Tunangan Berakhir di Hotel, Adat Harus Ditegakkan

Redaksi - Kamis, 14 Mei 2026 07:46
Tunangan Berakhir di Hotel, Adat Harus DitegakkanEmpat Hari Bertunangan, Kisah Cinta 9 Tahun Berakhir di Hotel: “Adat Harus Tetap Ditegakkan” (sumber: Ilustrasi AI)

CINTA  yang dibangun bertahun-tahun tidak selalu berakhir di pelaminan. Ada kisah yang dimulai dengan harapan sehidup semati, tetapi berakhir dengan luka, kecewa, dan air mata. 

Itulah yang dialami Endy dan Elen, pasangan muda di Maumere yang harus mengakhiri hubungan mereka hanya empat hari setelah resmi bertunangan.

Selama sembilan tahun, hubungan Endy, seorang pegawai leasing, dan Elen, pegawai Bank NTT, berjalan penuh kebahagiaan. Keduanya dikenal sebagai pasangan harmonis yang telah lama saling mendukung dalam pekerjaan maupun kehidupan pribadi. 

Pada April 2026, mereka akhirnya sepakat membawa hubungan itu ke jenjang yang lebih serius.

Tanggal 26 April 2026 menjadi hari bahagia bagi kedua keluarga. Endy datang meminang Elen dan menyematkan cincin tunangan di jari manis perempuan yang diyakininya akan menjadi pendamping hidupnya. 

Sesuai adat masyarakat Sikka, proses hantaran barang adat dan pembicaraan belis kemudian dijadwalkan berlangsung pada 30 April 2026.

Namun malam adat itu justru menjadi awal dari runtuhnya semua harapan.

Saat keluarga besar berkumpul membahas rencana pernikahan, Elen tidak hadir. Alasannya sederhana: masih bekerja lembur karena harus tutup buku di kantor. Penjelasan itu diterima baik oleh keluarga dan juga Endy.

Baca juga:

Tetapi menjelang malam, kecemasan mulai muncul.

“Awalnya sekitar pukul delapan malam saya masih bisa menghubunginya. Tapi lewat jam sembilan, handphone-nya sudah tidak aktif. Sebagai tunangan dan calon suami, saya mulai merasa tidak tenang,” tutur Endy.

Firasat buruk perlahan datang. Ia kemudian menghubungi keluarga dan teman-teman dekat Elen untuk mencari tahu keberadaannya. Kakak kandung Elen, Lisa, ikut membantu melakukan pencarian.

Informasi dari salah satu teman perempuan Elen membuat suasana semakin tegang. Temannya menyebut Elen terkadang memilih menginap di hotel ketika sedang stres atau ingin menyendiri.

Malam itu juga, pencarian dimulai.

Endy bersama Lisa menyisir sejumlah hotel di wilayah timur Kota Maumere, sementara rekannya, Patriks, mencari di kawasan barat kota. Tak lama kemudian, telepon dari Patriks membuat dada Endy sesak.

Motor milik Elen ditemukan terparkir di Hotel Mathilda.

“Saat dengar motor Elen ada di hotel, pikiran saya langsung kacau. Saya merasa sesuatu yang buruk pasti sudah terjadi,” kata Endy dengan nada kecewa.

Ia bersama Lisa segera menuju hotel tersebut. Namun ketika meminta izin kepada pihak resepsionis untuk masuk mencari, permintaan mereka ditolak. 

Endy akhirnya memilih menunggu di luar hotel dengan perasaan campur aduk.

Hingga sekitar pukul tiga dini hari, penantian itu akhirnya menjawab semua kecemasan.

Elen keluar dari hotel. Tetapi ia tidak sendiri.

Perempuan yang baru empat hari sebelumnya menerima cincin tunangan itu terlihat bersama seorang pria lain.

“Saya marah, bingung, malu, dan sangat kecewa. Baru empat hari kami bertunangan, tapi saya harus melihat sendiri calon istri saya keluar hotel bersama laki-laki lain,” ujar Endy.

Malam itu juga, keluarga besar langsung berkumpul dan memutuskan pertunangan harus dibatalkan.

Keesokan harinya, keluarga Endy bersama para delegasi adat mendatangi keluarga Elen untuk menyampaikan keputusan resmi pembatalan hubungan sekaligus meminta pengembalian seluruh barang adat dan cincin tunangan.

Dalam tradisi adat Sikka, pihak yang dianggap melakukan kesalahan dalam proses pertunangan wajib mengembalikan hantaran adat dua kali lipat sebagai bentuk tanggung jawab moral dan penghormatan terhadap martabat keluarga.

“Kami meminta pengembalian sesuai adat yang berlaku. Karena dalam adat Sikka, jika ada pihak yang tidak setia setelah pertunangan, maka ada kewajiban adat yang harus dipenuhi,” ujar Kumeng, delegasi keluarga Endy.

Menurutnya, peristiwa yang terjadi bukan hanya menyangkut hubungan dua orang, tetapi juga menyentuh harga diri keluarga besar.

“Perbuatan itu mencoreng nama baik keluarga dan menjadi kekecewaan besar. Meja adat adalah meja sakral yang menghadirkan Tuhan, leluhur, dan kehormatan keluarga,” katanya tegas.

Awalnya, keluarga Elen disebut menyepakati pengembalian adat pada 10 Mei 2026. Namun janji itu tidak terealisasi. Berbagai alasan muncul hingga akhirnya keluarga Endy membawa persoalan tersebut ke pihak kelurahan untuk penyelesaian secara adat dan kekeluargaan.

Pada 13 Mei 2026, keluarga Elen kembali menghubungi pihak Endy dan meminta delegasi datang mengambil barang-barang adat di rumah mereka di Waility. Pengembalian akhirnya dilakukan, meskipun tidak sepenuhnya sesuai ketentuan adat yang diharapkan keluarga Endy.

“Kami menerima semuanya walaupun tidak sesuai dengan adat yang seharusnya dijunjung tinggi. Yang paling penting, persoalan ini sudah selesai secara keluarga,” ujar Bapak Esta, orang tua Endy, dengan nada kecewa.

Baca juga:

Di tengah luka dan rasa malu yang ia alami, Endy memilih menerima kenyataan dengan lapang dada. Ia percaya semua yang terjadi merupakan bagian dari rencana Tuhan.

“Saya memang kecewa dan malu. Tapi saya percaya Tuhan punya rencana yang lebih baik. Mungkin Elen memang bukan jodoh saya. Saya yakin suatu saat Tuhan akan mempertemukan saya dengan tulang rusuk yang sebenarnya,” katanya sambil tersenyum tipis di hadapan keluarga besarnya.

Bagi keluarga Endy, kisah ini bukan sekadar tentang cinta yang kandas. Ini adalah pengingat bahwa dalam budaya masyarakat Sikka, pertunangan bukan hanya ikatan dua insan, melainkan juga janji kehormatan antara dua keluarga besar yang harus dijaga dan dihormati. (herry fdz)

RELATED NEWS