GSB Inisiasi Literasi Kesehatan Mental Remaja di Kalangan Pendidik

redaksi - Minggu, 17 Desember 2023 15:03
GSB Inisiasi Literasi Kesehatan Mental Remaja di Kalangan PendidikPara peserta Webinar KGSB “Literasi Kesehatan Mental Untuk Pencegahan Kasus Bunuh Diri Pada Remaja” pada Sabtu, 16 Desember 2023. Webinar ini merupakan hasil kerja sama Komunitas Guru Satkaara Berbagi (KGSB) dan Rumah Guru BK (RGBK). (sumber: Alfa - KGSB)

JAKARTA (Floresku.com)  - 'Bunuh diri seakan menjadi tren. Dan yang sangat memprihatinkan, hampir setengah dari pelakunya adalah kalangan remaja. 

Bagaimana mengenali tanda-tanda suicide attempt yang sering terjadi pada remaja dan apa upaya yang bisa dilakukan untuk mencegahnya?

Dua pertanyaan penting di atas berusaha dijawab oleh para guru yang tergabung dalam Komunitas Guru Satkaara Berbagi (KGSB) melalui webinar berjudul “Literasi Kesehatan Mental untuk Pencegahan Kasus Bunuh Diri pada Remaja”, Sabtu (16/12).

Webinar yang diselenggarakan dalam rangka ulang tahun KGSB kedua tersebut menghadirkan narasumber Ulifa Rahma, S.Psi, M.Psi, Psikolog dan Dosen Prodi Psikologi dari FISIP, Universitas Brawijaya serta Ana Susanti, M.Pd. CEP, CHt., Founder Rumah Guru BK dan Widyaiswara di Kemendikbud Ristek RI.

Ruth Andriani, founder KGSB berharap, webinar yang diikuti lebih dari 200 peserta dari kalangan guru, mahasiswa dan kalangan orang tua murid itu bisa menghasilkan solusi dalam upaya pencegahan kasus-kasus bunuh diri pada remaja.

“Isu Kesehatan Mental menjadi salah satu prioritas KGSB, selain masalah kekerasan seksual dan bullying. Kami mengajak para anggota KGSB untuk berperan aktif dalam membantu meningkatkan literasi kesehatan mental di lingkungan terdekatnya,” tambah Ruth

Mengutip data Badan Riset dan Inovasi Nasional  (BRIN) terungkap bahwa   selama 11 tahun terakhir –tepatnya dari tahun 2012-2023, tercatat ada 2.112 kasus bunuh diri yang terjadi dan 985 kasus (atau 46,63%) di antaranya dilakukan oleh remaja. 

Secara global, data dari WHO yang dirilis tahun 2019 mengungkapkan kasus bunuh diri juga menjadi   penyebab kematian terbesar keempat pada kelompok  usia remaja 15-29 tahun di seluruh dunia.

Survey lebih mendalam yang dilakukan I-NAMHS (Indonesia National Adolescent Mental Health Survey) tahun 2022 mengungkapkan insight yang mengkhawatirkan.  

Bahwa, dari seluruh sampel survey yang diambil dalam 12 bulan terakhir, 1,4% remaja mengaku  memiliki ide bunuh diri; ,5%  telah membuat rencana untuk bunuh diri; dan 0,2%  telah melakukan percobaan bunuh diri.

Bunuh Diri dan Masalah Kesehatan Mental Remaja

Salah satu penyebab tingginya angka bunuh diri di kalangan remaja adalah masalah kesehatan mental. Berdasarkan survey I-NAMHS tahun 2022, sekitar 1 dari 20 atau 5,5% remaja usia 10-17 tahun didiagnosis memiliki gangguan mental (biasa disebut orang dengan gangguan jiwa ODGJ). 

Sementara, sekitar sepertiga atau 34,9% memiliki setidaknya satu masalah kesehatan mental atau tergolong orang dengan masalah kejiwaan (ODMK). 

Ana Susanti, Founder Rumah Guru BK dan Widyaiswara di Kemendikbud Ristek RI memaparkan faktor-faktor yang bisa menjadi  penyebab masalah kesehatan mental pada remaja. Yaitu tekanan akademik, pergeseran sosial, pengaruh media sosial dan totalitas harapan yang tinggi dari orang tua atau keluarga.

