Teater Kejujuran? - Sekadar satu catatan
redaksi - Selasa, 06 Januari 2026 20:20
Pater Kons Beo (sumber: Dokpri)'Kesalahan yang sesungguhnya adalah berbuat salah tetapi tidak mau mengubahnya...'
-Konfusius, Filsuf Cina- (551 - 479 SM)
Oleh: Kons Beo, SVD
Terdapat "krisis kecurigaan" yang sungguh mendera. Tampaknya Onora O'Neil bicara serius tentang kenyataan itu. Ada catatan lanjutannya. "Orang tidak percaya begitu saja kepada apa yang disebut kebenaran oleh para politisi, dokter, eksekutif bisnis, imam, dan terutama media."
Massa terhanyut dalam banjir informasi. Dan, bahkan apa yang telah dikandangkan dalam bak informasi sampah, kini bisa digoreng-goreng. Didaur ulang dengan motif-motif yang tersamar, namun sesungguhnya nyata dalam arah. Jelas dalam intensinya.
Sepertinya, suasana gelap akan kebenaran lagi menimpah. Dan lihatlah! Setiap orang yang hadir di pentas publik tampak 'bagai membawa lampu petromax berdaya cahaya tinggi.'
Ada maksud di baliknya. Agar publik sanggup melihat dan mengalami kenyataan yang sebenarnya. Namun, sebenarnya juga ada maksud sebaliknya.
Agar mata publik 'dibikin tersilau dan telinga diisi riuh gemuruh' untuk tak dapat melihat jelas dan tak mendengar tepat.
Anehnya, gaung kejujuran terus digemakan. Orang dituntut dan dipaksa untuk berkata 'yang sebenarnya dalam bingkai kejujuran.' Namun, sering terlupakan, atau sengaja dilupakan bahwa tuntutan kejujuran sebenarnya terarah juga pada yang berkoar-koar menuntutnya.
Tegasan ini kiranya ingatkan, "Yang jelas orang menuntut pihak lain mengatakan kebenaran padanya walau tidak begitu jelas apakah tuntutan itu sesungguhnya berlaku untuk diri mereka sendiri."
Perburuan tetang kebenaran digencarkan sekian sengit. Meterai kejujuran, alias tak boleh berbohong, dihembuskan sejadinya. Sepertinya semuanya mesti jelas terang benderang.
Api transparansi pun dikobarkan. Cemas dan curiga mesti dibayar oleh kobaran api transparansi sejadinya dan sebanyaknya. Maka yang dituntut, "semua nemo, e-mail, telpon, semua pembicaraan dalam lorong-lorong kekuasaan harus direkam untuk diperiksa." Kontroling sejadinya mesti jadi satu keharusan.
Baca juga:
- Hadiri Natal Nasional 2025, Prabowo Tegaskan Kerja Sama
- Bacaan Liturgis, Selasa, 06 Januari 2026
- Pesan Inspiratif: Yesus Tergerak Hati Oleh Belas Kasihan
Bila yang ini terjadi apakah kebenaran dalam bingkai kejujuran bakal bangkit dari alam maut? Tidak juga. Semua bakal masuk dalam apa yang disebut O'Neil sebagai "kebenaran politis." Ini semua dikarenakan adanya badai curiga dan prasangka yang sulit sekali temukan tepian akhirnya. Tempat ia berpijak dengan pasti.
"Budaya transparansi menyeluruh dan sepenuhnya dapat secara aktif menyebabkan orang tidak berani bersikap jujur. Sebab orang tidak tahu apakah kata-katanya itu malah dijadikan bukti untuk melawan atau mentersangkakan dirinya sendiri?"
Maka yang terjadi selanjutnya?
Orang rela, tahu dan mau dan sadar untuk terjun ke dalam pusaran kebohongan dan penyesatan. Orang bakal tak peduli lagi dengan citra dirinya. Sungguh menyedihkan keadaan seperti ini.
Ketika kebenaran dimuliakan sebagai citra martabat dan kehormatan manusia, maka untuk "kepalsuan" sebagaimana tegasan Aristoteles, "pada dirinya sendiri adalah hina dan salah."
