Pesan Inspiratif: Orang yang Rendah Hati Dikasihi Allah dan Manusia
redaksi - Minggu, 31 Agustus 2025 07:24
Oleh: Pater Gregor Nule, SVD
Dalam hidup sehari-hari kita jumpai pelbagai manusia dengan sifat dan karakter yang berbeda-beda. Ada yang sederhana, lemah lembut, rendah hati, dan ada pula yang kasar, tinggi hati, sombong dan lain-lain.
Semua manusia dengan segala sifat dan karakternya menjadi kekayaan dan sekaligus tantangan dalam menjalani liku-liku hidup kita.
Bacaan hari Mnggu Biasa XXII khususnya Kitab Putra Sirach 3: 17-18.20.28-29 dan Injil Lukas 14:1.7-14 menampilkan dua karakter manusia yang saling bertentangan satu sama lain, yakni kerendahan hati dan kesombongan.
Putra Sirach menampilkan sikap rendah hati sebagai kebajikan yang membuat manusia berkenan di hadapan Allah dan manusia lain.
Orang yang rendah hati terbuka untuk mengakui kelemahan dan keterbatasannya, dan pada saat yang sama, menerima kelebihan orang lain.
Dan, orang yang rendah hati membiarkan orang lain membantunya dan Tuhan menyelenggarakan seluruh hidup dan karyanya.
Sebaliknya, orang sombong menganggap diri lebih hebat, lebih baik daripada yang lain. Ia tidak membutuhkan orang lain, dan bahkan tidak membutuhkan Tuhan.
Orang sombong menutup diri terhadap sesama dan terhadap Tuhan. Akibatnya orang sombong dapat menghancurkan dirinya sendiri.
Yesus menampilkan tipe orang sombong dalam diri tamu-tamu yang berambisi menempati tempat-tempat kehormatan di ruang pesta perjamuan.
Yesus minta agar orang tidak merasa diri begitu penting dan berlomba-lomba menempati tempat terhormat. Sebaliknya, menempati tempat yang pantas bagi tamu-tamu biasa, lebih lagi kursi untuk orang kecil, miskin, buta, cacat dan lain-lain.
Sebab siapa saja yang meninggikan dirinya akan direndahkan dan siapa saja yang merendahkan dirinya akan ditinggikan, (Luk 14:11).
Sebagai pengikut Yesus kita belajar bersilap rendah hati seperti Yesus. Yesus berkenan turun dari surga dan menjadi Manusia untuk membebaskan manusia dari dosa dan memulihkan kembali martabatnya yang telah rusak.
Yesus juga mengajarkan para murid dan kita sekalian bahwa Dia datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani. Maka menjadi murid Keistus berarti rela merendahkan diri dan melayani semua orang.
Karena itu, kita hendaknya pertama-tama mendahulukan kepentingan Allah, lalu kepentingan sesama dan akhirnya kepentingan diri sendiri.
Semoga Tuhan Yesus memberkati kita selalu. Selamat berhari Minggu untukmu! Amen.
Kewapante, 31 Agustus 2025>***