Raden Wijaya Terus Hidupkan Koperasi Merah Putih Waioti Meski Tanpa Gerai
Redaksi - Kamis, 08 Oktober 2026 10:04
Raden Agus Wijaya, Ketua KDKMP Waioti, Maumere (sumber: Fdz)MAUMERE (Floresku.com)– Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDKMP) Kelurahan Waioti, Kecamatan Alok Timur, Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur (NTT), terus bergerak mengembangkan berbagai inovasi usaha meskipun hingga kini masih menghadapi persoalan ketersediaan gerai.
Di bawah kepemimpinan Raden Agus Wijaya, KDKMP Kelurahan Waioti berupaya membuktikan bahwa koperasi tetap dapat berjalan dan memberikan manfaat bagi masyarakat meski pembangunan gerai belum terealisasi.
Koperasi Merah Putih yang menjadi salah satu program nasional tersebut telah hadir sejak 2025. Kehadirannya diharapkan dapat menjadi salah satu instrumen penguatan ekonomi masyarakat di tingkat akar rumput.
Namun, proses membangun koperasi tidak selalu berjalan mudah. Para pengurus bahkan harus mengeluarkan biaya pribadi untuk mengurus berbagai kebutuhan awal koperasi, mulai dari pengurusan akta, pertemuan, sosialisasi hingga pelaksanaan rapat anggota.
Baca juga:
- Pesan Inspiratif: Bertekunlah dalam Doa dan Kerja
- Panorama JTB Tours dan SPUN Global Perkuat Layanan Pengelolaan Visa
- Pesan Inspiratif: Belajar Berdoa dari Tuhan Yesus
Semua itu dilakukan dengan satu tujuan, yakni memastikan Koperasi Merah Putih benar-benar hadir dan memberikan kepastian manfaat serta kesejahteraan yang lebih adil bagi masyarakat.
Meski belum memperoleh penghargaan maupun dukungan finansial yang memadai dari pemerintah selama proses tersebut, semangat pengurus tidak surut.
Hal yang sama dilakukan pengurus KDKMP Kelurahan Waioti yang dinakhodai Raden Agus Wijaya.
Selain dipercaya memimpin KDKMP Waioti, Agus Wijaya juga dikenal sebagai Ketua PHRI Kabupaten Sikka. Pengalamannya dalam berbagai organisasi menjadi modal untuk terus mencari terobosan baru dalam mengembangkan koperasi.
Hadapi Persoalan Gerai
Agus mengakui salah satu persoalan yang masih dihadapi KDKMP Waioti adalah kejelasan lahan untuk pembangunan gerai.
Menurutnya, lokasi yang telah dipersiapkan masih terkendala ukuran yang belum memenuhi standar. Bahkan, berdasarkan hasil pengukuran, kekurangannya hanya sekitar dua meter.
Kendati demikian, kondisi tersebut tidak membuat Agus dan pengurus berhenti bergerak.
Sebaliknya, ia memilih mencari alternatif agar koperasi tetap menjalankan aktivitas ekonomi sembari menunggu kepastian pembangunan gerai.
“Sebagai petarung yang punya komitmen kokoh, demi dan untuk masyarakat, saya tetap melangkah maju bersama pengurus,” ujar Agus.
Ia kemudian mulai melakukan kajian dan analisis terhadap kebutuhan masyarakat di Kelurahan Waioti.
Sejumlah kegiatan pun digelar, antara lain pasar sembako murah, penjualan minyak tanah sesuai Harga Eceran Tertinggi (HET), serta berbagai kegiatan pasar murah.
“Saya mulai melihat apa saja kebutuhan masyarakat yang paling laris terjual setiap hari di setiap kios yang ada. Saya bertanya dan mencatat di setiap calon subgerai,” kata Agus.
Dari hasil pengamatan tersebut, Agus bersama pengurus kemudian menggagas model subgerai Koperasi Merah Putih di tingkat RT.
Bangun Subgerai di Setiap RT
Konsep yang dikembangkan adalah memanfaatkan kios-kios sembako yang telah berjalan di setiap RT sebagai subgerai Koperasi Merah Putih.
Para pemilik kios didata dan diberikan dukungan modal usaha dalam bentuk barang. Penjualan kemudian dilakukan dengan sistem pembayaran digital melalui QRIS sehingga transaksi dapat dipantau.
Menurut Agus, pola tersebut menjadi salah satu cara untuk menghidupkan KDKMP tanpa harus menunggu pembangunan gerai utama.
“Dari situ saya mulai membangun diskusi bersama pengurus. Kalau kita punya cara untuk KMP, kita tetap berjalan walau tanpa gerai,” katanya.
Ia mengakui, menjalankan model tersebut tetap membutuhkan modal. Dana Koperasi Merah Putih memang tersedia, namun mekanisme dan waktu pencairannya belum dapat dipastikan.
Karena itu, Agus memilih mencari sumber pembiayaan alternatif dengan mendatangi sejumlah lembaga keuangan.
Sebelum menjalankan program subgerai, berbagai kegiatan terlebih dahulu dilakukan di Kantor Lurah Waioti, termasuk pasar murah, penjualan sembako dan minyak tanah.
Setelah itu, Agus mulai mempresentasikan konsep pengembangan subgerai kepada sejumlah lembaga keuangan.
BNI dan BRI Belum Bisa Membiayai
Agus mengaku telah bertemu dengan sejumlah perbankan, termasuk Bank BNI dan Bank BRI.
Namun, menurut dia, kedua bank tersebut belum dapat memberikan pembiayaan karena alasan keterbatasan dana.
“Saya sudah ketemu beberapa bank, di antaranya Bank BNI yang tidak bisa membiayai dengan alasan tidak ada uang. Begitu juga dengan Bank BRI, jawabannya sama,” kata Agus.
Meski demikian, ia mendapatkan respons berbeda dari Bank NTT.
Menurut Agus, Bank NTT membuka ruang diskusi dan pembicaraan bahkan telah memasuki tahap persiapan administrasi.
“ hanya ada Bank NTT yang merespons dan mengajak saya berdiskusi. Respons ini sampai pada titik persiapan administrasi,” ujarnya.
Gagasan Disampaikan di DPRD Sikka
Agus menjelaskan, komunikasi dengan sejumlah pimpinan perbankan tersebut berlangsung ketika dirinya diundang ke DPRD Kabupaten Sikka untuk berbicara mengenai usaha mikro dalam kapasitasnya sebagai Ketua PHRI Kabupaten Sikka.
Dalam kesempatan tersebut, ia justru menawarkan pembahasan mengenai Koperasi Merah Putih karena menurutnya koperasi memiliki hubungan langsung dengan masyarakat akar rumput.
“Saya sampaikan, kalau untuk perhotelan usahanya sudah menengah ke atas. Jadi apakah saya bisa bicara tentang Koperasi Merah Putih, karena itu berhubungan langsung dengan masyarakat akar rumput dan saya juga Ketua KMP Kelurahan Waioti,” jelasnya.
Usulan tersebut kemudian diterima dan Agus memanfaatkan kesempatan itu untuk menyampaikan gagasan mengenai model pembiayaan subgerai.
Ia menegaskan bahwa dirinya sebenarnya dapat membiayai sebagian kegiatan subgerai menggunakan modal pribadi. Namun, menurutnya, hal tersebut tidak tepat jika dilakukan secara terus-menerus.
“Saya sebenarnya bisa membiayai kegiatan subgerai ini, namun modal belum terlalu cukup. Tidak etis kalau setiap subgerai hanya dibiayai apa adanya dan nanti jadinya saya berbisnis sendiri. Padahal prinsip koperasi

