Ende: Simfoni Mitos, Sejarah, dan Pertemuan Peradaban

Redaksi - Selasa, 16 Juni 2026 16:21
Ende: Simfoni Mitos, Sejarah, dan Pertemuan PeradabanKota Ende dilihat dari Pulau Ende (sumber: Istimewa)

Oleh Maxi Ali Perajaka

ASAL-USUL nama Ende hingga kini tetap menjadi salah satu teka-teki paling memikat dalam sejarah Flores.

Ia tidak lahir dari sebuah prasasti batu atau keputusan seorang raja yang tercatat rapi dalam arsip kerajaan. 

Sebaliknya, Ende tumbuh dari perjumpaan berbagai lapisan ingatan: mitos yang diwariskan dari mulut ke mulut, tradisi lisan yang hidup dalam masyarakat, catatan para musafir, laporan para misionaris, hingga arsip kolonial yang tersimpan jauh di luar pulau ini.

Oleh karena itu, memahami sejarah awal Ende menuntut cara pandang yang lebih luas. Kita tidak cukup hanya membaca dokumen tertulis, tetapi juga perlu mendengarkan cerita-cerita yang hidup di tengah masyarakat.

Sejarah Ende bukanlah kisah tunggal yang bergerak lurus dari masa lalu menuju masa kini. Ia merupakan hasil perjumpaan berbagai pengalaman manusia: perpindahan penduduk, perdagangan maritim, penyebaran agama, relasi antarsuku, hingga interaksi dengan kekuatan-kekuatan besar Asia dan Eropa.

Nama Ende, dengan demikian, dapat dipahami sebagai sebuah "ruang ingatan" tempat beragam lapisan sejarah bertumpuk, saling bersahutan, dan pada akhirnya membentuk identitas masyarakatnya.

Legenda tentang Lahirnya Nua Ende

Dalam masyarakat tradisional Ende, sejarah tidak semata-mata tersimpan dalam arsip. Ia hidup dalam dongeng yang dituturkan dari satu generasi ke generasi berikutnya. 

Tradisi lisan bukan sekadar hiburan, melainkan sarana menjelaskan asal-usul komunitas, legitimasi kekuasaan, serta hubungan antarmanusia (Vansina, 1985).

Baca juga:

Salah satu kisah paling dikenal mengenai berdirinya Ende dicatat oleh S. Roos dalam Iets over Ende dan kemudian diperinci oleh B.C.M.M. van Suchtelen dalam kajian Onderafdeling Ende (Roos, 1872; Van Suchtelen, 1923).

Menurut legenda tersebut, sekitar sepuluh generasi sebelumnya turun dari langit sepasang leluhur bernama Ambu Roru dan Ambu Mo'do. 

Kehadiran mereka mencerminkan keyakinan bahwa leluhur memiliki asal-usul sakral dan menjadi penghubung antara dunia manusia dengan dunia adikodrati.

Suatu ketika, tiga orang dari Pulau Ende – Borokanda, Rako Madange, dan Keto Kuwa – berlayar ke Pulau Besar untuk menangkap ikan. 

Dalam perjalanan itu mereka bertemu Ambu Nggo'be, seorang tuan tanah yang kemudian menjadi tokoh sentral dalam berbagai kisah asal-usul Ende.

Ambu Nggo'be mengizinkan mereka menetap dengan syarat menyerahkan sebatang gading dan seutas rantai emas sebagai tanda penghormatan atas hak ulayat yang dimilikinya. 

Setelah syarat itu dipenuhi, para pendatang diperbolehkan mendirikan permukiman baru bernama Nua Roja yang kemudian berkembang menjadi Nua Ende.

Dari kisah sederhana ini tersimpan pelajaran sosial yang mendalam. Tanah tidak dipahami sebagai ruang kosong yang dapat dikuasai secara sepihak, melainkan warisan leluhur yang hanya dapat diakses melalui penghormatan, negosiasi, dan penerimaan terhadap sesama. Identitas masyarakat lahir dari kesediaan untuk hidup bersama.

Van Suchtelen juga mencatat mitos lain seperti Mythos Dori Woi, yang memperlihatkan bahwa masyarakat Ende tidak membayangkan dirinya sebagai komunitas tertutup. 

Garis keturunan Ambu Nggo'be bahkan dihubungkan dengan Sikka dan Luwu di Sulawesi. 

Sulit memang memverifikasi kisah-kisah tersebut secara historis, tetapi legenda-legenda itu menunjukkan bagaimana orang Ende memandang dirinya sebagai bagian dari jejaring manusia yang lebih luas.

