Wali, Komponis dan Pencinta Budaya Lokal Itu Telah Berpulang
redaksi - Selasa, 17 Februari 2026 17:42
Sirilus Wali (sumber: File Floresku.com)MBAY (Floresku.com) - Cintanya akan musik dan budaya lokal begitu menggelora. Makanya, setiap kali ada peristiwa budaya dan kegiatan berseni , baik di kampung halamannya, Ndangakapa maupun di Kota Kupang, Sirilus Wali -akrab disapa Wali- pasti menyempatkan diri menelpon ke redaksi Floresku.com dan mengobrol lama dalam bahasa Nga'o, dialek Ute.
Salah satu hal yang selalu saja ia usulkan adalah mendokumentasikan cerita-cerita lokal dan membuat Kamus Bahasa Ute.
“Ayo kita mulai, biar generasi muda Ute tidak melupakan akar budaya mereka.” Begitu kira-kira ucapan yang selalu ia ulangi kala mengobrol.
Beberapa bulan tak saling berkontak, siang ini terbetik kabar yang mengejutkan: Wali (61) menutup ziarah hidupnya, di RSUD Aeramo, Mbay, Selasa siang, 17 Februari 2026, hanya dua pekan setelah HUTnya yang ke-61.
Wali, seorang pribadi yang sederhana dan rendah hati hingga akhir hayatnya. Pembawaanya tak banyak berubah dari masa kanak-kanak dan remaja muda selama di Kampung Ndangakapa dan di SDK Malasera.
Ia cerdas secara akademik, terampil dalam berbagai bidang olahraga, termasuk sepak bola.
Dan, yang luar biasa, ia memiliki bakat musik yang besar. Terbukti, sejak masih duduk di bangku Sekolah Dasar ia sudah mejadi gitaris pada kelompok band ‘Masa Muda’, sebuah band kampung yang sering diundang tampil di berbagai acara pesta di sejumlah kampung tetangga.
Tak mengherankan, ketika menjadi dewasa muda, Wali bertumbuh menjadi komponis yang handal.
Selanjutnya, ia rajin dan setia menuliskan denyut kebudayaan lokal, Nusa Tenggara Timur ke dalam lagu-lagu sederhana namun bermakna.

Ia bukan sekadar pencipta musik, melainkan penjaga ingatan kultural yang mengolah tradisi lokal, iman, dan pengalaman sosial menjadi bahasa musikal yang dapat dinyanyikan bersama.
Wali lahir pada 4 Februari 1965 di Kampung Ndangakapa, Kecamatan Nangapanda, Kabupaten Ende. Ia tumbuh dalam lingkungan yang akrab dengan nyanyian rakyat, musik gereja, serta ritme kehidupan desa yang bersahaja.
Dari ruang-ruang itulah sensibilitas estetiknya terbentuk: musik bukan sekadar seni pertunjukan, tetapi sarana merawat relasi sosial, iman, dan identitas.
Pendidikan formal membawanya ke Universitas Katolik Widya Mandira Kupang, jurusan Sendratasik (Seni Drama, Tari, dan Musik). Sebelumnya ia menempuh pendidikan dasar hingga menengah di SDK Malasera, SMPN Nangaroro, dan SPGK Frateran Ndao.
Latar ini mempertemukan dua dunia: tradisi lokal dan disiplin akademik seni. Perjumpaan itulah yang kemudian membentuk gaya khas karya-karyanya—etnik, namun tidak terjebak romantisme; sederhana, tetapi kaya makna emosional.
Dalam perjalanan kariernya, Wali lebih dikenal sebagai pendidik daripada figur panggung. Ia mengajar di beberapa sekolah menengah di Kupang, antara lain SMA Katolik Giovani dan SMAN 11 Kupang.
Baca juga:
Namun di balik ruang kelas, ia produktif menciptakan lagu-lagu yang hidup di ruang sosial masyarakat: mars sekolah, himne instansi, lagu rohani liturgis, hingga pop daerah dan nasional. Musik baginya bukan komoditas, melainkan medium pelayanan kultural.
Ciri utama karya-karya Wali terletak pada keberpihakannya pada identitas lokal. Ia kerap mengangkat tema cinta tanah kelahiran, kehidupan sosial, iman, dan nilai moral masyarakat NTT.