Lalu Ana menambahkan 4 tanda dan gejala yang bisa dicermati pada remaja yang mengalami masalah gangguan kesehatan mental. 

Antara lain perubahan mood secara drastis, perubahan pola tidur dan pola makan, menurunnya minat dan energi, serta perubahan perilaku secara drastis termasuk penarikan diri dan perilaku merusak.

Sementara Ulifa Rahma, Psikolog dan Dosen Prodi Psikologi dari FISIP, Universitas Brawijaya mengatakan, hasil survey yang dilakukan bersama tim dengan melibatkan 202 remaja usia 12-20 tahun mengungkapkan, efikasi diri (kepercayaan terhadap kemampuan diri), penerimaan lingkungan sosial dan depresi menjadi prediktor (variabel yang mempengaruhi) munculnya ide bunuh diri pada remaja dengan kontribusi sebesar 52%.

Tanda-Tanda dan Gejala yang Harus Diwaspadai  

Sebagai salah satu prediktor munculnya ide untuk bunuh diri, depresi yang dalam ilmu psikologi disebut sebagai mayor depressive disoder (MDD) memiliki beberapa karakteristik. 

Antara lain timbulnya suasana perasaan yang rendah pada hampir seluruh situasi dan terjadi setidaknya selama dua minggu.  

Gejala tersebut juga disertai dengan rendahnya harga diri, hilangnya minat pada aktivitas yang biasanya disukai, energi yang rendah dan rasa nyeri tanpa penyebab yang jelas.

 Lebih jauh Ulifa mengungkapkan beberapa respon yang bisa muncul dari remaja yang mendapat serangan gangguan mental. 

Antara lain menyakiti diri sendiri (self harm) seperti menyayat kulit, membakar bagian tubuh dan membenturkan bagian tubuh, terpikir untuk bunuh diri (suicide ideation), kecanduan game dan pornografi, kecanduan alkohol dan lain-lain.  Self harm memang belum masuk dalam kategori percobaan bunuh diri, namun perilaku tersebut bisa berkembang menjadi bunuh diri. 

Selanjutnya Ulifa memaparkan beberapa “warning signs” kecenderungan bunuh diri pada remaja yang harus segera direspon dengan tepat. 

Antara lain, berbicara bahwa ia adalah beban dari  bagi orang lain, menarik diri dari keluarga dan teman, menunjukkan kemarahan atau bicara mengenai keinginan untuk membalas dendam.

 Juga perasaan cemas atau agitasi, dan peningkatan frekuensi penggunaan alkohol bagi yang sudah menjadi pecandu.

Bagi pelajar, penurunan prestasi akademik dan berkurangnya minat terhadap sekolah dan interaksi dengan guru dan teman, juga harus diwaspadai. 

Beberapa perencana bunuh diri bahkan sudah mempersiapkan surat wasiat dan memberikan barang-barang favoritnya. 

Kalau tidak ia menulis atau menggambar tentang kematian atau bunuh diri.  Terutama bagi mereka yang sering kesulitan mengungkapkan emosi yang intens secara verbal.

Anak yang pernah melakukan upaya bunuh diri juga lebih berisiko mengulangi upayanya. Juga anak yang mengalami kehilangan (termasuk kesedihan dan hilangnya hubungan karena perceraian atau perselisihan keluarga), penolakan, kekerasan atau menyaksikan kekerasan.

Ulifa mengingatkan, sinyal-sinyal tersebut harus direspon secara serius dan matang. Jangan mengabaikan ancaman dari pelaku dengan menganggap hal tersebut hanya merupakan upaya untuk menarik perhatian. 

Cobalah ajukan pertanyaan spesifik terkait apa yang disampaikan dan berikan empati saat pelaku mengalami krisis emosional. 

Serta berikan dukungan secara tepat agar anak dapat mengatasi perasaan dan pemicunya. Jika masih merasa kurang yakin, jangan menunggu lagi untuk merujuk kepada profesional (psikolog/psikiater).

Ia juga menambahkan pentingnya meningkatkan kesadaran literasi kesehatan mental baik kepada remaja, guru dan orang tua sebagai upaya preventif. 

Hal ini bertujuan agar individu mampu memiliki pengetahuan, keyakinan dan sikap untuk melakukan identifikasi faktor risiko/penyebab, melakukan manajemen dan pencegahan masalah kesehatan mental. (SP/Sandra)***

RELATED NEWS