersebut, Astra memainkan peran sangat penting karena menyediakaan dana untuk memfasilitasi beberapa kegiatan pengembangan soft dan hardskills yang bisa diikuti mitra kerjasamanya

Bahkan, sejak 2021 lalu Astra mendirikan sebuah Rumah Anyam di Desa Wulublolong. 

“Rumah Anyam  ini memiliki  empat ruangan. Satu Living Room untuk tempat menganyam. Satu  Product Room untuk menyimpan produk-produk anyaman yang sudah disortir. Satu Transit Room, tempat menyimpan pucuk lontar, dan satu gudang penyimpan bahan baku,” terang Jimmy.

"Segala sesuatu yang berkaitan dengan mengyaman, semuanya dilakukan di sini. Mulai dari riset, training oleh ibu-ibu trainer, termasuk juga memonitoring semua anyaman yang masuk," kata Jimmy pula.

Ia berujar, Rumah Anyam juga sering digunakan untuk berdiskusi apabila penganyam menghadapi kendala. Juga untuk menyelenggarakan kegiatan training, pengembangan soft skill, dan workshop.

Sementara itu Arina menerangkan, pusat kegiatan  workshop ada di Desa Wulublolong, tetapi jenis program DSA yang dikembangkan pada dasarnya sama dengan desa dampingan lainnya.

Menurut dia  program pendampingan bermuara ke pengembangan kualitas menganyam atau menghasilkan anyaman yang lebih modern sesuai tren zaman tanpa menghilangkan kultur aslinya.

Selaku penanggung jawab Rumah Anyam Wulublolong, Jimmy menambahkan, para pengunjung juga bisa masuk dan  belajar menganyam di Rumah  Anyam itu. 

“Namun, mereka tidak diperbolehkan membuang sampah sembarangan. Sebab, menjaga kebersihan dan kelestarian lingkungan hidup adalah salah satu misi dari CSR Astra,” pungkas Jimmy. (Maxi A.P). ***

 

 

RELATED NEWS