Khamenei Tewas dalam Serangan AS-Israel
redaksi - Minggu, 01 Maret 2026 21:02
Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, tewas dalam serangan besar Israil-AS, Sabtu (28/2). (sumber: AP)DUBAI (Floresku.com)— Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, dilaporkan tewas dalam serangan besar yang dilancarkan Amerika Serikat dan Israel pada Sabtu (28/2).
Kematian tokoh berusia 86 tahun itu dikonfirmasi media pemerintah Iran pada Minggu dini hari, memicu ketidakpastian politik di Republik Islam dan kekhawatiran meluasnya konflik kawasan.
Serangan udara dilaporkan menargetkan kompleks kediaman dan kantornya di pusat Teheran. Citra satelit yang dirilis Airbus memperlihatkan area tersebut mengalami kerusakan parah akibat pemboman intensif.
Televisi pemerintah Iran menyebut Khamenei gugur saat berada di kantornya, seraya menegaskan ia “tetap berada di garis depan tanggung jawabnya.”
Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, mengumumkan kematian itu beberapa jam sebelumnya melalui media sosial. Ia menyebut peristiwa tersebut sebagai “kesempatan terbesar” bagi rakyat Iran untuk “merebut kembali” negara mereka.
Trump juga memperingatkan bahwa pemboman “berat dan presisi” akan berlanjut selama sepekan ke depan, dengan alasan melumpuhkan kemampuan nuklir Iran.
Baca juga:
- Desa Golo Riwu Siap Gaet Investor 2026
- Rute Timur Tengah Pulih, 17 Penerbangan di Soetta, Batal
- Pemuda WA Didakwa Rencanakan Aksi Teror
Sementara itu, Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, mengatakan terdapat “banyak tanda” yang menunjukkan Khamenei tewas dalam operasi gabungan tersebut. Militer Amerika melalui Komando Pusat (CENTCOM) merilis video peluncuran rudal dan jet tempur yang disebut sebagai bagian dari upaya “membongkar aparat keamanan rezim Iran.”
Iran membalas dengan serangan rudal ke wilayah Israel. Layanan penyelamatan Israel melaporkan seorang perempuan tewas di kawasan Tel Aviv akibat rentetan rudal Iran.
Pemerintah Iran mengecam serangan itu sebagai “kejahatan besar” dan berjanji akan melakukan pembalasan. Garda Revolusi Iran bahkan mengancam melancarkan operasi ofensif paling intens terhadap pangkalan Israel dan Amerika.
Perkembangan ini memicu respons hati-hati dari para pemimpin dunia, yang khawatir konflik terbuka dapat berkembang menjadi perang regional berskala luas di Timur Tengah. (Sandra, sumber: apnews.com). ***

