Film 'Pesta Babi' di Sekretariat AWAS Tuai Sorotan: 'Nobar Kok Diabsen?'
Redaksi - Minggu, 17 Mei 2026 15:23
Susana nonton bareng Film 'Pesta babi' di Aula AWAS, Maumere, Sabtu (16/5) malam. (sumber: Silvia)MAUMERE (Floresku.com) – Pagelaran nonton bareng (nobar) yang digelar di Sekretariat AWAS, Jalan Ahmad Yani, Maumere, pada Sabtu (16/5) malam berlangsung lancar dan mendapat antusiasme warga.
Namun, kegiatan tersebut juga memunculkan sorotan setelah panitia meminta seluruh peserta yang hadir untuk mengisi absensi.
Sebelum pemutaran film dimulai, panitia terlebih dahulu mengumumkan bahwa peserta diminta bersedia mengisi daftar hadir. Kebijakan itu sempat memunculkan tanda tanya dari sejumlah warga yang hadir.

Saat dikonfirmasi, panitia menjelaskan bahwa absensi dilakukan untuk kepentingan dokumentasi dan pelaporan kepada pihak penyedia film, sekaligus administrasi internal kegiatan nobar yang digelar komunitas AWAS.
Baca juga:
- Diduga Sarat KKN, Bupati Sikka Didesak Audit Rekrutmen Naker Perumda Wair Puan
- Museum Marsinah Dinilai Perkuat Desa Wisata Berbasis Sejarah dan Budaya
- Carolin Pilih Berbagi dengan ODGJ dan Lansia Saat Rayakan Ulang Tahun ke-21
“Untuk dokumentasi pelaporan ke pihak penyedia film memang ketentuannya begitu, sekaligus untuk administrasi internal panitia nobar AWAS,” ujar salah satu panitia.
Meski demikian, kebijakan tersebut memicu beragam komentar dari peserta.
Salah seorang warga, Amandus Ratason, menilai film yang diputar memiliki pesan penting tentang identitas bangsa dan nilai-nilai kebersamaan yang tidak boleh hilang di tengah pembangunan.
“Pesan yang mau disampaikan bahwa identitas sebagai bangsa jangan sampai hilang dan terhapus dari muka bumi Indonesia, khususnya untuk Papua demi sebuah pembangunan,” ujarnya.
Menurut Amandus, tradisi pesta babi yang ditampilkan dalam film merupakan simbol solidaritas sosial dan gotong royong yang telah hidup sejak masa perjuangan Republik Indonesia.
“Pesta babi adalah simbol kebersamaan, simbol solidaritas sosial, dan nilai gotong royong yang sudah ditanamkan sejak zaman perjuangan republik ini,” katanya.
Komentar berbeda disampaikan Evaristus Siprianus, pensiunan ASN Bandara. Ia mengaku spontan terkejut saat mengetahui peserta nobar diminta mengisi absensi.
“Ah, ini macam hidup di zaman PKI saja. Nobar kok diabsen? Mau untuk apa daftar nama peserta nobar?” ujarnya sambil tertawa kecil.
Namun demikian, Evaristus tetap mengapresiasi isi film yang menurutnya sarat pesan sosial dan lingkungan.
“Film bagus seperti ini selayaknya semua masyarakat bisa menonton supaya lebih cerdas menyikapi fenomena yang terjadi di republik ini, terlebih lagi lebih mencintai lingkungan dan merawat lingkungan,” katanya.
Ia juga menyinggung berbagai persoalan lingkungan yang menurutnya masih menjadi pekerjaan rumah di Kabupaten Sikka.
“Jangan jauh-jauh melihat Papua sana. Di kabupaten ini banyak yang perlu kita benahi. Sampah yang tidak diurus dengan baik, tambang ilegal yang tidak tertata. Kita seharusnya gelisah ketika hujan datang lalu banjir sampah terjadi,” tegasnya.
Meski menuai komentar beragam, kegiatan nobar tersebut berlangsung aman dan menjadi ruang diskusi warga tentang isu sosial, budaya, lingkungan, dan identitas kebangsaan. (Silvia). ***

