Prabowo di Antara Netanyahu dan Trump, Penyejuk di Tengah Prahara

redaksi - Minggu, 15 Maret 2026 12:34
Prabowo di Antara Netanyahu dan Trump, Penyejuk di Tengah PraharaCapt. Sorindra, SH, MM, M. Ma (sumber: Istimewa)

Oleh: Capt Sorindra SH MM, M. Mar*

TIMUR  Tengah sedang  bergolak. Serangan militer terhadap Iran yang dilakukan Amerika Serikat dan Israel menambah daftar panjang eskalasi konflik di kawasan yang selama puluhan tahun menjadi titik rawan geopolitik dunia. 

Dalam pusaran krisis ini, dua tokoh global tampil di garis depan: Donald Trump dan Benjamin Netanyahu. Keduanya berdiri dalam satu poros kebijakan yang menekankan tekanan keras terhadap Iran.

Aksi Amerika dan Israil ersebut segera memicu respons keras dari Teheran. Serangan balasan pun dilontarkan, aliansi regional mulai bergerak, dan kekhawatiran tentang perang yang lebih luas  menghantui komunitas internasional. 

Situasi ini bukan sekadar konflik militer biasa. Ia mencerminkan perubahan besar dalam cara kekuatan global mengelola konflik.

Baca juga:

Diplomasi yang dulu menjadi jalur utama penyelesaian krisis kini semakin sering digantikan oleh pendekatan kekuatan.

Dalam situasi seperti ini, dunia membutuhkan aktor yang mampu menurunkan suhu konflik—bukan menambah panasnya.

Trump, Netanyahu, dan Politik Tekanan

Donald Trump dan Benjamin Netanyahu bukan tokoh yang asing dengan politik tekanan. Dalam berbagai kebijakan Timur Tengah, keduanya dikenal lebih memilih pendekatan keras terhadap musuh strategis mereka, terutama Iran.

Bagi Israel, Iran dipandang sebagai ancaman eksistensial. Dukungan Teheran terhadap berbagai kelompok bersenjata di kawasan  Timur Tengah dianggap membahayakan keamanan Israel. Karena itu, pemerintah Netanyahu berulang kali menegaskan bahwa Iran tidak boleh dibiarkan memperkuat kapasitas militernya.

Sementara itu, pendekatan Trump terhadap Iran sejak lama berada dalam kerangka tekanan maksimum, melalui sanksi ekonomi, isolasi diplomatik, hingga opsi militer.

Ketika dua pendekatan keras ini bertemu, hasilnya adalah eskalasi yang semakin sulit dikendalikan.

Masalahnya, pendekatan semacam ini sering kali mempersempit ruang diplomasi. Ketika retorika perang menjadi dominan, kompromi menjadi semakin sulit dicapai.

Ruang yang Dibutuhkan Dunia

Dalam setiap konflik besar, selalu ada dua jenis aktor: mereka yang mendorong eskalasi, dan mereka yang berusaha meredakannya.

Dunia saat ini tampaknya tidak kekurangan tokoh yang berbicara keras. Tetapi yang sering kurang adalah pemimpin yang mampu menurunkan ketegangan tanpa kehilangan prinsip.

Di sinilah posisi negara-negara kekuatan menengah menjadi penting. Mereka tidak memiliki kepentingan langsung dalam konflik, tetapi cukup memiliki legitimasi moral untuk mendorong dialog.

Indonesia termasuk dalam kategori tersebut.

Prabowo dan Tradisi Diplomasi Indonesia

Sebagai negara dengan populasi Muslim terbesar di dunia sekaligus demokrasi besar di Asia Tenggara, Indonesia memiliki posisi yang unik dalam isu Timur Tengah. 

Sejak awal kemerdekaan, Indonesia konsisten mendukung kemerdekaan Palestina dan mendorong penyelesaian konflik melalui diplomasi.

Prinsip politik luar negeri Indonesia yang “bebas dan aktif” telah menjadi fondasi kebijakan tersebut. Bebas berarti tidak terikat pada blok kekuatan besar mana pun. Aktif berarti berperan dalam upaya menciptakan perdamaian dunia.

Di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto, prinsip ini menghadapi konteks geopolitik yang baru.