Ende dalam Cakrawala Asia

Ketika beralih dari dunia mitos ke sumber-sumber tertulis Asia, muncul pertanyaan menarik: apakah Ende telah dikenal dalam jaringan perdagangan kuno?

Catatan Tiongkok menunjukkan bahwa pada milenium pertama Masehi perhatian para pelaut dan penulis Tiongkok lebih tertuju pada wilayah barat Nusantara. 

Mereka mengenal Sanfoqi yang merujuk pada Sriwijaya dan Shepo yang dikaitkan dengan Jawa. Nama Ende maupun Flores belum muncul dalam sumber-sumber tersebut.

Timor baru disebut lebih jelas dalam Zhu Fan Zhi karya Zhao Rukuo pada abad ke-13. Wilayah itu dikenal sebagai penghasil kayu cendana yang bernilai tinggi dalam perdagangan Asia (Zhao, 1967). 

Cendana digunakan dalam ritual keagamaan, pengobatan tradisional, hingga kebutuhan istana.

Baca juga:

Walaupun Ende belum disebut secara eksplisit, kedekatannya dengan jalur perdagangan cendana memungkinkan kawasan Flores ikut terhubung dalam aktivitas ekonomi regional. Laut Flores bukan ruang kosong, melainkan jalur lalu lintas manusia, barang, dan gagasan.

Pada abad ke-14, Flores semakin tampak dalam cakrawala Nusantara. Dalam Nāgara-Kěrtāgama yang ditulis Mpu Prapañca tahun 1365 disebutkan wilayah-wilayah timur seperti Solot, Timor, dan Galiyao sebagai bagian dari lingkaran pengaruh Majapahit (Pigeaud, 1960, 1962).

Memang, nama Ende tidak disebut secara langsung. Namun, penyebutan daerah-daerah di sekitarnya menunjukkan bahwa Flores telah masuk dalam jaringan politik dan perdagangan Nusantara jauh sebelum kedatangan bangsa Eropa.

Ketika Portugis Datang

Transformasi besar dalam sejarah Ende terjadi pada abad ke-16 ketika Portugis memasuki kawasan timur Nusantara. Setelah menaklukkan Malaka pada 1511, mereka berusaha menguasai jalur perdagangan rempah-rempah dan berbagai komoditas bernilai tinggi di Asia.

Dalam Summa Oriental, Tomé Pires mencatat bahwa pulau-pulau di sebelah timur Jawa terlibat dalam perdagangan cendana, budak, dan lilin lebah. 

Namun, menariknya, nama Ende belum disebut secara eksplisit (Cortesão, 1944). Flores sendiri belum dipahami sebagai satu kesatuan geografis yang jelas.

Baru menjelang akhir abad ke-16 nama Ende mulai muncul lebih tegas dalam arsip Portugis. Bahkan, penamaan Flores sendiri masih belum seragam. 

Menurut Sareng Orin Bao (1969), Portugis kerap menggunakan nama yang berubah-ubah. Pulau Flores pernah disebut Ilha de Larantuca, sementara daratan besar dikenal sebagai Ilha  de Grande atau "Pulau Besar".

Dalam konteks itulah Pulau Ende di depan Teluk Ende disebut Ilha de Ende. Penyebutan yang berulang ini menunjukkan bahwa Ende telah dikenal sebagai titik penting dalam jaringan pelayaran Portugis.

Dokumen-dokumen misi Dominikan memperlihatkan bahwa para misionaris telah melayani komunitas Kristen di Pulau Ende dan wilayah sekitarnya sejak awal abad ke-16. 

Adolf Heuken (2002) mencatat keberadaan umat Katolik di Pulau Ende, Numba, Saraboro, Curolallas, serta sejumlah kampung di pesisir selatan Flores.

Fakta ini menunjukkan bahwa menjelang tahun 1600 M,  Ende telah berkembang menjadi salah satu pusat penting aktivitas misi Portugis di Flores.

Ende: Pelabuhan Kosmopolitan

Arsip Portugis juga membedakan antara Ende Minor dan Ende Maior. Ende Minor merujuk pada Pulau Ende, sedangkan Ende Maior menunjuk Ende di daratan Flores.

Benteng Portugis di Pulau Ende dikenal dengan nama Fortaleza do Ende Menor (kadang ditulis Fortoleza do Ende Mino). 

Benteng pertahanan bersejarah ini dibangun oleh kolonialis Portugis pada kisaran tahun 1561 hingga 1595 berdasarkan rancangan seorang arsitek militer Portugis bernama Louis Fernando.

