Warung Makan Trans Maumere -Larantuka Bikin Warga Tak Nyaman

redaksi - Selasa, 03 Februari 2026 12:07
Warung Makan Trans Maumere -Larantuka Bikin Warga Tak NyamanWarung di Jalan Trans Maumere-Larantuka yang menunai protes warga karena kehadran para wanita berpakaian minim. (sumber: Silvia)

MAUMERE (Floreku..com) — Keberadaan sebuah warung makan di jalur Trans Maumere–Larantuka menuai keresahan warga sekitar. Warung yang telah beroperasi hampir tiga bulan itu dinilai mengganggu kenyamanan lingkungan karena sering didatangi sejumlah perempuan dengan pakaian minim.

Seorang warga yang enggan disebutkan namanya mengatakan, sejak warung tersebut dibuka, suasana di sekitar lokasi menjadi berbeda. “Kami tidak nyaman karena sering ada ladys dengan pakaian super minim. Kami curiga warung ini sengaja dibuka untuk menjaring pelanggan tertentu,” ujarnya.

Keluhan serupa juga disampaikan seorang sopir lintas yang mengaku kaget saat singgah makan di tempat itu. Ia mengaku sempat dimintai nomor telepon oleh salah satu pelayan perempuan. “Saya jadi risih, datang mau makan saja, bukan cari yang lain,” katanya.

Baca juga:

Yang membuat warga semakin prihatin, warung tersebut berada di jalur umum yang juga sering dilalui anak-anak. “Bukan hanya orang dewasa, tapi anak-anak juga lewat. Dengan pakaian seperti itu, kami kasihan dengan anak-anak kami,” ujar warga lainnya, sambil meminta pihak terkait segera melakukan penertiban.

Menindaklanjuti laporan tersebut, media mendatangi lokasi dan bertemu langsung dengan pemilik warung bernama Silver. Ia membantah tudingan bahwa warung tersebut memiliki maksud tersembunyi.

Menurut Silver, warung tersebut milik istrinya dan terbuka untuk umum. Sementara perempuan yang sering terlihat makan di situ adalah para pekerja Cafe Red Bulls, sebuah tempat hiburan malam di kawasan Turap, Kelurahan Waioti, Maumere. “Mereka makan di sini karena saya tanggung makan mereka, gratis, pagi siang malam,” ujarnya.

Silver menegaskan bahwa usaha cafenya berizin dan mengikuti aturan yang berlaku. Ia mengaku heran dengan reaksi sebagian warga. “Saya merasa ini lucu dan ada unsur iri. Ini warung umum, siapa saja boleh datang,” katanya.

Namun bagi warga, persoalan bukan soal izin, melainkan dampak sosial di lingkungan pemukiman. Mereka menilai keberadaan cafe dan warung yang berkaitan dengan aktivitas hiburan malam di tengah kawasan warga perlu dievaluasi.

Kasus ini kembali membuka perdebatan soal batas antara usaha legal dan tanggung jawab sosial, terutama ketika aktivitas komersial bersinggungan langsung dengan ruang hidup masyarakat dan anak-anak. (Silvia). ***

 

Editor: redaksi

RELATED NEWS