Stonehenge: Monumen Batu, Misteri dan Jejak dari Langit?

redaksi - Rabu, 07 Januari 2026 14:03
Stonehenge: Monumen Batu, Misteri dan Jejak dari Langit?Stonehenge, sebuah struktur megalitik prasejarah di Salisbury Plain, Wiltshire, Britania Raya. (sumber: wikipedia.org)

WILSHIRE, inggris (Floresku.com) - Di tengah hamparan padang rumput Wiltshire, Inggris, berdiri sebuah monumen batu raksasa yang hingga kini terus mengundang rasa kagum sekaligus tanda tanya besar umat manusia: Stonehenge. 

Struktur megalitik ini diperkirakan dibangun lebih dari 5.000 tahun lalu, jauh sebelum peradaban modern mengenal roda, logam, atau mesin pengangkat berat. Namun, batu-batu raksasa itu tetap berdiri kokoh, tersusun dalam lingkaran konsentris yang presisi.

Stonehenge, dilihat dari dekat (Foto: whc.unesco.org).

Stonehenge terdiri dari dua jenis batu utama: sarsen, yang masing-masing beratnya bisa mencapai 25 ton, dan bluestone, yang diyakini berasal dari Wales, lebih dari 240 kilometer jauhnya. 

Bagaimana masyarakat prasejarah memindahkan batu-batu seberat itu melintasi bukit, sungai, dan jarak ekstrem masih menjadi misteri besar. Berbagai teori diajukan—mulai dari penggunaan gelondongan kayu, rakit air, hingga teknik yang belum sepenuhnya dipahami oleh ilmu modern.

Secara arkeologis, Stonehenge sering dipahami sebagai kalender astronomi, tempat pemakaman, atau pusat ritual penyembuhan. 

Penelitian menunjukkan bahwa susunan batunya selaras dengan matahari terbit saat titik balik musim panas (summer solstice) dan matahari terbenam saat titik balik musim dingin. Hal ini menandakan pemahaman kosmologi yang luar biasa pada masyarakat Neolitik.

Namun, di luar penjelasan ilmiah, Stonehenge juga diselimuti cerita-cerita yang lebih misterius. Sejumlah pengunjung mengaku merasakan energi aneh, perubahan suasana batin, bahkan gangguan pada peralatan elektronik di sekitar batu-batu tersebut. 

Fenomena ini memicu spekulasi yang lebih jauh: mungkinkah Stonehenge memiliki hubungan dengan makhluk dari luar angkasa?

Teori kuno-astronaut berpendapat bahwa teknologi dan presisi pembangunan Stonehenge terlalu maju untuk zamannya. 

Mereka menduga monumen ini mungkin berfungsi sebagai penanda kosmik, landasan pendaratan simbolik, atau bahkan titik komunikasi antara manusia purba dan entitas non-manusia. 

Meski belum didukung bukti ilmiah kuat, teori ini terus hidup dalam budaya populer dan imajinasi kolektif.

Hari ini, Stonehenge terbuka bagi publik. Pengunjung dapat mengaguminya dari jalur khusus atau mengikuti tur terbatas yang memungkinkan masuk ke dalam lingkaran batu. 

Momen paling sakral terjadi saat solstis, ketika ribuan orang berkumpul merayakan keterhubungan antara bumi, langit, dan misteri masa lalu.

Stonehenge, pada akhirnya, bukan sekadar tumpukan batu. Ia adalah pertanyaan abadi—tentang asal-usul pengetahuan manusia, relasi dengan alam semesta, dan kemungkinan bahwa kita tidak pernah benar-benar sendirian di kosmos. (Leony, dari berbagai sumber). ***

RELATED NEWS