SYARAT MEMPEROLEH PENGAMPUNAN DARI ALLAH
Redaksi - Sabtu, 12 September 2026 18:36
Ilustrasi Mat 18:21-35 (sumber: Katolikku.com)HOMILI: Minggu Biasa 24A: (Sir 27:30-28:9; Rom 14:7-9; Mat 18:21-35)

Oleh Pater Gregor Nule,SVD
Pengalaman menunjukkan bahwa betapa sulitnya manusia saling mengampuni secara tulus. Mungkin hanya Allah saja yang dapat mengampuni secara benar.
Tetapi, apakah benar demikian. Apakah mustahil bagi manusia mengampuni secara tulus?
Saya yakin tidak. Mengampuni orang yang telah menyakiti kita adalah hal yang mungkin bagi manusia. Saya sebutkan dua contoh. Pertama, paus Yohanes Paulus II mengampuni Ali Agca yang telah mencoba membunuhnya di lapangan Santo Petrus Roma. Paus mengunjunginya di penjara dan berbicara langsung dengannya.
Kedua, Nelson Mandela, mantan presiden dan pahlawan kemanusiaan dari Afrika Selatan. Dia pernah mengalami perlakuan yang sangat tidak manusiawi dan hukuman penjara secara tidak adil.
Setelah menjalani semuanya ia jujur mengakui di hadapan umum bahwa ia tidak pernah dendam atau benci terhadap orang-orang kulit putih yang telah menghukumnya. Ia mengampuni mereka dan ingin menjadi sahabat mereka. Tetapi, ia menolak secara tegas dan membenci sistem apartheid yang tidak adil yang menciptakan diskriminasi sosial dan membuat orang-orang kulit hitam di Afrika Selatan menderita.
Kitab Putra Sirakh dan Injil hari ini mengungkapkan alasan mendasar pengampunan yang harus kita berikan kepada orang lain, yakni karena Allah telah lebih dahulu mengampuni kita tanpa batas. Pengampunan kepada orang lain juga menjadi syarat mutlak untuk memperoleh pengampunan dari Allah apabila kita memohonkannya. Allah itu murah hati dan suka mengampuni, tetapi sekaligus maha adil. Allah rela mengampuni kita, tetapi kita wajib mengampuni orang lain.
Kitab Putra Sirakh menulis, “Ampunilah kesalahan sesama, niscaya dosa-dosamu pun akan dihapus juga, jika engkau berdoa”, (Sir 27:2). Siapa saja yang membalas dendam akan dibalas oleh Tuhan. Inilah pesan Tuhan yang selalu terpenuhi.
Yesus pun minta para muridNya untuk mengampuni tanpa batas. Yesus sungguh memahami kelemahan manusia. Tetapi, tidak cukup mengampuni seorang saudara hanya sampai tujuh kali.
Yesus menuntut para muridNya agar saling mengampuni. Para murid mesti berusaha selalu dan di mana pun mengampuni saudaranya tanpa menghitung-hitung jumlah, sebagai syarat untuk mendapatkan pengampunan dari Allah.
Itulah sebabnya hamba yang bertindak jahat terhadap sahabatnya yang berutang dalam jumlah kecil, mendapat hukuman dari tuannya, padahal dia sendiri sudah mendapatkan belas kasihan dari tuannya yang menghapus semua utangnya, .
Yesus berkata, “Demikian juga Bapa-Ku di surga akan berbuat terhadap kamu, apabila kamu masing-masing tidak mengampuni saudaramu dengan segenap hatimu”, (Mat 18:35).
Yesus menawarkan ajaran baru, yakni pengampunan yang terpancar dari kemurahan hati dan rasa belaskasihan yang berlimpah-limpah untuk memadamkan bara api kemarahan dan dendam kesumat.
Hari ini Yesus mengajak dan sekaligus menantang kita untuk mempraktekkan pengampunan atas dasar kasih. Kita diajak untuk mengampuni orang-orang dekat yang hidup bersama dan bekerja dengan kita: orangtua, anak, suami, isteri, rekan kerja, anggota KBG dan Lingkungan, tetangga dan anggota komunitas biara.
Mungkin pesan paus Fransiskus tentang pengampunan dalam keluarga bisa memberikan kita inspirasi.
Paus berkata,“Tidak ada satu keluarga pun yang sempurna. Tidak ada orang tua, bapak, mama dan anak-anak yang sempurna. Kita semua tidak sempurna. Tetapi, sering kita mengeluh satu sama lain, saling menuduh, mempersalahkan dan saling mengecewakan.
Jika terus-menerus demikian maka tidak pernah akan ada perkawinan dan keluarga yang aman, damai, sejahtera dan sehat tanpa latihan untuk saling mengampuni dan belajar untuk saling memaafkan. Sebab pengampunan adalah syarat utama bagi kesehatan hati dan perasaan serta kelangsungan hidup sebuah perkawinan dan keluarga. Tanpa pengampunan keluarga berubah menjadi arena terjadinya konflik-konflik dan kubangan penderitaan dan tangisan”.
Karena itu, dari kita dituntut niat luhur dan keputusan untuk saling mengampuni. Sebab barang siapa yang tidak mau mengampuni tidak akan memiliki kedamaian di dalam hati, ia jauh dari sesamanya dan juga jauh dari Allah. Sebab ia tidak akan mendapatkan pengampunan dari Allah.
Barang siapa yang tidak mengampuni akan mengalami rasa sakit di dalam hati-bathin yang tentu berakibat terhadap kesehatan tubuhnya. Ingatlah, pengampunan mendatangkan kegembiraan, sedangkan benci dan dendam mendatangkan kesedihan dan penyakit.
Pengalaman menunjukkan bahwa orang yang hidup dalam kebencian dan dendam kesumat mudah terserang gangguan tekanan darah dan serangan jantung.
Sebagai pengikut Kristus, mari kita berusaha membangun hidup bersama dalam semangat persaudaraan dan kekeluargaan, saling memahami dan mengampuni serta mau berdamai kembali dengan sesama dan orang-orang di sekitar kita. Ingatlah waktu hidup bersama di antara kita sangat singkat.
Semoga Tuhan Yesus memberkati kita selalu. Amen.
Kewapante, 13 September 2026 . ***

