PLN Ngada Bantu Rp30 Juta, Revitalisasi 10 Ngadhu Bhaga di Kampung Adat Wogo

Redaksi - Sabtu, 10 Oktober 2026 21:53
PLN Ngada Bantu Rp30 Juta, Revitalisasi 10 Ngadhu Bhaga di Kampung Adat Wogo# PLN Ngada Salurkan Rp30 Juta untuk Revitalisasi 10 Madhu Bhaga di Nua Wogo, Mataloko. (sumber: Silvia)

WOGO (Floresku.com)  – PT PLN (Persero) melalui PLN Ngada menyalurkan bantuan revitalisasi senilai Rp30 juta untuk memperbaiki 10 unit Ngadhu Bhaga di Kampung Adat Nua Wogo, Desa Wogo, Kecamatan Golewa, Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT), Sabtu (10/10/2026).

Bantuan tersebut diserahkan langsung oleh Kepala PLN Ngada, Adrys Silaban, kepada Lembaga Pemangku Adat dan Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Nua Wogo, sekitar pukul 11.00 WITA.

Dana sebesar Rp30 juta dialokasikan untuk perbaikan 10 unit Madhu Bhaga, masing-masing senilai Rp3 juta. Anggaran tersebut digunakan untuk pengadaan alang-alang sebagai bahan atap, bambu anyaman, dan kayu penyangga.

Menariknya, jumlah Ngadhu Bhaga yang mendapat bantuan bertambah dari sembilan unit sebagaimana tercantum dalam proposal yang diajukan pada Juli 2026 menjadi 10 unit dalam realisasi bantuan PLN.

PLN Dorong Wogo Menjadi Kawasan Ekowisata

Dalam sambutannya, Adrys Silaban menegaskan bahwa bantuan tersebut bukan sekadar program tanggung jawab sosial perusahaan (Corporate Social Responsibility atau CSR), melainkan bagian dari upaya membangun kolaborasi jangka panjang dengan masyarakat adat dan Pemerintah Kabupaten Ngada.

“Kampung Adat Wogo menjadi bagian dari program kami dari sisi sosial budaya. Kami mencoba berkolaborasi dan bersatu dengan Pemerintah Kabupaten Ngada dan masyarakat adat supaya Wogo menjadi desa ekowisata dan kawasan geowisata yang terintegrasi,” ujar Adrys.

Baca juga:

Menurutnya, Kampung Adat Nua Wogo memiliki potensi budaya dan sejarah yang dapat dikembangkan bersama berbagai destinasi alam di Kabupaten Ngada.

Rencana pengembangan tersebut mencakup integrasi kawasan megalitik Kampung Adat Nua Wogo, hutan bambu Wolobobo, manifestasi panas bumi Mataloko, hingga Air Terjun Ogi dalam satu paket ekowisata.

Potensi panas bumi Mataloko juga berkaitan dengan pengembangan energi terbarukan melalui proyek Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) berkapasitas 2 x 10 megawatt (MW).

Selain pengembangan destinasi wisata, PLN turut membuka peluang digitalisasi kampung adat untuk mendukung pengenalan dan promosi kekayaan budaya Nua Wogo kepada masyarakat luas.

Adrys menjelaskan, proposal permohonan revitalisasi dari tim pemugaran Kampung Adat Wogo telah diterima PLN pada Juli lalu dan dikomunikasikan dengan manajemen pusat sebelum bantuan direalisasikan.

“Terkait kegiatan hari ini, proposal permohonan revitalisasi dari tim pemugaran Kampung Wogo masuk bulan Juli. Sudah kami komunikasikan dengan manajemen pusat. Hari ini kami serahkan amanah tersebut,” tambahnya.

Merawat Warisan Leluhur, Menyambut Wisatawan

Revitalisasi 10 unit Ngadhu Bhaga menjadi langkah penting untuk menjaga kelestarian arsitektur tradisional Kampung Adat Nua Wogo. Sejumlah atap bangunan mulai lapuk sehingga membutuhkan perbaikan agar tetap kokoh dan terawat.

Bagi masyarakat setempat, Ngadhu Bhaga bukan sekadar bangunan tradisional, melainkan bagian dari identitas budaya dan kehidupan spiritual masyarakat Ngada.

Dalam tradisi adat setempat, Ngadhu melambangkan leluhur laki-laki, sedangkan Bhaga melambangkan leluhur perempuan. Keduanya memiliki kedudukan penting dalam tatanan adat dan menjadi bagian dari warisan budaya yang diwariskan antargenerasi.

Karena itu, upaya revitalisasi tidak hanya bertujuan memperbaiki kondisi fisik bangunan, tetapi juga menjaga nilai sakral dan makna filosofis yang melekat pada kehidupan masyarakat adat.

Dengan perbaikan tersebut, Kampung Adat Nua Wogo diharapkan semakin siap menyambut wisatawan tanpa kehilangan keaslian tradisi dan nilai-nilai leluhurnya.

Penyerahan bantuan ditutup dengan foto bersama warga di pelataran kampung adat, dengan deretan Ngadu Bhaga beratap alang-alang sebagai latar. 

Momentum ini menandai harapan baru bagi pelestarian warisan budaya sekaligus pengembangan pariwisata berbasis masyarakat di Kabupaten Ngada.

Kolaborasi antara PLN, pemerintah daerah, dan masyarakat adat diharapkan menjadi fondasi bagi pengembangan ekowisata yang tidak hanya mendatangkan manfaat ekonomi, tetapi juga menjaga kelestarian lingkungan dan identitas budaya Flores. (Silvia). ***

Editor: Redaksi
‌‌
‌‌

RELATED NEWS