KIP Kuliah Diserbu, Kuota Minim DPR Turun Tangan
Redaksi - Rabu, 06 Mei 2026 09:47
Kunjungan DPR RI Komisi X ke Umsida bahas KIP Kuliah. (sumber: Istimewa/PWMU.CO)SIDOARJO (Floresku.com) — Program KIP Kuliah kembali menjadi sorotan. Lonjakan peminat yang tidak sebanding dengan kuota membuat isu ini dibahas serius oleh DPR RI Komisi X saat kunjungan kerja ke Universitas Muhammadiyah Sidoarjo (Umsida), Selasa (5/5).
Dalam kunjungan tersebut, anggota Komisi X DPR RI, Reni Astuti, hadir bersama tim untuk menyerap aspirasi sekaligus mengevaluasi pelaksanaan program bantuan pendidikan tinggi tersebut.
Rektor Umsida, Dr Hidayatulloh, mengungkapkan bahwa kampusnya menampung sekitar 11.500 mahasiswa setiap tahun dari berbagai daerah. Namun, persoalan utama muncul pada keterbatasan kuota KIP Kuliah.
Baca juga:
- Dapur Fiktif, Uang Nyata? Prabowo Perintahkan Bongkar Dugaan Korupsi MBG
- Pemandu Lagu Asal Karawang Tewas di Labuan Bajo, Polisi Periksa 7 Saksi
- Promo Terbaru BRI dan Grab, Solusi Hemat untuk Aktivitas Harian
“Setiap tahun pendaftar KIP Kuliah mencapai 500 hingga 600 orang, tetapi yang diterima hanya sekitar 200 mahasiswa,” ujarnya.
Kondisi ini memaksa kampus menyediakan alternatif beasiswa lain seperti beasiswa prestasi, tahfidz, hingga skema potongan biaya. Meski demikian, bantuan tersebut belum mampu sepenuhnya menggantikan manfaat KIP Kuliah yang lebih komprehensif.
Menariknya, tingginya minat ini justru menunjukkan meningkatnya kesadaran pendidikan di kalangan masyarakat kurang mampu. Data kampus mencatat, mahasiswa penerima KIP Kuliah memiliki performa akademik yang kuat dengan rata-rata IPK mencapai 3,63.
Sementara itu, Reni Astuti mengakui bahwa keterbatasan kuota menjadi tantangan nasional karena harus dibagi ke seluruh perguruan tinggi di Indonesia. Namun, ia memastikan adanya tambahan dukungan.
“InsyaAllah kami membawa sekitar 50 kuota tambahan untuk Umsida,” ungkapnya.
Ia menegaskan bahwa pemerintah tetap berkomitmen memperluas akses pendidikan tinggi bagi masyarakat kurang mampu. Ke depan, DPR mendorong agar informasi terkait KIP Kuliah dapat disosialisasikan lebih awal sebelum tahun ajaran baru.
Kunjungan ini diakhiri dengan dialog terbuka bersama mahasiswa dan civitas akademika, mempertegas bahwa persoalan pendidikan bukan sekadar angka kuota—melainkan soal masa depan generasi bangsa. (Leoni). ***

