BPOLBF Gandeng IN-FLORES Susun Strategi Ekowisata Berkelanjutan

Redaksi - Sabtu, 18 Juli 2026 10:09
BPOLBF Gandeng IN-FLORES Susun Strategi Ekowisata BerkelanjutanBPOLBF dan IN-FLORES Satukan Langkah, Rumuskan Masa Depan Ekowisata Berkelanjutan Labuan Bajo (sumber: Istimewa)

LABUAN BAJO (Floresku.com) – Upaya menjadikan Labuan Bajo sebagai destinasi wisata kelas dunia yang tetap berpijak pada prinsip keberlanjutan terus diperkuat. 

Badan Pelaksana Otorita Labuan Bajo Flores (BPOLBF) bersama IN-FLORES menggelar Seminar Nasional Ekowisata Berkelanjutan di Labuan Bajo, Kabupaten Manggarai Barat, Kamis (16/7).

Seminar ini mempertemukan pemerintah, akademisi, pelaku industri pariwisata, komunitas, serta berbagai pemangku kepentingan untuk merumuskan arah baru pengembangan ekowisata yang tidak hanya mengejar pertumbuhan jumlah wisatawan, tetapi juga menjaga kelestarian alam, melindungi budaya lokal, dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Kegiatan tersebut menjadi momentum penting di tengah semakin meningkatnya popularitas Labuan Bajo sebagai salah satu destinasi unggulan Indonesia yang menarik wisatawan dari berbagai belahan dunia.

Sekretaris Daerah Kabupaten Manggarai Barat, Fransiskus Sales Sodo, yang membuka seminar secara resmi menegaskan bahwa pembangunan pariwisata tidak lagi cukup mengandalkan keindahan alam semata. Menurutnya, destinasi kelas dunia harus didukung tata kelola yang modern dan berbasis teknologi.

Baca juga:

"Penguatan kelembagaan Pemerintah Kabupaten Manggarai Barat di bidang kepariwisataan kami iringi dengan transformasi digital. Destinasi berkelas dunia tidak bisa lagi dikelola dengan cara konvensional," kata Fransiskus.

Ia menjelaskan, Pemerintah Kabupaten Manggarai Barat telah menghadirkan aplikasi Gendang Mabar sebagai single source of truth dalam tata kelola pariwisata daerah.

"Aplikasi ini mengintegrasikan informasi destinasi, reservasi hingga pembayaran daring dalam satu pintu layanan," ujarnya.

Menurut Fransiskus, digitalisasi menjadi kebutuhan mendesak agar pelayanan kepada wisatawan semakin cepat, transparan, dan terintegrasi. Kehadiran sistem digital juga diharapkan memudahkan pemerintah dalam mengambil keputusan berbasis data sehingga pengembangan destinasi dapat dilakukan secara lebih tepat sasaran.

Potensi Besar, Tantangan Tidak Kecil

Labuan Bajo selama ini dikenal sebagai gerbang menuju Taman Nasional Komodo. Namun, daya tarik kawasan ini sesungguhnya jauh lebih luas. 

Manggarai Barat memiliki bentang alam pegunungan, kawasan karst, hutan tropis, pantai, pulau-pulau kecil, hingga ekosistem laut yang menjadi rumah bagi beragam spesies endemik.

Di sisi lain, kekayaan budaya masyarakat Manggarai dengan kampung adat, tradisi, kuliner, seni, serta berbagai desa wisata menjadi modal penting dalam membangun ekowisata berbasis masyarakat.

Potensi tersebut membuat kunjungan wisatawan terus meningkat dari tahun ke tahun. Namun, peningkatan aktivitas wisata juga membawa tantangan berupa tekanan terhadap lingkungan, meningkatnya kebutuhan infrastruktur, serta perlunya pemerataan manfaat ekonomi bagi masyarakat lokal.

Karena itu, konsep ekowisata dinilai menjadi pendekatan yang paling relevan bagi masa depan Labuan Bajo. Melalui pendekatan ini, pembangunan pariwisata tidak hanya berorientasi pada keuntungan ekonomi, tetapi juga memperhatikan aspek konservasi alam, pelestarian budaya, serta pemberdayaan masyarakat.

Kolaborasi Jadi Kunci

Seminar nasional yang digelar BPOLBF dan IN-FLORES menegaskan bahwa pembangunan destinasi tidak dapat dilakukan oleh satu pihak saja. Pemerintah, pelaku usaha, akademisi, organisasi masyarakat, komunitas lokal, hingga wisatawan memiliki tanggung jawab bersama dalam menjaga keberlanjutan destinasi.

Kolaborasi lintas sektor dinilai menjadi fondasi penting agar setiap kebijakan yang diambil mampu menjawab tantangan pembangunan pariwisata di masa depan.

Selain membahas strategi pengelolaan destinasi, seminar juga menjadi ruang bertukar gagasan mengenai praktik-praktik terbaik pengembangan ekowisata, penguatan kapasitas masyarakat desa wisata, konservasi lingkungan, hingga pemanfaatan teknologi digital dalam meningkatkan kualitas layanan wisata.

Berbagai rekomendasi yang dihasilkan diharapkan dapat menjadi acuan dalam penyusunan kebijakan maupun program pengembangan pariwisata di Manggarai Barat.

Menjaga Alam, Menguatkan Ekonomi Lokal

Dalam beberapa tahun terakhir, Labuan Bajo berkembang menjadi salah satu destinasi super prioritas nasional. Pertumbuhan sektor pariwisata telah membuka banyak peluang ekonomi, mulai dari usaha akomodasi, restoran, transportasi, jasa pemandu wisata, hingga industri kreatif.

Namun, keberhasilan tersebut harus diiringi dengan upaya menjaga daya dukung lingkungan agar pesona alam yang menjadi kekuatan utama Labuan Bajo tetap lestari.

Pengembangan ekowisata juga diharapkan mampu meningkatkan keterlibatan masyarakat sebagai pelaku utama, bukan sekadar penonton di daerahnya sendiri. Dengan demikian, manfaat ekonomi pariwisata dapat dirasakan secara lebih merata sekaligus memperkuat identitas budaya lokal.

Menuju Destinasi Berkelas Dunia yang Berkelanjutan

Seminar Nasional Ekowisata Berkelanjutan menjadi salah satu langkah strategis dalam menyatukan visi berbagai pemangku kepentingan untuk masa depan Labuan Bajo. Transformasi digital, tata kelola yang baik, konservasi lingkungan, serta pemberdayaan masyarakat dipandang sebagai empat pilar utama dalam membangun destinasi yang tangguh dan berdaya saing.

Melalui sinergi antara BPOLBF, Pemerintah Kabupaten Manggarai Barat, IN-FLORES, pelaku industri, akademisi, dan masyarakat, Labuan Bajo diharapkan tidak hanya dikenal sebagai rumah bagi komodo, tetapi juga menjadi contoh sukses pengembangan ekowisata berkelanjutan di Indonesia.

Dengan komitmen bersama tersebut, Labuan Bajo memiliki peluang besar untuk terus memperkuat posisinya di peta pariwisata dunia sebagai destinasi yang menawarkan pengalaman wisata berkualitas tanpa mengorbankan kelestarian alam maupun nilai-nilai budaya yang menjadi identitas Flores. (Tari). ***

Editor: Redaksi

RELATED NEWS