Hubungan Indonesia dengan Amerika Serikat tetap penting dalam berbagai bidang, mulai dari ekonomi hingga keamanan kawasan Indo-Pasifik.

Namun di sisi lain, opini publik Indonesia juga sangat sensitif terhadap konflik di Timur Tengah, terutama yang melibatkan Palestina dan Iran. Prabowo berada di antara dua realitas tersebut.

Diplomasi di Antara Dua Kutub

Berada “di antara” tidak selalu berarti berada dalam posisi lemah. Dalam diplomasi, posisi di tengah justru sering kali memberikan ruang manuver yang lebih luas.

Indonesia tidak memiliki konflik langsung dengan Iran. Indonesia juga tidak berada dalam permusuhan dengan Amerika Serikat maupun Israel. Posisi ini memungkinkan Indonesia berbicara kepada berbagai pihak tanpa membawa beban sejarah konflik.

Dalam konteks inilah peran penyejuk menjadi sesuatu keniscayaan.

Penyejuk bukan berarti netral tanpa sikap. Penyejuk justru adalah pihak yang memiliki prinsip jelas, tetapi memilih jalan dialog daripada konfrontasi.

Strategi semacam ini menuntut keseimbangan yang tidak mudah. Indonesia harus tetap konsisten mendukung prinsip-prinsip keadilan internasional, tetapi juga menjaga hubungan konstruktif dengan berbagai kekuatan global.

Strategi Menjadi Penyejuk

Jika Indonesia ingin memainkan peran sebagai penyejuk di tengah prahara geopolitik, setidaknya ada beberapa langkah strategis yang dapat ditempuh.

Pertama, memperkuat diplomasi multilateral. Forum internasional seperti Perserikatan Bangsa-Bangsa dan Organisasi Kerja Sama Islam dapat menjadi ruang penting bagi Indonesia untuk mendorong de-eskalasi konflik.

Kedua, menekankan diplomasi kemanusiaan. Dalam konflik modern, perlindungan warga sipil menjadi isu yang semakin penting. Indonesia dapat aktif mendorong bantuan kemanusiaan dan penghentian kekerasan terhadap warga sipil.

Ketiga, membangun diplomasi jembatan. Indonesia memiliki reputasi sebagai negara yang relatif moderat dalam politik internasional. Reputasi ini dapat dimanfaatkan untuk membuka kembali ruang komunikasi yang mulai tertutup akibat ketegangan.

Langkah-langkah tersebut mungkin tidak menghasilkan dampak instan. Tetapi dalam diplomasi internasional, konsistensi sering kali lebih penting daripada spektakulernya tindakan.

Penyejuk di Tengah Prahara

Sejarah menunjukkan bahwa konflik besar jarang diselesaikan oleh mereka yang memulainya. Perdamaian sering lahir dari pihak ketiga yang mampu membangun kepercayaan di antara pihak-pihak yang bertikai.

Di tengah ketegangan antara Washington, Tel Aviv, dan Teheran, dunia membutuhkan lebih banyak aktor yang berani mendorong dialog.

Prabowo Subianto kini berada dalam posisi yang menarik dalam lanskap geopolitik tersebut. Ia tidak berada di kubu yang mendorong perang, tetapi juga tidak bisa sepenuhnya mengabaikan dinamika politik global yang melibatkan sekutu strategis Indonesia.

Berada di antara Trump dan Netanyahu bukanlah posisi yang mudah. Tetapi justru di posisi itulah Indonesia dapat memainkan peran yang paling penting.

Dalam dunia yang semakin bising oleh retorika konflik, suara yang menenangkan sering kali menjadi lebih berharga daripada suara yang paling keras.

Jika Presiden Prabowo memainkan peran itu dengan konsisten, maka negara ini tidak sekadar menjadi penonton dalam drama geopolitik global. Ia dapat menjadi penyejuk di tengah prahara, peran yang mungkin tidak selalu dramatis, tetapi justru sangat dibutuhkan oleh dunia hari ini.*

*Penulis adalah Kasi Kesyahbadaran KUPP Kelas I Molawe Kendari, Sulawesi Tenggara. ***

Catatan: Artikel ini pernah tayang di porostimur.co.

Editor: redaksi

RELATED NEWS