Yang tak kala menarik, di Ilha Ende Minor (Pulau Ende) ini kegaitan ekonomi sanat berkembang sehingga salah satu pusat aktivitas maritim di kawasan timur Nusantara.

Para pelautnya dikenal tangguh dan menjalin hubungan dagang hingga, Timor, Sumba, Jawa,  Makassar dan Maluku.

Di tempat inilah bertemu berbagai kelompok manusia: masyarakat lokal, pedagang Melayu, pelaut Makassar, orang Tionghoa, hingga Portugis. 

Berbagai bahasa diperdengarkan, berbagai keyakinan dipraktikkan, dan berbagai kepentingan ekonomi saling bertaut.

Sebaliknya, wilayah daratan lebih bercorak agraris dengan struktur kesukuan yang kuat. Kehidupan masyarakat bertumpu pada relasi adat dan penghormatan terhadap tanah leluhur.

Perbedaan karakter tersebut memperlihatkan bahwa Ende sejak awal bukanlah entitas tunggal yang homogen. Ia adalah mosaik sosial yang kaya.

Misi Dominikan dan Pertarungan Pengaruh

Kehadiran Portugis tidak hanya membawa pedagang dan pelaut. Bersama mereka datang pula para misionaris Dominikan yang berupaya menyebarkan iman Katolik di Flores.

Namun, penyebaran agama baru ini tidak berlangsung tanpa tantangan. Masyarakat lokal telah memiliki sistem kepercayaan leluhur yang berakar kuat. 

Pada saat yang sama, pengaruh Islam juga hadir melalui jaringan perdagangan Melayu dan Makassar.

Akibatnya, Ende menjadi arena perjumpaan sekaligus persaingan antara kepercayaan lokal, Islam, dan Katolik.

Salah satu peristiwa paling dramatis terjadi pada tahun 1602 ketika Pastor Jeronimo (Hieronimo) Mascarenhas, OP, dibunuh di dekat Teluk Tonggo yang berhadapan dengan Pulau Ende, setelah berupaya memperingatkan umat Kristen di Ende mengenai ancaman armada João Juang -pedagang Portugis yang murtad dari Katolik dan menjadi pembajak yang beroperasi dari Gowa (Heuken, 2002).

Tak lama kemudian, karya Ethiopia Oriental karya João dos Santos kembali menyebut keberadaan gereja-gereja dan komunitas Kristen di sekitar Ende, termasuk Lena dan Kewa (Santos, 1609).

Dengan demikian, Ende merupakan salah satu nama tempat tertua di Flores yang dapat ditelusuri secara relatif berkesinambungan dalam arsip Eropa sejak lebih dari empat abad silam.

Meski demikian, dominasi Portugis tidak berlangsung lama. Perlawanan lokal, persaingan dengan kekuatan lain, serta keterbatasan sumber daya membuat pengaruh mereka melemah. 

Perhatian Portugis kemudian bergeser ke Larantuka dan Timor. Namun, jejak mereka tetap tertinggal dalam memori maritim Flores.

Mitos Ular Sawah Cindai atau Kisah Kain Tenun Cindai dari India?

Salah satu upaya menarik untuk menelusuri asal-usul nama Ende datang dari Pastor P. Sareng Orin Bao melalui bukunya Nusa Nipa: Nama Pribumi Nusa Flores (Warisan Purba) (1969). 

Berbeda dengan pendekatan sejarah politik atau kolonial, Orin Bao membaca toponimi Flores melalui kosmologi masyarakat setempat. 

Ia menunjukkan bahwa Pulau Flores secara tradisional dikenal sebagai Nusa Nipa, "Pulau Ular", karena dalam pandangan budaya Flores, ular bukan sekadar binatang, melainkan simbol kesaktian, kesuburan, perlindungan, dan penghubung antara dunia manusia dengan dunia adikodrati.

Dalam kerangka kosmologis itu, Orin Bao menyebut sejumlah bentuk nama kuno seperti Cindau, Ciendeh, dan Kinde .

Ia menjelaskan,  di Pulau Kinde dan dareah sekitar Wewa Ria, di  pesisir utara  Flores tengah ditemukan banyak cindau,  cindai, ciendeh yaitu ular sakral dengan warna lurik yang indah yang juga disebut cindai sawa denu dan cindai sawa lero. 

N amun, dia menegaskan, jangan gegabah  menafsirkan pemberian nama Nusa Nipa itu berdasarkan numerik adanya banyak ular biologik itu. 

