TUMBUHKAN SABDA KEKAL DI LADANG HIDUP YANG SUBUR
Redaksi - Sabtu, 11 Juli 2026 12:14
Menabur benih Sabda Allah (sumber: Istimewa)HOMILI:Minggu Biasa XVA: Yes 55:10-11; Rm 8:18-23; Mt 13:1-23 (13:1-9)

Oleh Pater Gregor Nule SVD
Bacaan-bacaan suci hari ini mewartakan dan menarik perhatian kita kepada dua pesan pokok yakni benih Sabda dan tanah, tempat menabur dan menumbuhkan benih itu.
Point pertama yang perlu kita beri perhatian khusus adalah benih atau Firman Allah. Injil hari ini menegaskan bahwa penabur adalah Allah sendiri, dan sekaligus pemilik benih yang menabur di mana-mana dan kepada siapa saja.
Benih itu adalah Sabda Allah yakni ajaran dan kehendak Allah. Melalui para nabi, rasul dan utusanNya dari zaman ke zaman Allah menyatakan DiriNya, memperkenalkan ajaran dan kehendakNya kepada umat manusia.
Benih sabda itu mempunya daya atau kekuatan istimewa untuk bertumbuh, berkembang dan menghasilkan buah. Benih Sabda itu juga berdayaguna mengubah, membaharui, dan menghidupkan.
Melalui nabi Yesaya Allah berkata, “Firman yang keluar dari mulutKu, Ia tidak akan kembali kepadaKu dengan sia-sia,tetapi akan melaksanakan apa yang Kukehendaki, dan akan berhasil dalam apa yang Kusuruhkan kepadaNya,” (Yes 55:11).
Santo Paulus mengajak kita untuk memandang dan percaya kepada misteri inkarnasi, yakni Sabda Allah menjadi Manusia, dalam diri Yesus Kristus. Kehadiran Kristus punya daya menumbuhkan dalam hati manusia harapan akan pembebasan dan keselamatan yang bersifat paripurna.
Sabda Allah juga mampu mengubah cara pandang kita dalam menilai dan memaknai dunia, bukan sebagai tempat penuh kecemasan dan ketakutan, atau tempat di mana kita mengalami kutukan dan maut, karena Kristus telah membebaskan dunia dari kebinasaan.
Maka dunia adalah tempat di mana Allah membangun kerajaanNya dan menyatakan kehendakNya demi keselamatan umat manusia.
Hal kedua yang patut mendapat perhatian istimewa adalah tanah dan kondisi-kondisinya yang memungkinkan bertumbuh dan berkembangnya benih Sabda ilahi.
Ada empat jenis tanah dengan kondisinya masing-masing. Jenis tanah pertama, kedua dan ketiga menampilkan kondisi yang tidak bersahabat dan tidak cocok yakni tanah yang keras, penuh kerikil, bebatuan, semak duri dan akar serabut yang mematikan. Keadan tanah demikian tidak memungkinkan benih dapat bertumbuh dan berkembang secara baik, apalagi bisa menghasilkan buah.
Namun, jenis tanah keempat itu gembur, subur, bersih, bebas dari batu-batuan dan akar-akar, yang memungkinkan benih itu tumbuh subur dan menghasilkan buah, dalam jumlah berbeda-beda.
Dalam perumpamaan ini Yesus mau berbicara tentang empat tipe kelompok manusia yang mendengarkan pengajaran dan pewartaanNya. Tiga kelompok pertama punya hati yang keras, kasar, tertutup, penuh kecurigaan dan kebencian. Mereka ini adalah umumnya orang-orang Farisi, ahli taurat dan para imam.
Kelompok orang ini datang kepada Yesus hanya untuk mendapatkan keuntungan sesaat, seperti sembuh dari sakit, bebaskan diri dari rasa lapar dan haus, bebaskan diri dari kuasa setan dan penyakit yang menakutkan.
Setelah semua masalah teratasi, serta harapan dan kebutuhan terpenuhi, mereka meninggalkan Yesus dan tidak peduli akan Sabda dan kehendakNya, bahkan mereka berbalik memusuhi Yesus dan ajaranNya.
Inilah tipe orang yang memiliki iman asal-asalan, suam-suam kuku, iman yang bersifat sementara dan musiman tanpa komitmen apa pun.
Kenyataan ini menunjukkan bahwa tampaknya misi pewartaan Yesus gagal total. Hampir semuanya sia-sia, tidak berguna dan sungguh mengecewakan.
Hal serupa mungkin dialami juga oleh Gereja di zaman sekarang. Ada sejumlah umat yang memiliki iman musiman, yang muncul dan hilang lagi pada saat-saat tertentu dan penuh perhitungan untung-rugi. Orang-orang seperti ini menjumpai Tuhan dan berdoa pada saat-saat seperti sakit, susah, menghadapi masalah dan kesulitan hidup atau ketika merayakan sebuah peristiwa penting dalam hidup.
Saat-saat lain mereka hidup seolah-olah tidak ada Tuhan dan agama, tanpa komitmen dan ikatan apa pun dengan Gereja. Mungkin ini juga menjadi tanda kegagalan karya penaburan dan pewartaan Gereja.
Meski demikian, ada jenis tanah keempat yakni tipe manusia yang punya hati terbuka dan disposisi bathin yang siap untuk menumbuhkan dan mengembangkan benih sabda Allah.
Benih itu tumbuh, berkembang dan bertahan menghasilkan buah atau hasil yang menggembirakan: seratus kali lipat, enampuluh kali lipat dan tigapuluh kali lipat.
Memang keberhasilan itu tidak seluruhnya seratus persen. Hal itu mau menunjukkan misteri karya pewartaan dan kuasa Sabda Allah untuk menyelamatkan umat manusia.
Allah dan karyaNya tidak pernah gagal total, sia-sia belaka, dan hilang tanpa bekas, melainkan menghasilkan buah kegembiraan, damai sejahtera, cinta kasih, keadilan, kebenaran, persahabatan dan persaudaraan.
Karya pewartaan Sabda Allah tentu meninggalkan jejak dan pesannya yang berdaya mengubah dan membaharui hati, hidup, sikap dan perilaku manusia menjadi lebih baik, mencerminkan kehendak Allah dan memancarkan nilai-nilai Injili dalam hidup sehari-hari.
Karena itu, Yesus mengajak kita, anak-anak, remaja, orang muda, dewasa dan lanjut usia, untuk menyiapkan seluruh diri dan hidup sebagai ladang yang siap untuk ditaburi benih sabdaNya.
Kita menyiapkan ladang hati, diri, hidup dan lingkungan yang subur dan bersih, bebas dari segala jenis semak belukar, kerikil, batu-batuan dan akar kejahatan, kebencian, iri hati, permusuhan, pertengkaran dan sikap ingat diri. Sebab dari kita diharapkan buah-buah yang terungkap lewat sikap hidup yang baik dan benar, tutur kata yang menyejukkan dan perilaku yang membangun.
Semoga Tuhan Yesus memberkati kita selalu! Amen.
Kewapante, 12 Juli 2026. ***

