HOMILI, Pater Gregor Nule SVD, Minggu, 26 Februari 2023

redaksi - Sabtu, 25 Februari 2023 15:03
HOMILI, Pater Gregor Nule SVD, Minggu, 26 Februari 2023Pater Gregorius Nule SVD (sumber: Dokpri)

PANGGILAN UNTUK MENYADARI GODAAN SETAN SETIAP SAAT DALAM HIDUP

(Minggu I Praspaskah A:  Kej 2:7-9. 3:1-7; Rm 3:12-19; Mat 4:1-11) 

Ilustrasi : Seorang tukang cukur di istana raja sedang berisitrahat di bawah sebatang pohon beringin yang rindang dan sejuk. Tiba-tiba ia mendengar suatu suara dari atas pohon beringin itu, “Apakah engkau ingin memiliki tujuh periuk tanah yang  penuh berisi kepingan emas?” 

Dengan sedikit takut ia menjawab, “Ya, saya mau”. Lanjut suara itu,“Pulanglah segera ke rumahmu, dan engkau akan menemukannya di sana”. 

Si tukang cukur berlari cepat-cepat ke rumahnya dan ternyata benar. Ada tujuh periuk tanah, enam di antaranya  penuh dengan kepingan emas, sedangkan satu periuk lainnya hanya berisi separuh.  Si tukang cukur mulai sibuk memikirkan bagaimana memenuhi periuk ketujuh dengan emas.

Ia mulai mengumpulkan dan menjual barang-barang keluarga dan menukarnya dengan emas. Periuk  itu tetap saja tidak penuh. Ia sangat penasaran. Maka mulailah ia menabung dan menghemat. Usahanya tetap sia-sia. 

Ia memohon kepada raja supaya menaikkan gajinya. Dan raja mengabulkan permintaannya dengan kenaikan dua kali lipat. Lagi-lagi ia mengisi periuk itu dengan emas yang diperoleh dari gajinya. Bahkan ia sampai meminta-minta seperti pengemis di jalan-jalan. Periuk itu  tetap saja tidak penuh. 

Si tukang cukur menjadi gelisah. Tak ada lagi kegembiraan dan sukacita seperti yang dialami sebelumnya bersama keluarga dan pekerja-pekerja lain. 

Nafsu mengumpulkan harta benda membuat manusia menjadi semakin rakus dan serakah.  Nafsu mengumpulkan kekayaan yang tiada batas menutup mata dan hati manusia terhadap diri sendiri, orang-orang di sekitar dan Tuhan.

Refleksi

Dalam hidup sehari-hari, godaan selalu bersembunyi dalam selimut harta kekayaan, kuasa dan kenikmatan. Penulis Kitab Kejadian dalam bacaan pertama melukiskan tentang ambisi manusia pertama di  Eden. Allah yang maha baik telah mempercayakan kepada mereka tumbuh-tumbuhan dan segala binatang dalam taman itu. Mereka telah mendapatkan segalanya dalam kelimpahan. Pohon-pohon dengan buah melimpah dan nikmat, serta banyak kekayaan lainnya.

Tetapi, mereka tetap tidak puas. Mereka masih menginginkan yang lebih banyak, lebih besar dan lebih nikmat. Itulah sebabnya Hawa jatuh ke dalam godaan iblis yang menawarkan buah indah dan sedap dipandang mata dari pohon di tengah taman itu. Ia memetik dan  memakannya. Selanjutnya, ia memberikannya juga kepada Adam, teman hidupnya. Karena godaan iblis dan tergiur oleh indahnya buah pohon itu keduanya melanggar perintah Tuhan dan jatuh ke dalam dosa.

Karena itu, kita dapat simpulkan bahwa Adam dan Hawa tidak setia dan melanggar perintah Allah, karena pertama, mereka mudah tergiur dan menginginkan kenikmatan yang lebih besar. 

Kedua, mereka tidak percaya kepada Allah dan Sabda-Nya, bahkan mereka mencurigai Allah dan kehendak baik-Nya. Ketiga, mereka berambisi mau sama dengan Allah sendiri, ingin tahu tentang yang baik dan yang jahat. Dan, ambisi tersebut  membuat manusia pertama  lupa diri atau lupa daratan. Inilah dinamika awal kejatuhan manusia dalam dosa.

Pengalaman menghadapi godaan sebagaimana dilukiskan dalam ilustrasi “si Tukang Cukur” dan bacaan  pertama hari ini mewakili pengalaman kita dalam hidup sehari-hari. 

Sering kita digoda oleh ambisi untuk mengumpulkan harta dan kekayaan sebanyak-banyaknya, untuk memiliki pengaruh dan kuasa yang besar terhadap orang lain dalam masyarakat, atau ambisi agar dipuji, dikagumi dan menjadi terkenal di mana-mana. 

Dan, sering kita gunakan cara apa saja, termasuk cara-cara  yang tidak halal, kotor dan tidak manusiawi, untuk mendapatkan  semuanya. Umumnya orang bisa saja menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuan dan ambisinya.

Pengalaman Yesus menghadapi dan mengatasi godaan iblis, dalam Injil hari ini, menjadi pelajaran berharga bagi kita. Yesus bertahan terhadap tawaran-tawaran dan bahkan mengatasi godaan Iblis, karena Ia tetap setia pada kehendak Bapa dan fokus pada misi perutusan-Nya. 

 Meskipun sungguh lapar, tetapi Yesus tetap yakin bahwa Allah, yang telah mengutusNya akan menolongNya. Keyakinan itu terbukti pada akhir episode cobaan yang dialami, yaitu iblis pergi meninggalkan Yesus dengan tangan hampa, dan “malaekat-malaikat melayani Dia”, (Mt 4:11).

Kita pun tidak bebas dari tawaran dan godaan dalam bentuk apa pun, termasuk godaan untuk mengumpulkan harta sebanyak-banyaknya dengan menggunakan pelbagai cara, termasuk menipu dan mencuri. Kita juga mungkin berambisi mencari pangkat, kedudukan, kuasa dan menjadi terkenal. Mumgkin ada ambisi-smbisi lain yang tersembunyi dan sesewaktu bisa muncul ke permukaan.

Tetapi, kita tidak cemas dan berkecil hati. Kita pasti akan mampu mengalahkan godaan dan ambisi dalam bentuk apa pun apabila kita berpegang teguh pada iman kepada Allah dan fokus pada misi perutusan kita sebagai umat Allah dan pengikut-pengikut Kristus. Kita bercermin dan belajar dari pengalaman hidup Yesus, Guru dan Tuhan kita serta pengalaman orang-orang kudus dalam Gereja.

Jika kita tetap setia pada Tuhan dan tekun melaksanakan perintah-perintahNya, maka Tuhan pasti tetap dan terus meneguhkan kita melewati tantangan hidup ini. Karena itu, berharaplah selalu pada Tuhan. Amen. 

Kewapante, Minggu, 26 Februari 2023.

P. Gregorius Nule, SVD. ***

 

Editor: redaksi

RELATED NEWS