Tafsiran ini kalau dibenarkan maka tidak djuga mendjadi alasan satu-satunya. Alasan kedua ialah pemberian nama Nusa Nipa itu berdasarkan keyakinan akan kesaktian dan kekeramatan pada ular. Berdasarkan dua alasan ini nama Nusa disederhanakan menjadi dwi nama yakni Nuhan Ular, Nuha Ula dan Nusa Nipa.

 Orin Bao memang tidak secara tegas menyimpulkan bahwa nama Ende berasal langsung dari bentuk-bentuk tersebut. Ia lebih memperlihatkan adanya jejak simbolik dan linguistik yang menunjukkan bahwa nama-nama itu merupakan bagian dari dunia budaya Flores purba.

Penafsiran yang lebih eksplisit baru muncul dalam karya Poerwadarminto (1987) dan  F.X. Soenaryo dkk.  (2006). 

Mereka  mengatakan bahwa kata Ende  diduga berasal dari kata cinde artinya sejenis ular Sawa Cinde  yang memiliki warna berbungabunga. 

Bahkan, tulis Soenaryo dkk, menurut cerita lisan,  pada masa lampau di sekitar Gunung Meja  atau Gunung Pui dan di Nusa Songo atau Nusa Eru Mbinge (Pulau Ende) pernah ditemukan  ular ajaib yang mirip dengan ular sawah cindai.

Para penulis kemudian mengajukan kemungkinan adanya perkembangan pelafalan dari bentuk-bentuk lama seperti Cendau, Cindau, Ciendeh, Cinde, dan Kinde, yang kemudian berubah menjadi Endeh pada masa kolonial Belanda, hingga akhirnya menjadi Ende seperti yang dikenal sekarang. 

Rekonstruksi ini bukanlah etimologi yang sudah pasti, melainkan sebuah hipotesis historis yang berusaha menjelaskan mengapa berbagai variasi nama tersebut muncul dalam ingatan masyarakat maupun arsip kolonial.

Sebelumnya, budayawan Ende,  Pua Mochsen (1984) menghadirkan dimensi lain melalui tradisi lisan yang berkembang di tengah masyarakat.

Menurut dia,  istilah Ciendeh atau Cinde mungkin berkaitan dengan cindai, yakni kain sutra bermotif yang dahulu menjadi komoditas perdagangan dari India dan sangat dihargai di berbagai wilayah Nusantara. 

Kain-kain mewah semacam itu lazim digunakan dalam upacara adat dan menjadi penanda status sosial. Konon, melalui interaksi budaya nama kain tenun itu kemudian diadposi menjadi nama tempat. 

Penyebutannya dapat mengalami perubahan bunyi dari Ciendeh atau  cindai menjadi Endeh, lalu akhirnya Ende.

Namun demikian, hubungan antara nama Ende dengan kain India tersebut sebaiknya dipahami secara hati-hati. 

Hingga kini belum terdapat bukti linguistik maupun filologis yang cukup kuat untuk memastikan bahwa nama Ende memang berasal dari istilah cindai dalam tradisi tekstil India. 

Keterkaitan itu lebih tepat diposisikan sebagai hipotesis budaya yang menarik: sebuah kemungkinan yang menunjukkan betapa terbukanya Flores terhadap arus perdagangan dan pertukaran gagasan dari dunia luar sejak masa lampau.

Manakah dari hipotesis di atas yang paling benar? 

Tentu saja tidak ada satu jawaban tunggal yang sepenuhnya dapat menjelaskan asal-usul nama Ende secara pasti dan akurat. 

Akan tetapi, dari beragam tafsir itulah tampak bahwa nama Ende bukan sekadar penanda geografis, melainkan ruang tempat mitos, bahasa, perdagangan, dan ingatan budaya saling bertemu dan membentuk identitas sebuah masyarakat.

Simfoni Sebuah Identitas

Pada akhirnya, mungkin memang tidak ada satu jawaban pasti mengenai asal-usul nama Ende.

Legenda Ambu Nggo'be memperlihatkan bahwa Ende lahir dari perjumpaan antarkelompok manusia yang belajar hidup bersama melalui penghormatan terhadap adat. 

Catatan Asia menunjukkan bahwa Flores telah terhubung dengan jaringan perdagangan regional sejak berabad-abad silam. Arsip Portugis menegaskan peranan Ende sebagai simpul maritim yang mempertemukan kepentingan ekonomi, politik, dan agama.

