Di Nangalili, Mgr Maksi Disambut Hangat Secara Lintas Iman
redaksi - Senin, 02 Maret 2026 14:33
Tokoh agama dan warga Muslim turut berdiri di barisan penerima tamu, membantu pengamanan, serta ambil bagian dalam prosesi adat menyambut kunjungan Mgr Maksi ke Stasi St Markus, Nangalili, Paroki Wae Nakeng, Minggu (1/3). (sumber: Vinsen Patno)NANGALILI (Floresku.com) - Kunjungan pastoral Mgr. Maksimus Regus (Mgr Maksi), Uskup Keuskupan Labuan Bajo, ke Stasi St. Markus Nangalili, Paroki Santa Familia Wae Nakeng, Kecamatan Lembor, Minggu (1/3), berlangsung meriah dan sarat makna persaudaraan lintas iman.

Uskup Maksi hadir bersama sejumlah imam: RD. Frans Nala, RD. Carles Suwendi, RD. Yuvens Rugi, RD. Martin William, dan RD. Silvi Mongko.
Sejak tiba di wilayah Lembor, rombongan disambut di empat titik penerimaan—Cambir Bendera, Palis, Golo Jong, dan Aula Komunitas Susteran CIJ Nangalili.

Prosesi adat digelar penuh khidmat: pengalungan selendang, perarakan dengan sanda, penampilan marching band, hingga giring-giringan pasukan berkuda dan kendaraan hias.
Namun yang paling mencuri perhatian adalah keterlibatan aktif umat Muslim setempat dalam seluruh rangkaian penyambutan. Tokoh agama dan warga Muslim turut berdiri di barisan penerima tamu, membantu pengamanan, serta ambil bagian dalam prosesi adat.
Pemandangan ini menjadi simbol kuat bahwa perbedaan keyakinan tidak menjadi sekat, melainkan jembatan kebersamaan di Lembor.
Baca juga:
- RI Tertinggi Konsumsi Mikroplastik Dunia
- Bupati Sikka Launching SRIKANDI Saat Apel ASN
- Belajar Bermurah Hati Seperti Allah
Suasana hangat itu berlanjut dalam perayaan Ekaristi di Kapela Stasi Bunda Maria Dikandung Tanpa Noda Nangalili yang dipadati umat. Dalam homilinya pada Minggu Prapaskah II, Uskup Maksimus menyinggung makna kebersamaan tersebut, terutama karena masa Prapaskah hampir bersamaan dengan bulan puasa umat Muslim.

“Kita memasuki bulan rohani yang istimewa. Ketika puasa kita hampir bersamaan dengan saudara Muslim, ini menjadi bulan spiritual sekaligus bulan sosial dan kemanusiaan,” ujarnya.
Ia mengajak umat memaknai Prapaskah sebagai kesempatan memperdalam iman sekaligus mempererat solidaritas lintas agama.
Kunjungan ini bukan hanya penguatan pastoral, tetapi juga perayaan nyata harmoni sosial. Di tengah keberagaman, masyarakat Lembor menunjukkan bahwa toleransi bukan sekadar slogan, melainkan praktik hidup sehari-hari yang menguatkan persaudaraan dan kedamaian bersama. (Vinsen Patno). ***