Bahasa daerah maupun bahasa Indonesia digunakan secara seimbang, seolah ia sedang menjembatani generasi tua dan muda. Melodinya tidak rumit, tetapi kuat secara emosional—mudah dinyanyikan bersama, mudah diingat, dan mudah menyentuh perasaan kolektif.
Beberapa karyanya menjadi bagian dari ritus sosial. Lagu-lagu Natal seperti Yesus Sudah Lahir sering dibawakan dalam misa gerejawi dan perayaan komunitas. Ia juga dikenal luas melalui lagu-lagu mars, salah satunya Mars Perempuan PGRI yang masuk nominasi sepuluh besar lomba cipta lagu tingkat nasional PGRI.
Dalam konteks lokal, lagu-lagu semacam ini bukan sekadar simbol seremonial, tetapi sarana membangun rasa memiliki terhadap institusi dan komunitas.
Prestasinya tidak datang dalam bentuk popularitas massal, melainkan pengakuan fungsional. Ia meraih peringkat enam besar lomba cipta lagu mars tingkat nasional, menerima penghargaan atas lagu gerejawi Santo Yoseph Pekerja dari Paroki St. Yoseph Pekerja Penfui Kupang, serta sejumlah penghargaan lain di tingkat provinsi dan nasional. Dua karya ciptaannya—salah satunya dikerjakan bersama putrinya—juga memperoleh pengakuan resmi.
Baca juga:
Yang menarik, Wali tidak memonopoli panggung kreativitas untuk dirinya sendiri. Ia justru dikenal sebagai pembimbing generasi muda, terutama putrinya, Veronika Angel Maria Wali.
Angel beberapa kali meraih juara lomba cipta lagu di berbagai tingkat, sebuah bukti bahwa kreativitas Sirilus tidak berhenti pada produksi karya, tetapi berlanjut sebagai transfer pengetahuan dan inspirasi lintas generasi.
Di tengah dunia musik yang semakin komersial, sosok Wali mewakili tipe seniman yang kian langka: seniman komunitas. Ia tidak mengejar industri, tidak memburu panggung besar, tetapi memilih membangun makna di ruang-ruang kecil—sekolah, gereja, kampung, dan kegiatan budaya.
Musik baginya adalah bagian dari kehidupan sosial, bukan produk hiburan semata.
Kabar terbaru menyebutkan bahwa jenazah Wali tidak dimakamkan di kampung kelahirannya, Ndangakapa, melainkan dipulangkan ke Kupang untuk prosesi pemakaman.
Keputusan ini memiliki makna simbolik yang kuat. Jika Ndangakapa adalah tempat ia dilahirkan, maka Kupang adalah ruang di mana ia membaktikan hidupnya sebagai pendidik dan seniman. Tubuhnya kembali ke kota, tetapi nadanya telah lebih dulu menyebar ke seluruh kampung di NTT.
Dalam kematian pun, perjalanan Wali mencerminkan hidupnya: bergerak di antara kampung dan kota, antara tradisi dan pendidikan, antara iman dan kebudayaan.
Jika sudah final tekad keluarga membawanya kembali ke Kupang, maka ia memang tidak pernah kembali ke tanah kelahiran secara fisik, tetapi karya-karyanya telah lebih dulu pulang ke sana—dinyanyikan oleh orang-orang yang bahkan mungkin tidak pernah mengenal namanya, tetapi merasakan makna dalam melodinya.
Kepergiannya bukan hanya kehilangan pribadi bagi keluarga, kerabat, para sahabat dan murid-muridnya, tetapi juga kehilangan kultural bagi NTT.
Wali adalah salah satu dari sedikit komponis daerah yang konsisten merawat ingatan kolektif melalui lagu. Ia membuktikan bahwa musik lokal tidak harus terjebak dalam nostalgia, tetapi bisa menjadi bahasa hidup yang terus berbicara kepada zaman.
Kini, nadanya telah pulang. Tubuhnya kembali ke Kupang. Namun lagu-lagunya akan tetap hidup di gereja-gereja, sekolah-sekolah, dan perayaan budaya—sebagai jejak sunyi dari seorang pendidik yang memilih menulis sejarah bukan dengan sorotan, melainkan dengan melodi.
Selamat Jalan, Wali! RIP. (map). ***

