Haiti Kian Terpuruk, 1,5 Juta Warga Mengungsi dan 1.600 Tewas dalam Tiga Bulan
Redaksi - Kamis, 09 Juli 2026 20:28
Konflik di Haiti kian memburuk (sumber: vaticannews.va)HAITI (Floresku.com) – Krisis kemanusiaan dan keamanan di Haiti semakin memburuk. Sedikitnya 1,5 juta warga terpaksa mengungsi akibat kekerasan yang dilakukan kelompok bersenjata, sementara sekitar 1.600 orang tewas dalam tiga bulan terakhir.
Utusan Khusus Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk Haiti, Carlos Ruiz Massieu, mengatakan situasi di negara Karibia itu terus memburuk karena kelompok kriminal semakin memperluas wilayah kekuasaannya.
Dalam wawancara dengan Infobae, Ruiz Massieu menjelaskan bahwa kelompok bersenjata yang diperkirakan beranggotakan antara 10.000 hingga 15.000 orang kini menguasai atau memiliki pengaruh di sekitar 70–75 persen wilayah ibu kota Port-au-Prince.
Ia menegaskan bahwa dukungan Dewan Keamanan PBB terhadap Misi Dukungan Keamanan Multinasional saja tidak cukup. Haiti membutuhkan langkah terpadu yang mencakup pemulihan keamanan, penegakan hukum, serta pembangunan ekonomi agar stabilitas dapat kembali terwujud.
Baca juga:
- Pesan Inspiratif: Diutus Membawa Kasih dan Damai Sejahtera
- Bacaan Liturgis, Kamis, 09 Juli 2026
- To Lam Bahas Peningkatan Kualitas Tenaga Kerja Vietnam untuk Hadapi Era Baru
Krisis di Haiti semakin memburuk sejak Presiden Jovenel Moïse dibunuh pada Juli 2021. Sejak saat itu, kelompok-kelompok bersenjata secara bertahap mengambil alih berbagai wilayah, melumpuhkan lembaga pemerintahan, infrastruktur, dan layanan publik.
Di bidang ekonomi, situasinya juga semakin mengkhawatirkan. Menurut Bank Dunia, ekonomi Haiti mengalami kontraksi untuk tahun ketujuh berturut-turut pada 2025. Produk Domestik Bruto (PDB) riil menyusut 2,7 persen, sementara inflasi rata-rata melonjak hingga 28,3 persen.
Hampir separuh penduduk Haiti kini hidup dalam kemiskinan ekstrem dengan pendapatan kurang dari tiga euro atau sekitar Rp57 ribu per hari.
Prospek ekonomi tahun 2026 pun masih suram. Dana Moneter Internasional (IMF) memperkirakan ekonomi Haiti kembali menyusut 1,7 persen, sementara inflasi diperkirakan tetap tinggi di kisaran 23,5 persen.
Di sisi keamanan, PBB mencatat lebih dari 5.500 orang tewas dan sekitar 2.600 orang terluka akibat kekerasan geng sepanjang 2025. Memasuki 2026, Kantor Terpadu PBB di Haiti melaporkan sedikitnya 1.642 korban jiwa dan 745 orang luka-luka akibat aksi kelompok bersenjata.
Misi Dukungan Keamanan Multinasional yang dipimpin Kenya dan mulai dikerahkan pada 2024 memang berhasil melindungi sejumlah infrastruktur strategis.
Namun, hingga kini misi tersebut belum mampu menghentikan dominasi kelompok kriminal yang masih menguasai sebagian besar Port-au-Prince dan terus memperluas pengaruhnya ke berbagai wilayah lain di Haiti.
Kondisi tersebut menjadikan Haiti sebagai salah satu krisis kemanusiaan paling serius di kawasan Amerika, sekaligus salah satu yang paling kurang mendapat perhatian dunia internasional. (Leony/Sumber:vaticannews.va).

