Darah di Kursi Siswi Kelas 2 SD Maumere dan Dugaan Kekerasan Seksual

redaksi - Jumat, 03 April 2026 22:06
Darah di Kursi Siswi Kelas 2 SD Maumere dan Dugaan Kekerasan SeksualKursi dengan vercak darah (sumber: Silvia)

MAUMERE (Floresku.com)– Peristiwa misterius yang melibatkan seorang siswi sekolah dasar di Maumere menghebohkan warga. Kejadian ini berlangsung di sebuah SD di Kecamatan Alok Barat pada Senin, 30 Maret 2026, dan kini memunculkan dugaan serius terkait tindakan pelecehan terhadap anak.

Siswi kelas 2 berinisial A (8 tahun) awalnya mengaku terjatuh di depan sekolah. Pagi itu, sang ayah mengantarnya seperti biasa sekitar pukul 06.30 WITA. Jarak rumah ke sekolah hanya sekitar lima menit menggunakan sepeda motor. Ia menurunkan anaknya di depan kios dekat sekolah, sempat berbincang dengan penjaga sekolah, lalu pulang tanpa firasat apa pun.

Namun, situasi berubah di dalam kelas. Seorang teman A yang datang lebih awal untuk membersihkan ruangan mendapati A sudah duduk di kursi plastik hijau dengan kedua kaki diangkat ke atas sambil memegang kertas. Saat ditegur karena tidak ikut membersihkan kelas, A berdiri. Saat itulah darah terlihat menetes ke lantai.

A kemudian berusaha menghapus darah tersebut menggunakan kertas yang disobek dari buku miliknya. Peristiwa ini langsung menarik perhatian siswa lain. 

Seorang siswi yang merupakan sepupu korban kemudian mengajak A ke toilet untuk membersihkan diri. Namun di sana, darah disebut terlihat cukup banyak hingga akhirnya seorang siswa lain melaporkan kejadian itu kepada guru.

Baca juga:

Operator sekolah, yang dikenal sebagai Ibu M, mengaku tidak mengetahui kejadian awal. Ia baru mengetahui saat seorang guru perpustakaan berlari sambil menggendong A dan meminta agar segera dibawa ke rumah sakit.

 “Saya diminta siapkan uang untuk biaya pengobatan. Kami langsung ke rumah sakit bersama wali kelas,” ujarnya.

Di rumah sakit, hasil pemeriksaan medis justru memunculkan dugaan serius. Menurut keterangan yang disampaikan, dokter menyebut luka yang dialami korban tidak menunjukkan tanda-tanda akibat jatuh biasa. 

“Dokter bilang, kalau jatuh pasti ada luka lain. Ini murni dugaan pelecehan karena tidak ada luka lain,” ungkapnya.

Ketua komite sekolah yang ditemui di rumahnya di kawasan Kampung Garam mengatakan bahwa ia mengetahui peristiwa tersebut dari cerita warga. Ia kemudian mendatangi sekolah untuk memastikan kejadian. 

Dari penelusuran awal, kronologi yang disampaikan pihak sekolah dan keterangan anak dinilai berbeda.

“Anak itu selalu bilang dia jatuh. Tapi berdasarkan hasil pemeriksaan dokter, itu bukan benturan. Ada dugaan pelecehan,” ujarnya.

Pihak sekolah dan keluarga disebut telah melaporkan kasus ini ke lembaga perlindungan perempuan dan anak, dan berharap segera mendapat penanganan, termasuk pendampingan psikologis bagi korban. Hingga kini, pelaku belum diketahui dan kasus masih dalam proses penanganan.

Ketua RT setempat menyatakan kecaman keras jika dugaan tindakan asusila tersebut terbukti benar. Ia menilai kasus ini harus segera dilaporkan ke pihak kepolisian agar pelaku dapat ditangkap dan diproses hukum.

Sementara itu, orang tua korban mengaku sangat terpukul. Ia menyampaikan kesedihan dan kekecewaannya atas kejadian yang menimpa anaknya. 

“Saya antar anak saya dalam keadaan sehat, tapi pulang dengan kondisi seperti ini. Kalau benar ini terjadi di sekolah, berarti sekolah sudah tidak aman lagi bagi anak-anak,” ujarnya dengan nada emosional.

Kasus ini kini menjadi perhatian serius masyarakat Maumere, yang mendesak adanya penyelidikan menyeluruh untuk mengungkap fakta sebenarnya dan memastikan keadilan bagi korban. (Silvia)

RELATED NEWS