Dan si Emanuel Kant ada di jalur sama ketika menulis, "Dengan berbohong seseorang membuang atau bahkan meniadakan martabatnya sebagai seorang pribadi."
Lihatlah pula rantai penyesatan yang dig tak pernah sepi digencarkan. Segala benang alibi dipaksa untuk ditenun dalam lembaran cocoklogi. Benar dan jujur adalah 'volume suara ditinggikan dalam mikrofon dan kepalan tangan diunjukkan setingginya.' 'Benar dan jujur' adalah bahwa semua mesti berkiblat pada standar racikanku sendiri.
Benar dan jujur adalah ketika telah dan bakal sekian banyak orang tahu dan lalu mengamininya. Mungkin seperti itulah yang tertangkap dari kebenaran pragmatis ala William James.
"Benar karena publik sudah pada tahu. Karena telah semakin banyak orang yang mendengar dan tahu, maka itulah kebenaran." Sebab itulah publikasi mesti digencarkan. Propaganda harus dibikin seru. Aksi teatrikal demi pembenaran mesti mendulang atensi sebanyaknya.
Tetapi, lebih dari itu, negasi "jujur dan benar" disematkan pada yang lain, sementara orang sekian tega lupa pada jalan cerita hidupnya sendiri. Wah, "semut di seberang lautan jelas terlihat, sayangnya gajah di pelupuk mata sendiri senyap dari perhatian."
Hanya "akulah yang selalu benar dan jujur." Namun sebenarnya ,"Aku lagi bersenjatakan mekanisme pertahanan diri dengan banyak strategi pembenaran diri."
Tampaknya teater kejujuran bikinan sendiri mesti dibongkar. Terlalu banyak drama dengan kisah dan versi yang mudah berubah. Terlalu banyak lakon yang diperagakan penuh geli dan infantil.
'Iya, terlalu banyak topeng dan wayang yang kupakai untuk berkamuflase.' Terlalu banyak kata yang diracik jadi pantun dan lelucon yang puaskan kuping untuk sedetik, tetapi sebenarnya lagi kaburkan mata menatap fakta.
Dan lagi?
Terlalu banyak aksi lincah nan senyap dan bahkan terang-terangan seperti tak ada batas dan jarak tegas antara demi meraih kebenaran atau sebenarnya lagi menabur benih kebencian sambil kibaskan suasana panas.
Kini, sebenarnya, 'jujur dan benar' lagi dipreteli. Hendak dirantai dalam penyesatan. Benci dan agitasi kepada permusuhan sudah masuk dalam ladang bisnis. Iya, sebab itulah rasa benci dan antipati dipompa sejadinya demi ladang hati penuh permusuhan. Iya, kebencian telah ladang dan komoditas bisnis yang profitable.
Di titik inilah, jujur dan benar teatrikal dapatkan angin segar. Jujur dan benar politis pun sekian deras mengalir dalam berbagai trik dan manuvernya. Toh, katanya, ujung-ujungnya tetap bermuara pada kekuasaan dan jabatan.
Dan keduanya itu berpayung pada nasib dan kepentingan bagi segelintir dan demi sekelompok. Ini sudah risiko hidup penuh keenakan dan serba tergaransi. Yang hendak dipertahankan, atau mau direbut (kembali).
Mungkin terdengar dan terasa amat spiritualistik untuk menuntun 'benar dan jujur' ke dalam area kontemplasi. Sebab, hanya di area seperti itu siapapun mesti rendah hati 'bertelanjangan.'
Iya, telanjangi diri dari segala pakaian kepalsuan, penyesatan, kemunafikan, untuk kemudian bermantolkan 'busana kebenaran dan kejujuran ...'
Dan di titik inilah suara itu ada benarnya dan seharusnya, walau oleh segelitir tetap dianggap utopis. Hanyalah forma tanpa isi, "Kita mesti telanjang dan benar-benar bersih. Suci lahir dan di dalam batin.."
Namun, siapapun yang berpengharapan, pasti tak akan pernah menyerah.
Verbo Dei Amorem Spiranti
Collegio San Pietro - Roma.***