Sementara itu, tafsir atas kisah kosmologis Sareng Orinbao dan hipotesis budaya atas jenis kain indah dari India,  mengingatkan bahwa sebuah nama juga menyimpan lapisan makna simbolik yang berakar dalam kosmologi lokal.

Barangkali justru di situlah keistimewaan Ende.

Ia tidak lahir dari satu kisah tunggal, melainkan dari banyak suara yang saling bersahutan: legenda para leluhur, pelayaran para pedagang Asia, doa para misionaris Portugis, kisah para pelaut Pulau Ende, hingga tafsir para peneliti modern.

Mitos dan fakta tidak saling meniadakan. Keduanya bersama-sama membentuk ingatan kolektif sebuah masyarakat.

Ende, pada akhirnya, bukan sekadar nama sebuah kota di pesisir Flores. Ia adalah jejak panjang perjalanan manusia—tempat laut bertemu daratan, adat bersua agama, dan tradisi lokal berdialog dengan arus global.

Sebuah simfoni sejarah yang terus dimainkan dari generasi ke generasi. Dan justru karena keberagaman suaranya itulah, identitas Ende tetap hidup hingga hari ini. (*)

Referensi:
  • Abdurachman, P. (2008). Naskah-naskah sejarah Nusa Tenggara Timur. Pusat Penelitian dan Pengembangan Kebudayaan.
  • Cortesão, A. (Ed. & Trans.). (1944). The Suma Oriental of Tomé Pires: An account of the East, from the Red Sea to Japan, written in Malacca and India in 1512–1515 (Vols. 1–2). The Hakluyt Society.
  • Europeana. (2023). What is chintz? Objects and craft of desire, from India to Europe. https://www.europeana.eu/stories/what-is-chintz
  • Etymonline. (n.d.). Chintz: Etymology, origin and meaning. https://www.etymonline.com/word/chintz
  • Heuken, A. (2002). The Catholic Church in Indonesia 1808–1942: A documented history (Vol. 1). Cipta Loka Caraka.
  • Kompas.com. (2022, June 2). Cerita asal mula berdirinya Ende, dongeng Ambu Nggo'be hingga Dori Woi. https://www.kompas.com/sains/read/2022/06/02/100500223/cerita-asal-mula-berdirinya-ende-dongeng-ambu-nggo-be-hingga-dori-woi?page=all
  • Lehmann, K. W. (2002). Karya misi pater-pater Dominikan di wilayah Nagekeo (Flores Tengah) tahun 1555–1772. Dioma.
  • Muskens, M. P. M. (1974). Sejarah Gereja Katolik Indonesia (Vol. 1). Bagian Dokumentasi Penerangan Kantor Waligereja Indonesia
  • Orinbao, P. S. (1969). Nusa Nipa: Nama pribumi Nusa Flores (Warisan purba). Nusa Indah.
  • Pigeaud, T. G. T. (1960). Java in the 14th century: A study in cultural history (Vol. 3). Martinus Nijhoff.
  • Pigeaud, T. G. T. (1962). Java in the 14th century: A study in cultural history (Vol. 4). Martinus Nijhoff.
  • Ramenzoni, V. C. (2023). Kota Djogo: The island that never was: The role of legends and Islamic beliefs in understanding calamity and disasters in Flores, Eastern Indonesia. Bijdragen Tot de Taal-, Land- en Volkenkunde, 179(3–4), 382–410. https://doi.org/10.1163/22134379-bja10061
  • Roos, S. (1872). Iets over Ende. Landsdrukkerij.
  • Rouffaer, G. P. (1923–1924). Endeh (Flores) in de 16de en 17de eeuw. Bijdragen Tot de Taal-, Land- en Volkenkunde, 79, 1–174.
  • Sá, A. Basílio de. (Ed.). (1954–1958). Documentação para a história das missões do Padroado Português do Oriente (Vols. 1–9). Agência Geral do Ultramar.
  • Santos, J. dos. (1609). Ethiopia Oriental e varia história de cousas notáveis do Oriente. Jorge Rodriguez.
  • Soenaryo, dkk., (2006), Sejarah Kota Ende, Ende: Pustaka Larasan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Ende.
  • Van Suchtelen, B. C. M. M. (1921). Onderafdeeling Ende. Landsdrukkerij.
  • Vansina, J. (1985). Oral tradition as history. University of Wisconsin Press.
  • Zhao, R. (1967). Chu-fan-chi (Zhu Fan Zhi): A description of foreign peoples (F. Hirth & W. W. Rockhill, Trans.). Paragon Book Reprint. (Original work published 1225).

 

RELATED NEWS