Saat LDK UNIMOF, Kadis Kominfo Sikka Ajak Mahasiswa Jadi Pemimpin Humanis

Redaksi - Minggu, 10 Mei 2026 14:24
Saat LDK UNIMOF, Kadis Kominfo Sikka Ajak Mahasiswa Jadi Pemimpin HumanisKadis Kominfo Sikka Even Edomeko menekankan bahwa kualitas klasik seorang pemimpin seperti cerdas, visioner, dan berintegritas tetap relevan dan penting. (sumber: HUMAS UNIMOF)

MAUMERE (Floresku.com) – Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika Kabupaten Sikka, Ferdinand Evensius Edomeko, mengajak mahasiswa Program Studi Administrasi Kesehatan Universitas Muhammadiyah Maumere (UNIMOF) untuk menjadi pemimpin yang humanis di tengah perkembangan teknologi digital dan kecerdasan buatan.

Ajakan tersebut disampaikan saat dirinya menjadi pemateri dalam kegiatan Latihan Dasar Kepemimpinan (LDK) bagi 120 mahasiswa Adminkes UNIMOF di lokasi wisata Bethesda Waiara, Sabtu (9/5).

“Guys, untuk jadi pemimpin hebat di era digital seperti sekarang, hemat saya seorang calon pemimpin haruslah humanis. Punya hati untuk memperhatikan semua orang yang dia pimpin,” kata Even di hadapan para peserta.

Menurutnya, perkembangan teknologi digital saat ini memang sangat membantu pekerjaan manusia. Namun di sisi lain, teknologi juga berpotensi membuat manusia semakin individualistis dan kurang peduli terhadap sesama.

Baca juga:

“Mengapa sikap humanis menjadi penting, strategis, dan tak bisa ditawar? Itu karena di zaman digital kini, nyaris semua orang bekerja dengan bantuan berbagai teknologi digital, yang di satu sisi mempermudah pekerjaan manusia, tapi di sisi lain membuat manusia asyik dengan diri sendiri dan makin kurang peduli dengan sesamanya,” jelasnya.

Ia menegaskan bahwa manusia tetaplah pribadi yang memiliki hati dan perasaan, sehingga seorang pemimpin tidak boleh kehilangan sisi kemanusiaannya.

“Padahal sesama kita masih manusia. Yang punya hati dan perasaan. Bukan seperti robot atau Dola dan Agnes si artificial inteligent. Karena itu pemimpin di era digital mesti seseorang yang bisa memerintah dengan hati,” ujar Even.

Even juga menekankan bahwa kualitas klasik seorang pemimpin seperti cerdas, visioner, dan berintegritas tetap relevan dan penting. Namun menurutnya, era kecerdasan buatan menuntut hadirnya pemimpin yang memiliki empati dan kepedulian sosial.

Pada sesi penyampaian materi, Even menggunakan metode diskusi kasus. Para mahasiswa diminta menemukan persoalan, menganalisis, lalu mencari solusi secara mandiri, sementara pemateri bertindak sebagai fasilitator yang membimbing proses berpikir peserta.

Di akhir sesi, Even merangkum hasil diskusi peserta dan mengaitkannya dengan nilai-nilai kearifan lokal masyarakat Flores.

“Misalnya ada ungkapan tutur doi-doi harang mawe-mawe. Arti harafiahnya: berbicaralah dengan lembut, dan hendaknya sabar, jangan lekas marah,” kata Even.

Menurutnya, filosofi lokal tersebut mengajarkan pentingnya memimpin dengan hati dan penuh kesabaran, terutama di tengah kehidupan modern yang membuat manusia semakin teralienasi dari dirinya sendiri.

Kegiatan pemaparan materi itu dimoderatori oleh dosen UNIMOF, Yoseph A.L. Keytimu. (SP-Silvia). ***

RELATED NEWS